Sehari Bersama Eyang Lestari dan Eyang Sri di Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi

eyang-eyang

(Foto: Bhisma Adinaya/Intisari)

Eyang Lestari tampak semringah di pagi yang teduh itu. Hari itu, 30 Juni 2014, dua mahasiswa dari sebuah Sekolah Ilmu Kesehatan (STIKES) di Jakarta baru saja datang mengunjunginya; mereka hendak melakukan penelitian di Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi, Jakarta Pusat. Lestari dan penghuni-penghuni yang lain tampak antusias mengisi tiap pertanyaan kedua mahasiswi tersebut. Sesekali bertanya jika kurang paham.

Untuk diketahui, keceriaan seperti itu hampir terjadi setiap hari di panti jompo khusus eks tahanan politik (Tapol) Orde Baru tersebut. Jika tidak pagi hari, tamu-tamu itu akan berkunjung pada sore hari—maklum, jam kunjungan hanya boleh pada dua waktu itu. Dari organisasi formal, komunitas-komunitas, mahasiswa, tidak jarang juga para wartawan bertandang melakukan wawancara. Read More

Batik Oey Soe Tjoen, Si Legenda dari Kabupaten Pekalongan*

IMG_4623

Batik Indonesia boleh dikata tengah berada di fase penuh puja puji. Tapi siapa sangka, tak semua pelaku bisnis batik menikmati manisnya masa indah ini. Seperti Batik Oey, batik pesisir legendaris asal Pekalongan, yang kini kondisinya bak hidup segan mati tak hendak.**

———–

Kita boleh geram dengan Malaysia yang beberapa tahun silam “mengklaim” batik sebagai kebudayaan asli negerinya. Namun ternyata di balik peristiwa itu, ada berkah tersembunyi, karena masyarakat Indonesia menjadi euforia batik. Beruntung beberapa waktu kemudian sebuah surat sakti dari UNESCO menegaskan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi asli Indonesia pada 2 oktober 2009. Read More

Angkutan Umum, Luar Batang yang Panas Ngentang-ngentang, dan Es Palu Buntung yang Menyegarkan

DSC_0104

Setelah membaca cuitan Hari Angkutan Umum di lini-masa Twitter, saya memutuskan untuk pergi ke Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Saya ingin merayakan Hari Angkutan Umum Nasional dengan pergi ke kampung Pasar Ikan yang baru saja digusur, batin saya.

Pertama-tama saya akan naik angkutan umum ke Kota Tua, Jakarta Utara, dan melanjutkannya ke Pasar Ikan Luar Batang dengan berjalan kaki. Dari informasi yang saya peroleh dari internet, jarak antara Kota Tua ke Masjid Raya Luar Batang sekitar 2 – 3 km. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, kira-kira akan memakan waktu 20 – 30 menit. Oh, jarak yang masih terlampau dekat—seperti dari Terminal Lebak Bulus-rumah kontrakan di Ciputat.

Pukul 11.00 saya naik APTB dari depan UIN Ciputat. Jalanan Minggu itu relatif sepi. Bus yang saya tumpangi tidak terlampau berdesak-desakan. Meski demikian, tetap saja saya tidak mendapat tempat duduk (sempat ding, tapi tak lama kemudian ada rombongan keluarga yang lebih membutuhkan kursi itu).

Saya terlampau mencintai angkutan umum. Di mana pun saya berada, yang pertama akan saya lakukan adalah menghafal jalur angkutan umum di kota tersebut. Di Yogyakarta, begitu juga ketika di Jakarta.

Hari-hari pertama di Jogja banyak saya habiskan dengan menjajal angkutan umum di kota tersebut; mulai dari bus Jalur 7, Jalur 2, Jalur 4, Jalur 10, dan lain sebagainya. Saya juga masih ingat pernah seharian penuh menghabiskan waktu dari halte TransJogja satu ke halter TransJogja yang lain.

Di Jakarta, saya juga masih hobi naik angkutan umum. Menjajal Transjakarta dari koridor satu ke koridor yang lain. Di dalam angkutan umum Jakarta, saya pernah nyasar, pernah juga dipalak preman-preman amatiran. Banyak cerita yang mesti diceritakan dari angkutan umum.

***

Sekitar pukul 12.30 saya sudah sampai di halte Transjakarta Kota Tua. Saya buka ponsel, mencari petunjuk jalan kaki ke Masjid Raya Luar Batang via Pasar Ikan.

