Kopi giras khas Jawatimuran di warung kopi Blandongan, Yogyakarta.
Alangkah susahnya mencari kopi model begini di Solo. Orang-orang di kampung saya di Lamongan, Jawa Timur, sana menyebut kopi ini sebagai kopi giras. Konon katanya, kopi jenis ini pertama kali populer di Gresik.
Giras sendiri kabarnya mengacu kepada nama suporter Petrokimia Gresik yaitu Kebo Giras (kebo penuh semangat). Namun ada juga yang bilang, giras merupakan akronim dari “legi” dan “keras”, merujuk pada karakter kopi ini yang kental, pahit, dan sedikit legit.
Di Jogja, warung yang nyediain kopi jenis begini bejibun jumlahnya–tapi area seputar UIN Sunan Kalijaga yang menjadi pusatnya. Warung kopi Blandongan (BLD) bisa dibilang sebagai yang paling populer di zamannya, kalau sekarang yang banyak cabangnya sih Kafe BasaBasi ✌️ cakdrun
Kembali ke Solo. Sejak pertama kali ditempatkan di kotanya Persis ini, saya sudah berangan-angan bakal mudah menemukan jenis warung kopi mirip BLD di sini.
Tapi sayang, harapan tinggal harapan, yang ada malah kedai-kedai kopi “so called” kekinian yang “Jakarta Banget”. Saya mencari di sekitar UMS, nggak nemu. Di sekitar UNS juga nggak nemu. Di sekitar IAIN, ya Allah, cek aduhe rek.
Saya bukannya ndak masuk dengan model kopi-kopi kekinian begitu. Tapi, kalau ada klasifikasinya, saya mungkin model salafi dalam hal ngopi, di mana saya lebih masuk nyecep kopi giras dibanding kopi yang pake takaran-takaran itu. Ya mau bagaimana lagi, ilat saya sudah terbiasa dengan model yang begitu.
Walau begitu, saya model salafi yang mau menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Karena tak kunjung nemu kopi giras di Solo, saya jadinya nyari tempat ngopi yang menurut saya enak buat ngetik dan baca buku.
Kalau belakangan ini saya sering ngopi di Thamrin Coffe yang jaraknya enggak begitu jauh dari tempat kerja saya. Pesanan favorit saya es americano yang nggak perlu dipres pake plastik atasnya. Bagaimanapun juga, minum kopi pake sedotan, walaupun itu es kopi, rasanya agak aneh. Kekekeke ✌️
Beberapa saat yang lalu saya sempat n-DM Pak Edi pemilik Kafe BasaBasi, tanya apakah bakal membuka warung kopi sejenis warung kopi miliknya di Solo apa enggak, secara warung kopinya di Jogja buwanyak puwol, dan alhamduliah belio kasih kabar bahagia tapi entah kapan realisasinya. Semoga secepatnya.
Warga Desa Sigedong, Tretep, Temanggung, Jawa Tengah. Dari nenek-nenek sampai bayi makannya nasi jagung | Mohabibasyhad
Menjelang pengangkatan sebagai karyawan tetap di pertengahan 2015 lalu, saya mendapat beberapa penugasan liputan di Jogja dan Jawa Tengah. Selain mendatangi sebuah desa terpencil di Kabupaten Temanggung bernama Sigedong untuk tema Ketahanan Pangan, saya juga berkesempatan dolan ke Situs Liyangan yang lokasinya tak jauh dari desa tersebut.
Oh iya, di momen itu saya juga berkesempatan melakukan wawancara dengan sutradara yang namanya sekarang begitu dikenal: Yosep Anggi Noen.
Berkunjung ke Desa Sigedong begitu membekas bagi saya. Saya harus naik-turun bukit untuk sampai ke desa yang sebagian besar penduduknya menjadikan jagung sebagai makanan pokoknya itu. Dari mereka saya juga belajar soal ketahanan pangan yang sebenar-benarnya.
Ini catatan saya tentang desa tersebut–yang juga sudah tayang di Majalah Intisari edisi Juni 2015.
***
Jagung punya posisi istimewa bagi masyarakat Desa Sigedong, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tak sekadar pakan ternak, jagung adalah makanan pokok di desa itu.
Siang itu jalanan di Desa Sigedong yang di beberapa bagiannya berlubang-lubang terlihat sangat lengang. Hanya ada satu-dua orang yang terlihat sibuk menyiangi ladang yang sudah mulai ditanami tembakau, maklum sudah musimnya. Hari itu, sebagian besar warga Desa Sigedong berbondong-bondong pergi ke kantor kecamatan; sedang ada pembagian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).
Balsem, begitu mereka menyebut jenis bantuan itu.
Sekilas, Desa Sigedong tidak berbeda dengan desa-desa dataran tinggi lainnya. Rumah berdiri jarang-jarang, batas antara pekarangan dan tegalan tidak jelas, dan jalanan yang berkelok dan naik-turun.
Tapi jika diperhatikan lebih dalam, ada satu hal khas dan serempak yang bisa ditemukan di hampir setiap rumah yang ada di desa yang terletak di ketinggian 1.210 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu: tumpukan tebon yang sudah mengering.
