Gerhana Matahari di Sedap Malam

“Lo kok masih terang, Buk? Katanya lagi gerhana?” seloroh saya kepada Ibu Angel yang sedang menyapu di depan rumah.

Ibu Angel hanya terbahak kecil. Sementara Bapak Anggun baru saja turun dari motor. Merapikan belanjaan sayur-mayur yang ia beli dari pasar Ciputat. Jika tetangga-tetangganya yang lain ramai menyambut gerhana, laki-laki dengan perawakan lucu ini memilih cuek. Alih-alih menyiapkan kacamata hitam, pagi-pagi buta ia memilih pergi ke pasar untuk berbelanja.

Di Sedap Malam, Pisangat Timur, Ciputat, orang-orang jarang menyebut sesamanya dengan nama asli. Untuk menyapa, mereka biasa menempelkan nama anaknya yang paling tua atau yang paling populer. Misalnya Ibu Angel untuk ibunya Angel, Bapak Anggun untuk bapaknya Anggun, dst. Persis seperti di desa saya, di Lembor.

Waktu itu kira-kira pukul 07.18 Waktu Legoso.

Di rumah kontrakan yang temboknya menempel dengan indekos saya, Galih takut keluar rumah. Bocah tiga tahun itu lebih memilih mengurung diri di dalam rumah. Sesekali memunculkan kepalanya di jendela depan sambil ditemani abangnya, Mamba. Wajahnya terlihat bimbang. Ragu antara ingin bermain di luar bersama teman-teman sebayanya yang lain, atau tetap tinggal di dalam rumah. Mugkin ia baru saja mendapat larangan dari ibunya untuk tidak keluar rumah. Saat masih kecil, Ibu Galih juga mendapat larangan yang sama dari orangtuanya.

“Saya dulu disuruh sembunyi di bawah meja, om,” kata Ibu Galih.

Sebutan om biasa dilontarkan ibu-ibu di Gang Sedap Malam, Pisangan Timur, Ciputat, kepada para mahasiswa yang indekos di sini. Tak hanya mahasiswa, tapi juga yang bertampang mahasiswa seperti saya.

Cerita Ibu Galih seirama dengan cerita Ibu Angel. Ketika kecil ia dilarang orangtuanya untuk keluar rumah ketika gerhana datang. “Iya, kami dulu disuruh sembunyi di balik meja, di balik pintu.” Meski lama di Jakarta, logat Makassar Ibu Angel masih sangat kental.

Di ujung jalan yang melewati indekos saya,para ibu, bapak, mahasiswa, mahasiswi, dan anak-anak tampak bergerombol. Di titik itu sepertinya Matahari memang terlihat lebih jelas. Tak terhalang rumah, juga pohon. Mereka beramai-ramai mengenakan kaca mata hitam, bahkan ada beberapa yang menggunakannya secara double, untuk memantau Matahari yang tertutup Rembulan itu.

Tak jauh dari situ, beberapa pemuda duduk berjajar menghadap ke timur di atap sebuah rumah kontrakan. Mereka menenteng HP pintar. Sebagian berkacamata hitam, sebagian tidak. Mereka tampak sedang mengabadikan momen bersejarah itu—meski hanya sebagian.

Di depan saya, Iya, Utuk, dan Dila juga tak kalah antusiasnya. Saling bergantian mengenakan kacamata hitam yang agak kedodoran.

“Bulannya sabit, dek,” ujar Iya kepada adiknya, Utuk, yang tak sabar menunggu giliran mengenakan kaca mata hitam milik bapaknya itu. Sementara Dila tampak sedikit takut, dan Iya mencoba meyakinkan sepupunya itu.

“Matahari, Ya. Bukan Bulan.” Saya menyahut dari depan indekos. Indekos saya bereda persis di depannya rumah Nenek, tempat Iya, Utuk, dan Dila tinggal.

Melihat antusias orang-orang Sedap Malam, saya jadinya penasaran. Kepingin lihat bagaimana wujud Matahari, yang kata Iya, seperti pisang itu. Saya melongok ke kaca jendela musola di samping kosan. Dari situ Matahari memang terlihat seperti sabit. Tak heran jika Iya menyebut sebagai Bulan Sabit. Hehehehe…

Solat Gerhana Matahari di Sedap Malam dilakukan pukul 06.30 Waktu Legoso, tapi halo-halonya sudah berkumandang sejak sebelum pukul 06.00. Saya memilih tak ikut solat, masih ngantuk meski habis subuhan.

Ingatan tentang Gerhana Matahari mengantar saya kembali ke tahun 1995. Waktu itu saya masih kelas dua Madrasah Ibtidaiyah. Gerhana Matahari sedang lewat di Lembor, desa saya, waktu itu.

Sejak awal sudah ada peringatan dari para guru Ibtidaiyah supaya kami tidak melihat Matahari secara lansung. Jika ingin, kami bisa mengenakan kaca mata hitam. Mereka juga menyarankan supaya kami melihat peristiwa langka ini dengan menggunakan baskom yang diisi air. Oh waktu itu kami belum mengenal istilah baskom.

“Lihat dari ember yang diisi air saja.” Di tempat kami, ember yang baskom itu.

Yang membuat saya sangat ingat momen ini adalah waktu itu hampir menjadi waktu pertama saya ikut acara perkemahan. Karena satu dan lain hal, saya—dan beberapa teman yang lain—yang masih kelas dua Ibtidaiyah dilarang ikut. Salah satunya ya karena alasan Gerhana Matahari itu.

Meski berat, saya akhirnya merelakan kesempatan itu. Tak apalah, toh sebentar lagi saya kelas tiga dan pasti sudah bisa ikut perkemahan serupa.

“Tadi di Palembang kek malam hari,  Bu. Tapi sekarang sudah endak, sudah habis gerhananya.” Seorang ibu asyik bercengkerama dengan tetangganya di depan toko kelontong miliknya yang tak jauh dari rumah Pak RT Gang Sedap Malam. Mereka membicarakan Gerhana Matahari seperti membicarakan gosip para artis yang sering muncul di televisi.

“Oh, itu tadi jablainya toh bu?” Eh, obrolan ibu-ibu itu tiba-tiba berbelok tajam. Tanpa lampu sign lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s