***

Ada beberapa rute, tapi saya memilih rute yang ini: menyusuri jalan sepanjang Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia, lalu belok kiri sampai bertemu jembatan Kali Besar, lalu belok kanan sampai kita bertemu dengan jembatan rel kereta api..

Saya berhenti sejenak di kolong tol yang tak jauh dari jembatan itu. Banyak sekali orang bergerombol di sana. Di sebelah kanan, persis mepet sungai, ada bapak-bapak bermain bola sodok, sementara di sebelah kiri ibu-ibu dan anak-anak mereka sedang bercengkerama di atas sebuah tikar plastik yang di ujungnya bertumpuk beberapa pakaian.

Dugaan saya, mereka adalah korban penggusuran kampung Pasar Ikan Luar Batang beberapa hari yang lalu. Sambil bertanya-tanya dan ngaso, saya memesan semangkuk indomie telur di warung yang tak jauh dari tempat bapak-bapak bermain bola sodok tadi.

“Kalau mau ke Museum Bahari lewat mana ya bu?” tanya saya di sela-sela meniup kuah indomi yang masih panas, basa-basi.

Dengan agak ragu ibu penjual indomie itu mejawab tidak tahu. Ia lalu bertanya pada laki-laki, saya kira suaminya, yang sedang menggergaji kayu persis di belakang warung. “Masnya lurus saja, nanti pas ketemu jembatan jalan besar, tanya lagi aja mas,” sahut si bapak yang dari logat sepertinya dari wilayah Banyumasan.

Indomie sudah habis dan saya langsung membayarnya. Saya pamitan pada si ibu penjual indomie dan langsung bergegas mengikuti jalan yang ditunjukkan si bapak tadi. Setelah sampai di ujung, saya baru tahu kalau jalan yang saya lewati ini adalah bagian belakang gedung Galangan VOC yang legendaris itu.

Tepat di bawah gerbang jembatan di depan Galangan VOC yang menghubungkan Jl. Kakap dan Jl. Pakin, saya berhenti sejenak. Saya mengambil napas, melihat sekitar, mengambil napas lagi, dan melihat ke arah jam 2. Di sana saya melihat tulisan Museum Bahari dan beberapa alat berat yang lagi nganggur.

***

Siang itu Matahari bersinar sangat terik setelah malamnya hujan turun lumayan desar. Selain bangunan Museum Bahari yang berdiri kokoh, tak satu pun bagunan utuh tersisa. Debu beterbangan di mana-mana. Reruntuhan rumah menggunung di beberapa sudut. Sementara di kejauhan ibu-ibu bergerombol di sebuah bekas bangunan yang saya kira adalah bekas kios.

Tak jauh dari pintu masuk Jl. Pasar Ikan, tepatnya di sebelah kanan, berdiri tenda Brimob, ada sekitar tiga petugas di dalamnya sedang bermain ponsel. Sementara di sisi kiri ada tenda lain yang menjajakan minuman sasetan.

“Kalau mau ke Masjid Raya Luar Batang, lewat mana ya, Bu?”

“Lewat jalan ini saja, mas. Nanti naik puing-puing yang ada di sana itu, lalu lewat jembatan yang itu lo mas,” ibu itu menunjuk sebuah jembatan besi sepanjang 6 meteran.

Saya mengikuti saran ibu penjual minuman sasetan itu; menyusuri jalanan yang penuh genangan; menghirup debu bekas penggusuran. Berpapasan dengan bocah-bocah yang masih polos yang terus menebar senyuman. Sebelum sampai di jembatan yang dimaksud si ibu tadi, saya menjumpai sebuah posko darurat penggusuran. Di dalamnya tampak beberapa orang mendata anak siapa saja yang belum mendapatkan tas buat sekolah.

Di sekitar posko terpasang bendera bertuliskan PKS, FPI, ACT, juga ada dua atau tiga bendera Gerindra berukuran kecil. Sementara di sebuah dinding di barat jembatan tertempel spanduk bertuliskan “Ahok Gubernur Agu Podomoro” dengan wajah Ahok mengenakan helm proyek.