Benar, Sigedong adalah satu di antara beberapa wilayah penghasil jagung terbesar di Temanggung yang pada 2013 produksinya mencapai 139.394 ton.
Jagung, bagi orang-orang Sigedong, tidak sekadar sebagai pakan ternak, tapi lebih dari itu. Bagi masyarakat Sigedong, seluruh elemen jagung memiliki manfaat. Daunnya untuk pakan ternak, bijinya untuk bahan makanan pokok (sekelan), sementara tongkol dan pohonnya berfungsi sebagai kayu bakar.
Jagung adalah makanan pokok sehari-hari masyarakat Desa Sigedong. Posisinya sejajar dengan beras di tempat-tempat lain. Sekadar informasi, Desa Sigedong adalah satu dari sedikit anomali perihal persoalan makanan pokok di Indonesia, khususnya di Jawa.
Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras bisa dibilang cukup kronis. Bisa dibilang, Indonesaia adalah negara dengan konsumsi beras tertinggi di dunia. Data Kementerian Pertanian 2010 menunjukkan, konsumsi beras di Indonesi jauh di atas Malaysia dan Thailand yang masing-masing tingkat konsumsi berasnya adalah 80 kg per kapita dan 70 kg kg per kapita. Jauh juga di atas konsumsi rata-rata dunia yaitu 60 kg per kapita.
Suswono (Menteri Pertanian periode 2009 – 2014), pada 2014 mengatakan, konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai lebih dari 130 kilogram per kapita. Angka itu dapat kita tafsirkan dengan, saban harinya, masyarakat Indonesia mengonsumsi beras sekitar 900 gram.
Data lainnya menyebut, pada 2013, lebih dari 78 persen masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya pada beras. Coba bandingkan dengan yang terjadi pada 1954, di mana hanya 53 persen masyarakat Indonesia yang makan beras. Itu artinya, ada lompatan yang cukup signifikan.
Kantor kelurahan Desa Sigedong | Mohabibasyhad
Tanpa jagung baru masalah
Secara administratif, Desa Sigedong terletak di Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung.
Kecamatan Tretep sendiri terhitung baru. Dulu ia adalah bagian dari Kecamatan Wonoboyo, tapi setelah adalah adanya pemekaran di Temanggung di awal 2000-an, Tretep menjadi kecamatan sendiri.
Desa Sigedong berada di lereng utara Gunung Sindoro. Desa ini berjarak sekitar 5 km dari ibu kota kecamtan dan 52 km dari ibu kota Kabupaten Temanggung. Kondisi ini menjadikan Sigedong sebagai desa yang sangat terpencil sementara akses ke sana sangat terbatas. Hanya ada beberapa mobil pick up terbuka yang biasa mengangkut masyarakat yang hendak hilir mudik ke daerah-daerah sekitar, tapi itu pun tidak beroperasi sepanjang hari.
Sebanyak 1666 penduduk, terdiri atas 350 kepala keluarga, tinggal di desa dengan luas 277 hektar ini. Luas itu sendiri sudah meliputi bangunan, pekarangan, tegalan, ladang, huma, hutan rakyat, dan perkebunan negara/rakyat. Sebagai desa yang terletak di dataran tinggi, Sigedong adalah penghasil sayur-sayuran, juga kopi berjenis robusta. Meski demikian, tanaman “utama” desa ini adalah jagung dan tembakau.
“Jika tembakau—jenis temloko—berperan sebagai sumber uang terbesar, jagung adalah sumber makanan pokok. Keduanya ditanam secara selang-seling, sementara kopi adalah tanaman tahunan yang sering berfungsi sebagai penahan agar tanah tidak erosi,” ujar Sarjeh, Kepala Urusan Umum (KAUR Umum) Desa Sigedong. Tapi dia membuat penekanan, “Tanpa uang kami tidak terlalu masalah, tapi jika tidak ada empan, sekelan, itu baru masalah.”
Kalimat terakhir tentu saja disampaikan dengan sedikit berkelakar.
Nasi jagung Desa Sigedong tak ubahnya nasi jagung yang ada di tempat lain. Pun dengan cara membuatnya.
“Yang membuatnya berbeda adalah perannya. Di sini nasi jagung adalah makan pokok sementara di tempat lain masih berperan sebagai makanan kedua,” lanjut pria 40 tahun itu.
Apa yang diutarakan oleh Sarjeh diamini oleh Mujahidin, Kepala Desa Sigedong. Dia bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang berkaitan dengan nasi jagung di Sigedong, termasuk membenarkan cerita Sarjeh soal penghargaan Ketahanan Pangan yang diterima desa itu pada 2009 silam.
Benar, pada 2009 lalu, Desa Sigedong pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Pertanian untuk kategori ketahanan pangan. Kepala Desa Sigedong waktu itu, Jariyah, secara khusus datang ke Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut. “Pialanya diserahkan langsung oleh Pak Boediono, Wakil Presiden (saat itu),” sebagai warga Sigedong, Sarjeh bangga.
Mayoritas masyarakat Sigedong adalah konsumen sekelan. Laki-laki dan perempuan, dari bayi-bayi yang baru lahir hingga orang-orang tua yang giginya tinggal dua, semuanya terbiasa dengan sekelan yang mereka simpan di dalam bagor-bagor yang ada di dapur rumah mereka.
Ssstttt…! Tapi mereka tidak alergi dengan beras biasa, lho…
Sarjeh misalnya, dia kerap makan nasi beras jika harus pergi ke luar Sigedong. Ke kota atau ketika sedang berada di warung yang kebetulan tidak menjual sekelan, misalnya. Tapi apa pun alasannya, Sarjeh mengaku bahwa sekelan memberinya tenaga lebih besar dibanding beras.
“Nasi jagung rasanya lebih anteng di perut, lebih cepat kenyang, badan juga lebih brigas, sementara kalau makan nasi beras saya merasa cepat ngelih,” Qomari, 58, salah satu Kebayan di Sigedong, tiba-tiba menyahut sembari menyalakan kretek lintingnya.
“Selain itu, saya juga pernah dengar dari seorang doktor (ilmu pangan) di UGM kalau beras jagung cocok untuk penderita diabetes.”
Tebon di depan rumah menjadi pemandangan yang lazim di Desa Sigedong | Mohabibasyhad
Yang diolah jagung lokal
Jagung yang biasanya digunakan sebagai bahan sekelan adalah jenis jagung lokal yang memiliki biji putih kecil-kecil. Jagung ini biasa disebut flint corn alias jagung mutiara. Ciri khas jagung ini adalah bijinya berbentuk bulat, licin, mengkilap, dan keras.
Ada beberapa proses yang harus dilalui sebelum biji jagung tersebut resmi menjadi sekelan alias tepung jagung. Di Sigedong, setelah dipanen dan dipilih yang terbagus, jagung akan diletakkan di parang, sejenis tempat untuk mengeringkan jagung. Bukan dikeringkan di bawah terik mentari, jagung yang ada di dalam parang itu dipanasi dengan api, setelah itu baru dikupas dan dipipil.
Selanjutnya adalah proses nutu – di tempat lain disebut juga ngecrok, keduanya sama-sama proses memisahkan biji inti jagung dari kulit arinya. Setelah ditutu jagung digiling alias diselep menjadi tepung jagung. Inilah yang disebut sekelan yang akan dimasukkan ke dalam plastik besar, diikat, lantas disimpan di dalam bagor untuk dikonsumsi satu satu hingga tiga tahun ke depan.
Sekali lagi, mayoritas penduduk Sigedong adalah konsumen sekelan, tapi bukan berarti persoalan kebutuhan pokok selamanya lancar. Dari cerita yang dipaparkan oleh Qomari diketahui, tidak saban tahun panen jagung bisa berlangsung sesuai keinginan. “Tahun ini (2015) bisa 100 pikul, tahun besok hanya 50. Tidak tentu. Kadang tidak panen sama sekali karena satu-dua hal. Yang jelas, semakin banyak panen, semakin banyak sekelan yang bakal ditimbun nantinya.” Jika sedang beruntung, Qomari mengaku bisa menyimpan sekelan untuk tiga tahun ke depan.
Ada kalanya harga jagung tiba-tiba melonjak tidak terkontrol. Harga yang tinggi memang menguntungkan bagi penjual jagung, tapi tidak bagi beberapa warga Sigedong yang biasa nempur. Tidak semua warga Sigedong punya lahan jagung; belum lagi mereka yang gagal panen yang mau tidak mau harus menempur beras ke tetangganya yang lain.
Persoalan lain yang dihadapi masyarakat Sigedong adalah mesin penggiling. Seperti yang diutarakan oleh Kepala Desa Sigedong, Mujahidin, mesin penggiling yang menggunakan mesin diesel baru ada satu dan itu tentu saja itu sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan 350 kepala keluarga yang adai Sigedong.
“Selama ini mesin giling yang kami gunakan adalah mesin giling manual. Harapannya ada bantuan mesin giling diesel untuk mempermudah proses pembuatan sekelan,” tutur pria yang baru dua tahun menjadi Kepala Desa ini.
Sudah ada sekelan instan
Meski bukan konsumen utama jagung, pada sisi bisnis masyarakat di Dusun Mantenan, Desa Greges , Kecamatan Tembarak, selangkah lebih maju dibanding masyarakat Desa Sigedong. Isu ketahanan pangan yang digembor-gemborkan pemerintah dianggap sebagai sebuah peluang untuk memunculkan peluang bisnis. Mereka membuat sekelan instan. Di dusun yang terletak di lereng Gunung Sumbing itu terdapat sebuah pabrik pengolahan jagung skala rumahan, bernama Pandawa.
Pabrik tersebut didirikan oleh Pak Sabar pada 2013 silam. Jika sekelan di Sigedong berbentuk tepung, sekelan di Mantenan bentuknya mutiara. Secara umum, proses pembuatan sekelan di Mantenan tidak berbeda dengan sekelan yang ada di Sigedong. Meski demikian, di Mantenan lebih kompleks dan panjang.