DSC_0103

 

Banyak orang mungkin akan bilang, Ah, mereka pasti lagi mencari panggung, Ah, mereka pasti sedang mencari dukungan, dan lain sebagainya; tapi bagi saya itu tidak penting. Bodo amat Anda mau nyari panggung di sini, selama mau mengulurkan tangan, maka saya akan mengangkat topi buat Anda!

Saya sempat berdiri agam lama di jembatan besi yang menghubungkan Jl. Pasar Ikan dan Jl. Luar Batang 1 itu. Saya mencoba bercengkrama dengan anak-anak kecil, membeli es potong, dan sesekali mencuri gambar dengan ponsel saya yang sudah agak ketinggalan zaman itu. Tiba-tiba saya teringat dengan isi tas yang saya bawa, berharap Gerwani-nya Amurwani Dwi Lestariningsih dan O-nya Eka berubah jadi segepok Bobo.

***

Perjalanan kemudian saya teruskan ke Masjid Raya Luar Batang, persis di ujung Jl. Luar Batang 1—tak jauh dari jembatan besi tadi. Minggu itu masjid keramat itu ramai disinggahi peziarah. Mungkin karena akhir pekan. Tapi saya tidak terlalu tertarik dengan masjid itu, justru sebuah warung kopi sederhana tak jauh dari pagar masjid milik seorang pendatang dari Lampung yang menjadi jujukan saya. Saya langsung memesan secangkir kopi hitam.

“Numpang meneduh ya, Bu.”

Beberapa saat setelah menyeruput kopi, pandangan saya tertarik pada lelaki yang yang sedang mengoperasikan sebuah mesis serut es kuno yang khas itu. laki-laki bertopi itu tampak sedang sibuk melayani beberapa pembeli yang kepanasan dengan cuaca Luar Batang yang megilan.

Saya jadi penasaran. Saya bertanya kepada ibu penjual kopi yang warungnya saya singgahi itu. Ibu itu menyebut nama yang masih asing di telinga saya: es palu buntung. “Rasanya enak kok, mas. Pesan saja,” kata si ibu sembari mengusir cucunya yang sedari tadi bertengkar dengan salah seorang kawannya.

Es palu buntung ini khas Sulawesi (tepatnya Makassar). Bahan-bahannya sederhana. Kita hanya membutuhkan es, bubur sumsum, susu, sirop, pisang kepok kukus, dan kacang tanah yang sudah disangrai. Pertama-tama masukkan bubur sumsum, lalu timbun dengan es yang sudah serut, tambahkan susu dan sirop, lalu kacang tanah sangrai sebagai topingnya.

DSC_0108

 

Saya sarankan jangan langsung mengaduknya menjadi satu dulu jika ingin benar-benar menikmatinya. Satu lagi, es palu buntung sangat cocok disantap ketika cuaca sedang panas ngentang-ngentang. Di tempat asalnya, minuman ini juga biasa disantap saat berbuka puasa.

DSC_0109

 

Saya tidak yakin apakah es palu buntung di warung di depan Masjid Raya Luar Batang yang baru saja nikmati ini adalah yang paling enak di Jakarta. Tapi yang jelas, saya baru saja menemukan varian minuman baru yang sepertinya tak kalah lezat dari dawet isi ental alias siwalan di Paciran dan dawet isi cincau di pasar Blimbing, dua-duanya di pesisir utara Lamongan.

***

Sekitar pukul 14.00, saya memutuskan untuk pulang. Pertama-tama saya akan berjalan kaki ke Kota Tua, kali ini melewati Jl. Kakap yang berada persis di depan Galangan VOC, setelah itu saya akan naik angkutan umum ke Ciputat. Setelah menunggu sekian lama, sekitar pukul 15.30, saya baru mendapat angkutan umum APTB jurusan Kota-Ciputat. Saya mengambil posisi duduk di belakang kursi paling belakang—yang biasa naik APTB Ciputat-Kota pasti tahu yang saya maksud—dan sampai kos-kosan tak lama setelah adzan Magrib berkumandang.

Seekor Kucing dan Gadis Kecil Itu

“Pus, pus, pus…”

Gadis kecil berambut sebahu itu mengundang kucing kurus yang tersesat masuk halte TransJakarta. Boro-boro mendekatinya, kucing itu menjauh. Ia malah berjalan ke arah saya. Sekalian saja saya mengundang kucing itu dengan cara si gadis kecil.