Setelah Pak Sabar meninggal pabrik sepenuhnya dipegang oleh menantunya, Cecep, yang juga berprofesi sebagai seorang guru. Untuk menjalankan proses pengolahan, ada lima pekerja yang bekerja di pabrik sederhana itu.
Ada peraturan unik yang harus ditaati oleh para pekerja di pabrik pembuatan sekelan jagung instan itu: saat berada di pabrik, seluruh pekerja harus makan sekelan. Timah, salah satu pekerja di pabrik tersebut, mengaku, setiap hari ia harus masak dua kali: masak beras biasa untuk suami dan anak-anak di rumah dan masak sekelan untuk brkal dirinya di pabrik.
“Sebanarnya kami juga ingin mengajak anak-anak kami ikut mengonsumsi sekelan, tapi mereka sepertinya masih belum mau. Mereka juga masih menganggap bahwa nasi jagung itu makanannnya orang-orang kuni, orang-orang gunung,” tutur Timah.
Timah, begitu pun dengan rekan-rekannya di pabrik, memang punya mimpi; suatu saat, tidak hanya mereka, para orang tua, yang mengonsumsi nasi jagung tapi juga anak-anak mereka. Kita semua. Sehingga tidak lagi bergantung pada beras dan beras lagi.
Bollywood hanya butuh dua hari untuk membikin hati para penggemarnya hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak, dua pesohor industri film yang berpusat di Mumbai, Maharashtra, yang film-filmya saya tonton dan lagu-lagu ost. film-filmya saya dengarkan, meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan.
Irrfan Khan pertama-tama, pada 29 April 2020 di Kokilaben Dhirubhai Ambani Hospital and Medical Research Institute, Mumbai, karena infeksi ginjal; sehari kemudian giliran Rishi Kapoor, meninggal dunia di Sir H. N. Reliance Foundation Hospital, masih di Mumbai, yang memang sejak lama sudah berperang melawan leukemia.
Kok bisa-bisanya sih meninggal dunia bareng- bareng? Hambok giliran, atau diberi jeda gitu lho. Ya paling enggak kasih jarak sebulan-lah, biar kami-kami ini bisa menata hati buat ditinggal lagi.
Dibanding Rishi Kapoor, saya mengenal Irrfan Khan lebih belakangan. Itu pun bukab karena perannya di film-film India.
Pertama kali saya melihat Irrfan di Life of Pi (2012). Di situ dia berperan sebagai Pi dewasa. Saya melihat film itu melalui situs striming bajakan di kantor lama, di Kebun Jeruk, setelah sebelumnya lebih dulu membeli novelnya.
Setelah Life of Pi, saya memergokinya di Namesake (2006) garapan Mira Nair. Ketika itu saya melihatnya secara tak sengaja ketika berkunjung ke kontrakan Cacak saya di belakang Akademi Angkatan Udara (AAU) di Brebah, Sleman, sana.
Hingga kemudian saya berjumpa lagi dengannya di Haider (2014). Sejak itulah saya lebih intens mengikuti film-filmya. Muali dari Maqbool, lalu Billu Barber–yang ini sudah saya tonton lebih dari empat kali, lalu Talvaar, lalu Life in a … Metro, lalu 7 Khoon Maaf, Paan Singh Tomar, lalu Saheb Biwi Aur Gangster Returns, lalu Lunchbox, Piku, Madaari,Hindi Medium, dan Angrezi Medium.
Saya juga sudah menonton Slumdog Millionarie, tapi saya enggak ingat persis di situ ada Irrfan apa enggak. Qarib Qarib Singlle juga udah saya download dari situs ilegal tapi belum sempat saya tonton filmnya.
Rishi Kapoor dan Irrfan Khan dalam satu scene film
Rishi Kapoor, enggak tahu kenapa, saya sebenarnya kurang menyukai aktor satu ini. Teman-teman saya di kampung juga tampaknya begitu. Bagi kami Rishi Kapoor adalah aktor yang–kata orang desa kami — ngglembosi alias terlihat seperti enggak bersemangat untuk bergerak.
“Lakone sopo?”
“Onok gelute, gak?”
Begitu biasanya pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut kami sebelum menonton film India di TPI atau RCTI.
Kalau aktornya Mithun, Sanju, Jackie Shroff, atau Anil Kapoor, atau Akshay, atau Sunil, kami akan segera beringsut ke depan tivi. Aktor-aktor itu semacam jaminan bahwa film yang kami tonton akan seru, banyak gelut-nya, banyak tembakan-tembakannya, darah di mana-mana, dan seterusnya.
Tapi bila yang main Rishi Kapoor atau Govinda, rasanya kok malas-malas bagaimana begitu.
Film-film Govinda kadang ada juga berantemnya sih, tapi aktor kelahiran Desember 1963 itu, bagi kami, terlalu banyak cengengesannya. Sementara Rishi, jangankan berantem hingga berdarah-darah, meninju dan menendang saja dia wagu. Putra Raj Kapoor itu sama sekali enggak bisa gelut, nda~~~
Meski begitu, bukan berarti kami enggak punya kenangan indah sama sekali dengan Rishi Kapoor. Ya walaupun itu bukan dalam bentuk film.
Begini ceritanya:
Salah seorang dari teman MIM, yang bapaknya cukup sukses di Malaysia sehingga bisa membeli seperangkat tape JVC kualitet terbaik saat itu, ternyata baru saja membeli kaset Ost. Bol Radha Bol (1992). Saban kami bermain di rumahnya, di sela-sela lagu-lagu kasidah Nasida Ria yang menjadi favorit ibunya, kami juga disetelkan kaset India tadi. Berkali-kali. Sehingga kami begitu familiar dengan lagu-lagu di kaset tersebut. Terutama dua yang paling hit: “Tu Tu Tu Tu Tara” dan “Bol Radha Bol”. Khusus untuk “Tu Tu Tu Tu Tara” bahkan pernah dipakai buat tari di acara perpisahan TK ABA desa kami.
Setelah sekian lama “berpisah”, saya kembali berjumpa dengan Rishi Kapoor di beberapa tahun belakangan. Kali ini dia benar-benar bikin pangling. Rambutnya sudah memutih, badannya semakin tambun, dan peran-peran yang dia mainkan benar-benar lain dari yang pernah dia mainkan sebelum-sebelumnya.
Walau masih ada sisa-sisa ketampanan masa muda, tapi ini jelas Rishi Kapoor yang berbeda. Paling tidak bagi saya. Kalau tidak jadi penjahat ya jadi bapak-bapak tua putus asa dan kesepian yang terlalu banyak minum. Tonton saja akting-aktingnya di film-film seperti Kuch Khatti Kuch Meethi, Delhi-6, dan Agneepath.
Terkhusus di Delhi-6, saya paling suka aktingnya di film garapan Rakesh Omprakash Mehra ini, dibanding dengan film-filmya yang lain yang pernah saya tonton. Di film ini dia memang enggak berantem. Dia juga enggak berdarah-darah. Tapi perannya sebagai pencinta yang bertepuk sebelah tangan seolah menjadi antitesis peran-peran dia sebelumnya di mana dia begitu mudah mendapatkan cinta seorang wanita. Di film ini dia adalah seorang bujang lapuk yang enggak bisa move on dari cinta pertamanya yang sudah jadi istri sahabatnya.
Sayang, film ini enggak bisa menolong reputasi Rishi-ji di hati saya. Dia tetap saja aktor yang ngglembosi. Itulah mengapa saya belum bisa mencintainya laiknya artis-artis India lainnya, terutama yang sebayanya.
Tapi apa pun itu, jasa Rishi-ji bagi film India dan terkhusus bagi kami bocah-bocah kurang hiburan di pedalaman Pantura tak akan pernah terlupakan begitu saja. Selamat jalan, Rishi-ji!
Jangan tunda-tunda untuk memperkenalkan makanan rumahan kepada anak Anda (media.eggs.ca)
Saat berusia satu tahun, anak harus mulai dikenalkan dengan makanan keluarga yang mendukung tumbuh kembangnya. Banyak risiko jika si kecil telat mengenal makanan-makanan tesebut, salah satunya adalah pertumbuhan badan yang lambat.
——–
Di usianya yang ke-3, Attaradipka Altair, tampak sehat dan segar. Meski sedikit kurus, Attar jarang sakit. Yang paling membanggakan, di usianya yang belum genap 4, Attar sudah bisa memilih makanan sehat apa yang akan dia makan ketika berada di meja makan.
Perkenalan Attar dengan makanan-makanan tersebut tak lepas dari peran ibunya, Ecka Pramita. Ecka sejak awal memang berkomitmen untuk memberi asupan gizi terbaik buat anak pertamanya tersebut. Tidak tanggung-tanggung, untuk urusan gizi anak, ia mengaku langsung berpegangan pada petunjuk yang direkomendasikan oleh badan kesehatan dunia WHO.
Ecka bercerita, ia kerap melakukan foodcombining ketika usia si anak memasuki angka 8 bulan. Ketika si kecil berusia setahun, Ecka sudah membiasakannya dengan table food alias makanan-makanan yang tersedia di meja makan. “Menunya tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan si kecil,” ujar Ecka. Upayanya yang gigih itu akhirnya membuahkan hasil.
Eyang Lestari tampak semringah di pagi yang teduh itu. Hari itu, 30 Juni 2014, dua mahasiswa dari sebuah Sekolah Ilmu Kesehatan (STIKES) di Jakarta baru saja datang mengunjunginya; mereka hendak melakukan penelitian di Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi, Jakarta Pusat. Lestari dan penghuni-penghuni yang lain tampak antusias mengisi tiap pertanyaan kedua mahasiswi tersebut. Sesekali bertanya jika kurang paham.