“Pus, pus, pus…”

Tak lama, si kucing sudah nggubet di tangan saya. Ia mengikuti ke mana pun tangan saya bergerak. Ke depan, ke belakang, ke nanan, dan ke kiri. Kucing ini sepertinya mencium aroma layang semalam yang saya santap dengan telor ceplok di warung tegal belakang kosan. Read More

Gerhana Matahari di Sedap Malam

“Lo kok masih terang, Buk? Katanya lagi gerhana?” seloroh saya kepada Ibu Angel yang sedang menyapu di depan rumah.

Ibu Angel hanya terbahak kecil. Sementara Bapak Anggun baru saja turun dari motor. Merapikan belanjaan sayur-mayur yang ia beli dari pasar Ciputat. Jika tetangga-tetangganya yang lain ramai menyambut gerhana, laki-laki dengan perawakan lucu ini memilih cuek. Alih-alih menyiapkan kacamata hitam, pagi-pagi buta ia memilih pergi ke pasar untuk berbelanja. Read More

Proyek “Catatan Pertemuan”

Melewatkan satu tahun setengah menjadi seorang jurnalis televisi tanpa satu pun dokumentasi, menurut saya, adalah sebuah kepicikan, sebuah upaya untuk mengubur cerita sejarah. Sementara saya masih sangat ingat salah seorang senior di awal-awal kuliah di Sejarah UNY pernah bilang “Setiap orang adalah pembuat sejarahnya sendiri-sendiri. Siapa yang tidak menghargai sejarah, berarti ia tidak menghargai dirinya sendiri.”

Dan kalimat itu terus terngiang-ngiang hingga sekarang, setelah hampir empat tahun lulus kuliah.

Barangkali itu adalah satu-satunya alasan—selain sebuah artikel di The Guardian yang berjudul “Pele, Cruyff, Best and Barnes: our reader’s best stories about meeting footballers”—kenapa saya membuat proyek pribadi ini. Proyek ini, dalam bayangan saya, sejatinya hanya remeh temeh belaka. Tapi jika dilupakan, saya yakin, saya bakal merugi. Saya menaimanya sebagai proyek “Catatan Pertemuan”, yang berisi catatan-catatan pertemuan-pertemuan saya dengan atlet-atlet Indonesia—juga mancanegara—yang saya temui selama satu tahun setengah saya menjadi seorang wartawan televisi olahraga.

Ya, tulisan ini nantinya akan berbentuk serial.

Proyek ini nantinya akan berisi ingatan-ingatan saya seputar pertemuan-pertemuan itu: tentang suasana, tentang orang-orangnya, tentang momennya, tentang mobil yang saya tumpangi, tentang kamera yang dipakai kameramen saya, tentang banyak hal, wes.

Sebagai catatan, tidak semua atlet yang pernah saya temui adalah atlet-atlet papan atas. Bahkan sebagian besar dari mereka adalah atlet-atlet pupuk bawang yang tengah mengembangkan karier keolahragaannya. Mereka bercerita tentang akses, mengeluh tentang sarana dan prasarana, tentang bonus yang tidak cair-cair, tentang segala hal.

Sepertinya saya harus bekerja keras untuk mengerjakan proyek. Bagaimana tidak, naskah-naskah liputan yang pernah saya tulis tentang mereka—yang paling tidak berguna untuk menunjukkan sedang dalam momen apa—itu saya taruh entah di mana. Sebagian ada di komputer kantor lama, sebagian lagi hilang belum lama.

Tak apalah, karena ini proyek suka-suka, maka saya akan mengerjakannya dengan suka-suka, ya, meski dengan target tentunya. Berapa artikel dan kapan serial tulisan ini akan rampung, hanya Tuhan sepertinya yang tahu. Apakah saya tahu? Tentu tidak, lah….

Surat kepada Haji Darip Menyambut Tujuhbelasan

Yth. Haji Darip

Di Tempat

Selamat pagi, Ji. Bagaimana kabar Anda? Eh, Anda masih ingat saya tidak? Mosok ndak ingat? Saya Imam Syafe’i alias Pi’ie, orang yang dianggap sebagai pentolan Pasar Senen, juga pentolan OPI alias Oesaha Pemuda Indonesia. Dulu, kita pernah bersama-sama berjuang mempertahankan Jakarta pasca-’45 dan Indonesia—ya, meski dengan cara-cara yang berbau kriminal. Masih belum ingat?

Haji Darip sang menguasari Klender….

Begini, Ji. Sebenarnya saya bukan Pi’ie penguasa Senen. Mohon maaf. Saya cuma bingung bagaimana memulai obrolan dengan jagoan tersohor macam Anda. Ya, mungkin dengan sedikit membual, saya bisa lebih akrab dengan “pahlawan tak dikenal” seperti Anda.

Oh iya, perkenalkan, nama saya Habib—bukan, saya bukan turunan para habaib yang suka mendaku-daku itu. Kebetulan saja Bapak saya memberi saya nama itu. Oh iya, tidak apa-apa kan saya memanggil Anda denga panggilan “Ji”saja? Orang-orang di desa saya biasa memanggil orang yang sudah pergi haji dengan panggilan tersebut. Bagaimana, Ji?

Saya belum lama mengenal nama Anda. Kira-kira baru empat tahunan yang lalu. Waktu itu, sekitar bulan Oktober 2011 saya pergi ke pasar buku bekas terminal Stasiun Pasar Senen yang dulu dikuasai kawan Anda, Pi’ie. Di sana saya menemukan buku berbungkus plastik lusuh, judulnya Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949, yang ditulis Robert Cribb. Anda kenal dengan Cribb? (Pertama kali saya tahu buku itu sekitar 2010 lalu di rak buku teman saya yang namanya Ketel—nama aslinya Wiwid Subekti.)

Buku itu mula-mula ditawarkan dengan harga Rp50 ribu, tapi sayan terus menawarnya dengan harga paling murah. Dengan mengancam hendak memecahkan kepala saya, penjual itu akhirnya melepaskan buku itu dengan Rp25 ribu saja. Mendapatkan buku tentang jagoan dengan cara sedikit jagoan, tidak apa-apa kan, Ji? Hehehe…

Dari situlah saya tahu nama Anda, juga sejawat Anda yang sebagian besar berprofesi Jago seperti Anda.

“Gerombolan bandit juga menyediakan badan organisasi yang dinamis dan sekumpulan pendukung yang penuh semangat serta tidak mudah diintimidasi penguasa kolonial […] di antara segelintir itu terdapat pentolan gerombolan yang biasa dipanggil Muhammad Arif dari Klender. Dengan nama Haji Darip, ia memainkan peran utama dalam revolusi 1945 di Jakarta.” Deskripsi Cribb itu membuat saya langsung jatuh cinta dengan Anda.

Anda memang jagoan jempolan. Saya dengar, selain sebagai Jago, konon Anda adalah seorang pemuka agama yang diyakini memiliki kekuatan untuk memberikan jimat dan dan kekebalan kepada pengikut-pengikut Anda. Saya juga dengan bahwa Anda juga terlibat dalam pemogokan buruh kereta api tahun 1923, jauh sebelum PKI-nya Semaoen melalukan hal yang sama.  Tak hanya itu, dengan karisma yang Anda miliki, Anda juga berhasil menarik perhatian para penjahat untuk menjadi pengikut Anda dan menciptakan apa yang kemudian disebut dengan “tanah perdikan” yang membentang dari markas Anda di Klender ke utara hingga Pulogadung, ke timur hingga Bekasi, dan ke barat hingga Jatinegara.

Wow, Anda memang bukan jago sembarangan!

Saya juga menjadi tahu kelebihan Anda—ini kata Cribb lo, Ji—kabarnya Anda adalah sosok yang mampu memadukan kriminalitas dan patriotisme hanya dengan menjarah orang-orang yang berkulit terlalu terang. Entah itu Cina, Eurasia, bahkan Eropa. Orang-orang dengan kulit agak gelap, seperti Ambon dan Timor, juga menjadi korban Anda ya, Ji? Anda punya dendam pribadi toh kepada mereka? Hehehehe…

Oh iya, Ji, seperti saya tulis di awal tai, dari Cribb saya juga kenal dengan beberapa jago lain yang malang-melintang pasca-’45 lainnya. Anda pernah bertemu dengan Macan, tidak? Dengan Pi’ie pasti pernah dong? Apalagi dengan Panji, wong dia menantu Anda! Tapi saya agak kesal dengan Panji. Menurut saya, dia sedikit oportunis. Masak, gara-gara kekuatan dan kekuasaannya hilang, dia akhirnya memilih membelot ke Belanda? Bagaimana perasaan Anda ketika tahu itu, Ji?