Untuk diketahui, keceriaan seperti itu hampir terjadi setiap hari di panti jompo khusus eks tahanan politik (Tapol) Orde Baru tersebut. Jika tidak pagi hari, tamu-tamu itu akan berkunjung pada sore hari—maklum, jam kunjungan hanya boleh pada dua waktu itu. Dari organisasi formal, komunitas-komunitas, mahasiswa, tidak jarang juga para wartawan bertandang melakukan wawancara. Continue reading “Sehari Bersama Eyang Lestari dan Eyang Sri di Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi”→
Batik Indonesia boleh dikata tengah berada di fase penuh puja puji. Tapi siapa sangka, tak semua pelaku bisnis batik menikmati manisnya masa indah ini. Seperti Batik Oey, batik pesisir legendaris asal Pekalongan, yang kini kondisinya bak hidup segan mati tak hendak.**
———–
Kita boleh geram dengan Malaysia yang beberapa tahun silam “mengklaim” batik sebagai kebudayaan asli negerinya. Namun ternyata di balik peristiwa itu, ada berkah tersembunyi, karena masyarakat Indonesia menjadi euforia batik. Beruntung beberapa waktu kemudian sebuah surat sakti dari UNESCO menegaskan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi asli Indonesia pada 2 oktober 2009. Continue reading “Batik Oey Soe Tjoen, Si Legenda dari Kabupaten Pekalongan*”→
Setelah membaca cuitan Hari Angkutan Umum di lini-masa Twitter, saya memutuskan untuk pergi ke Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Saya ingin merayakan Hari Angkutan Umum Nasional dengan pergi ke kampung Pasar Ikan yang baru saja digusur, batin saya.
Pertama-tama saya akan naik angkutan umum ke Kota Tua, Jakarta Utara, dan melanjutkannya ke Pasar Ikan Luar Batang dengan berjalan kaki. Dari informasi yang saya peroleh dari internet, jarak antara Kota Tua ke Masjid Raya Luar Batang sekitar 2 – 3 km. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, kira-kira akan memakan waktu 20 – 30 menit. Oh, jarak yang masih terlampau dekat—seperti dari Terminal Lebak Bulus-rumah kontrakan di Ciputat.
Pukul 11.00 saya naik APTB dari depan UIN Ciputat. Jalanan Minggu itu relatif sepi. Bus yang saya tumpangi tidak terlampau berdesak-desakan. Meski demikian, tetap saja saya tidak mendapat tempat duduk (sempat ding, tapi tak lama kemudian ada rombongan keluarga yang lebih membutuhkan kursi itu).
Saya terlampau mencintai angkutan umum. Di mana pun saya berada, yang pertama akan saya lakukan adalah menghafal jalur angkutan umum di kota tersebut. Di Yogyakarta, begitu juga ketika di Jakarta.
Hari-hari pertama di Jogja banyak saya habiskan dengan menjajal angkutan umum di kota tersebut; mulai dari bus Jalur 7, Jalur 2, Jalur 4, Jalur 10, dan lain sebagainya. Saya juga masih ingat pernah seharian penuh menghabiskan waktu dari halte TransJogja satu ke halter TransJogja yang lain.
Di Jakarta, saya juga masih hobi naik angkutan umum. Menjajal Transjakarta dari koridor satu ke koridor yang lain. Di dalam angkutan umum Jakarta, saya pernah nyasar, pernah juga dipalak preman-preman amatiran. Banyak cerita yang mesti diceritakan dari angkutan umum.
***
Sekitar pukul 12.30 saya sudah sampai di halte Transjakarta Kota Tua. Saya buka ponsel, mencari petunjuk jalan kaki ke Masjid Raya Luar Batang via Pasar Ikan.
***
Ada beberapa rute, tapi saya memilih rute yang ini: menyusuri jalan sepanjang Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia, lalu belok kiri sampai bertemu jembatan Kali Besar, lalu belok kanan sampai kita bertemu dengan jembatan rel kereta api..
Saya berhenti sejenak di kolong tol yang tak jauh dari jembatan itu. Banyak sekali orang bergerombol di sana. Di sebelah kanan, persis mepet sungai, ada bapak-bapak bermain bola sodok, sementara di sebelah kiri ibu-ibu dan anak-anak mereka sedang bercengkerama di atas sebuah tikar plastik yang di ujungnya bertumpuk beberapa pakaian.
Dugaan saya, mereka adalah korban penggusuran kampung Pasar Ikan Luar Batang beberapa hari yang lalu. Sambil bertanya-tanya dan ngaso, saya memesan semangkuk indomie telur di warung yang tak jauh dari tempat bapak-bapak bermain bola sodok tadi.
“Kalau mau ke Museum Bahari lewat mana ya bu?” tanya saya di sela-sela meniup kuah indomi yang masih panas, basa-basi.
Dengan agak ragu ibu penjual indomie itu mejawab tidak tahu. Ia lalu bertanya pada laki-laki, saya kira suaminya, yang sedang menggergaji kayu persis di belakang warung. “Masnya lurus saja, nanti pas ketemu jembatan jalan besar, tanya lagi aja mas,” sahut si bapak yang dari logat sepertinya dari wilayah Banyumasan.
Indomie sudah habis dan saya langsung membayarnya. Saya pamitan pada si ibu penjual indomie dan langsung bergegas mengikuti jalan yang ditunjukkan si bapak tadi. Setelah sampai di ujung, saya baru tahu kalau jalan yang saya lewati ini adalah bagian belakang gedung Galangan VOC yang legendaris itu.
Tepat di bawah gerbang jembatan di depan Galangan VOC yang menghubungkan Jl. Kakap dan Jl. Pakin, saya berhenti sejenak. Saya mengambil napas, melihat sekitar, mengambil napas lagi, dan melihat ke arah jam 2. Di sana saya melihat tulisan Museum Bahari dan beberapa alat berat yang lagi nganggur.
***
Siang itu Matahari bersinar sangat terik setelah malamnya hujan turun lumayan desar. Selain bangunan Museum Bahari yang berdiri kokoh, tak satu pun bagunan utuh tersisa. Debu beterbangan di mana-mana. Reruntuhan rumah menggunung di beberapa sudut. Sementara di kejauhan ibu-ibu bergerombol di sebuah bekas bangunan yang saya kira adalah bekas kios.
Tak jauh dari pintu masuk Jl. Pasar Ikan, tepatnya di sebelah kanan, berdiri tenda Brimob, ada sekitar tiga petugas di dalamnya sedang bermain ponsel. Sementara di sisi kiri ada tenda lain yang menjajakan minuman sasetan.
“Kalau mau ke Masjid Raya Luar Batang, lewat mana ya, Bu?”
“Lewat jalan ini saja, mas. Nanti naik puing-puing yang ada di sana itu, lalu lewat jembatan yang itu lo mas,” ibu itu menunjuk sebuah jembatan besi sepanjang 6 meteran.
Saya mengikuti saran ibu penjual minuman sasetan itu; menyusuri jalanan yang penuh genangan; menghirup debu bekas penggusuran. Berpapasan dengan bocah-bocah yang masih polos yang terus menebar senyuman. Sebelum sampai di jembatan yang dimaksud si ibu tadi, saya menjumpai sebuah posko darurat penggusuran. Di dalamnya tampak beberapa orang mendata anak siapa saja yang belum mendapatkan tas buat sekolah.
Di sekitar posko terpasang bendera bertuliskan PKS, FPI, ACT, juga ada dua atau tiga bendera Gerindra berukuran kecil. Sementara di sebuah dinding di barat jembatan tertempel spanduk bertuliskan “Ahok Gubernur Agu Podomoro” dengan wajah Ahok mengenakan helm proyek.
Banyak orang mungkin akan bilang, Ah, mereka pasti lagi mencari panggung, Ah, mereka pasti sedang mencari dukungan, dan lain sebagainya; tapi bagi saya itu tidak penting. Bodo amat Anda mau nyari panggung di sini, selama mau mengulurkan tangan, maka saya akan mengangkat topi buat Anda!
Saya sempat berdiri agam lama di jembatan besi yang menghubungkan Jl. Pasar Ikan dan Jl. Luar Batang 1 itu. Saya mencoba bercengkrama dengan anak-anak kecil, membeli es potong, dan sesekali mencuri gambar dengan ponsel saya yang sudah agak ketinggalan zaman itu. Tiba-tiba saya teringat dengan isi tas yang saya bawa, berharap Gerwani-nya Amurwani Dwi Lestariningsih dan O-nya Eka berubah jadi segepok Bobo.
***
Perjalanan kemudian saya teruskan ke Masjid Raya Luar Batang, persis di ujung Jl. Luar Batang 1—tak jauh dari jembatan besi tadi. Minggu itu masjid keramat itu ramai disinggahi peziarah. Mungkin karena akhir pekan. Tapi saya tidak terlalu tertarik dengan masjid itu, justru sebuah warung kopi sederhana tak jauh dari pagar masjid milik seorang pendatang dari Lampung yang menjadi jujukan saya. Saya langsung memesan secangkir kopi hitam.
“Numpang meneduh ya, Bu.”
Beberapa saat setelah menyeruput kopi, pandangan saya tertarik pada lelaki yang yang sedang mengoperasikan sebuah mesis serut es kuno yang khas itu. laki-laki bertopi itu tampak sedang sibuk melayani beberapa pembeli yang kepanasan dengan cuaca Luar Batang yang megilan.
Saya jadi penasaran. Saya bertanya kepada ibu penjual kopi yang warungnya saya singgahi itu. Ibu itu menyebut nama yang masih asing di telinga saya: es palu buntung. “Rasanya enak kok, mas. Pesan saja,” kata si ibu sembari mengusir cucunya yang sedari tadi bertengkar dengan salah seorang kawannya.
Es palu buntung ini khas Sulawesi (tepatnya Makassar). Bahan-bahannya sederhana. Kita hanya membutuhkan es, bubur sumsum, susu, sirop, pisang kepok kukus, dan kacang tanah yang sudah disangrai. Pertama-tama masukkan bubur sumsum, lalu timbun dengan es yang sudah serut, tambahkan susu dan sirop, lalu kacang tanah sangrai sebagai topingnya.
Saya sarankan jangan langsung mengaduknya menjadi satu dulu jika ingin benar-benar menikmatinya. Satu lagi, es palu buntung sangat cocok disantap ketika cuaca sedang panas ngentang-ngentang. Di tempat asalnya, minuman ini juga biasa disantap saat berbuka puasa.