Ji…

Belum lama ini saya juga bertemu dengan mantan lasykar yang berjuang di sepuran ‘45. Namanya Arsilan. Dia dari Banten. Dia sekarang tinggal di sebuah gubuk kecil yang menempel di pagar bagian timur Taman Tugu Proklamasi di Menteng. Alasan yang dikemukakannya ketika saya menanyainya tentang kenapa memilih tinggal di situ adalah tidak ingin jauh-jauh dari rumah Bung Karno. Saya kira itu alasan yang dicari-cari untuk menyembunyikan ketidakpedulian pemerintah terhadap para veteran.

Usia Mbah Arsilan kini 93 tahun. Meski demikian, banyak hal yang masih dia ingat. Dia tahu betul di mana posisi Bung Karno, dia juga masih hapal beberapa nama yang hadir di Jumat keramat itu. pascapembacaan teks itu, Mbah Arsilan memilih untuk ikut keluarganya: bekerja di rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur yang sekarang berubah menjadi Jalan Proklamasi. Dia juga bercerita bahwa Bung Karno orangnya asyik, Beliau mengizinkan teman-teman Mbah Arsilan untuk sekadar nongkrong dan bermain kartu di rumah tersebut.

Begini, Ji. Saya tidak hendak memperkenalkan Anda dengan Mbah Arsilan. Saya cuma pingin memberi tahu bahwa ada rekan seperjuangan Anda yang kini hidupnya terlunta-lunta—setidaknya menurut saya demikian—tanpa ada yang memperhatikan. Dalam waktu dekat saya mau mengunjunginya; saya punya janji untuk membingkaikan foto dirinya yang saya jepret dengan kamera kantor belum lama ini.

Hari Darip yang jagoan…

Besok tanggal 17 Agustus 2015. Indonesia hendak merayakan hari jadinya yang ke-70. Bagaimana perasaan Anda, Ji? Negeri yang Anda bela-bela dulu kini semakin renta. Bukan semakin baik, dalam beberapa hal, negeri ini semakin terpuruk dan semakin banyak masalah. Ini soal perbanditan. Nah sampai juga kita di sini. Begini. Jangan tersinggung, ya, Ji; negeri ini memang sarang para bandit. Dari dulu hingga sekarang bandit berkeliaraan di mana-mana.

Jika dulu para bandit dan jago berjuang bertaruh nyawa—kalau salah mohon dikoreksi, ya, JI—untuk membela negeri ini. Berbeda dengan bandit dan para jago sekarang. Mereka menyamar menjadi wakil-wakil rakyat, pejabat-pejabat partai, hingga tokoh-tokoh agama, demi memuaskan isi perut dan syahwat mereka. Mereke mengenakan dasi, mengenakan stelan jas yang paling mahal, duduk di kursi paling empuk, dan mengendarai mobil dengan nomor plat ringkas; di depan banyak orang menebar gincu, tapi tak lama kemudian mereka pergi ke rumah karaoke bersama bandit lainnya untuk membincangkan tender triliunan rupiah. Ah, saya jadi ngelantur, Ji.

Ji…

Anda kangen Jakarta tidak?  Oh, saya tahu, Anda pasti sangat rindu dengan Klender. Saya beri tahu, ya, Ji. Sekarang kota yang dulu Anda bela ini sudah punya gubernur baru. Orangnya galak, sangat galak bahkan, terutama terhadap orang-orang yang hidupnya di bantaran kali. Saya yang bukan orang asli Jakarta saja terkadang kagum. Tapi sayang, dia selalu mingkem jika dihadapkan dengan para pengembang berkantong tebal. Jika sempat, temuailah gubernur itu di mimpinya. Siapa tahu Anda bisa menegurnya.

Satu lagi, Ji…

Jika Anda sempat berjalan-jalan di swargaloka, tolong sampaikan salam ke kakek saya, namanya Dasyrip. Setiap ingat nama Anda, saya juga ingat nama kakek saya itu. Darip dan Dasyrip, emmm, mirip-mirip, bukan? Hehehe

Ah, maafkan saya. Surat saya terlalu panjang untuk orang tua seperti Anda. Bacalah jika sempat, buanglah jika tidak ada manfaat.

Salam.

Habib di Ciputat