Saya tidak yakin apakah es palu buntung di warung di depan Masjid Raya Luar Batang yang baru saja nikmati ini adalah yang paling enak di Jakarta. Tapi yang jelas, saya baru saja menemukan varian minuman baru yang sepertinya tak kalah lezat dari dawet isi ental alias siwalan di Paciran dan dawet isi cincau di pasar Blimbing, dua-duanya di pesisir utara Lamongan.
***
Sekitar pukul 14.00, saya memutuskan untuk pulang. Pertama-tama saya akan berjalan kaki ke Kota Tua, kali ini melewati Jl. Kakap yang berada persis di depan Galangan VOC, setelah itu saya akan naik angkutan umum ke Ciputat. Setelah menunggu sekian lama, sekitar pukul 15.30, saya baru mendapat angkutan umum APTB jurusan Kota-Ciputat. Saya mengambil posisi duduk di belakang kursi paling belakang—yang biasa naik APTB Ciputat-Kota pasti tahu yang saya maksud—dan sampai kos-kosan tak lama setelah adzan Magrib berkumandang.
Gadis kecil berambut sebahu itu mengundang kucing kurus yang tersesat masuk halte TransJakarta. Boro-boro mendekatinya, kucing itu menjauh. Ia malah berjalan ke arah saya. Sekalian saja saya mengundang kucing itu dengan cara si gadis kecil.
“Pus, pus, pus…”
Tak lama, si kucing sudah nggubet di tangan saya. Ia mengikuti ke mana pun tangan saya bergerak. Ke depan, ke belakang, ke nanan, dan ke kiri. Kucing ini sepertinya mencium aroma layang semalam yang saya santap dengan telor ceplok di warung tegal belakang kosan. Continue reading “Seekor Kucing dan Gadis Kecil Itu”→
“Lo kok masih terang, Buk? Katanya lagi gerhana?” seloroh saya kepada Ibu Angel yang sedang menyapu di depan rumah.
Ibu Angel hanya terbahak kecil. Sementara Bapak Anggun baru saja turun dari motor. Merapikan belanjaan sayur-mayur yang ia beli dari pasar Ciputat. Jika tetangga-tetangganya yang lain ramai menyambut gerhana, laki-laki dengan perawakan lucu ini memilih cuek. Alih-alih menyiapkan kacamata hitam, pagi-pagi buta ia memilih pergi ke pasar untuk berbelanja. Continue reading “Gerhana Matahari di Sedap Malam”→
Melewatkan satu tahun setengah menjadi seorang jurnalis televisi tanpa satu pun dokumentasi, menurut saya, adalah sebuah kepicikan, sebuah upaya untuk mengubur cerita sejarah. Sementara saya masih sangat ingat salah seorang senior di awal-awal kuliah di Sejarah UNY pernah bilang “Setiap orang adalah pembuat sejarahnya sendiri-sendiri. Siapa yang tidak menghargai sejarah, berarti ia tidak menghargai dirinya sendiri.”
Dan kalimat itu terus terngiang-ngiang hingga sekarang, setelah hampir empat tahun lulus kuliah.
Barangkali itu adalah satu-satunya alasan—selain sebuah artikel di The Guardian yang berjudul “Pele, Cruyff, Best and Barnes: our reader’s best stories about meeting footballers”—kenapa saya membuat proyek pribadi ini. Proyek ini, dalam bayangan saya, sejatinya hanya remeh temeh belaka. Tapi jika dilupakan, saya yakin, saya bakal merugi. Saya menaimanya sebagai proyek “Catatan Pertemuan”, yang berisi catatan-catatan pertemuan-pertemuan saya dengan atlet-atlet Indonesia—juga mancanegara—yang saya temui selama satu tahun setengah saya menjadi seorang wartawan televisi olahraga.
Ya, tulisan ini nantinya akan berbentuk serial.
Proyek ini nantinya akan berisi ingatan-ingatan saya seputar pertemuan-pertemuan itu: tentang suasana, tentang orang-orangnya, tentang momennya, tentang mobil yang saya tumpangi, tentang kamera yang dipakai kameramen saya, tentang banyak hal, wes.
Sebagai catatan, tidak semua atlet yang pernah saya temui adalah atlet-atlet papan atas. Bahkan sebagian besar dari mereka adalah atlet-atlet pupuk bawang yang tengah mengembangkan karier keolahragaannya. Mereka bercerita tentang akses, mengeluh tentang sarana dan prasarana, tentang bonus yang tidak cair-cair, tentang segala hal.
Sepertinya saya harus bekerja keras untuk mengerjakan proyek. Bagaimana tidak, naskah-naskah liputan yang pernah saya tulis tentang mereka—yang paling tidak berguna untuk menunjukkan sedang dalam momen apa—itu saya taruh entah di mana. Sebagian ada di komputer kantor lama, sebagian lagi hilang belum lama.
Tak apalah, karena ini proyek suka-suka, maka saya akan mengerjakannya dengan suka-suka, ya, meski dengan target tentunya. Berapa artikel dan kapan serial tulisan ini akan rampung, hanya Tuhan sepertinya yang tahu. Apakah saya tahu? Tentu tidak, lah….
History is not simply about the past. It is also about how that past has shaped the present and certainly how the present shapes our understanding of the past.