Batik Oey Soe Tjoen, Si Legenda dari Kabupaten Pekalongan*

IMG_4623

Batik Indonesia boleh dikata tengah berada di fase penuh puja puji. Tapi siapa sangka, tak semua pelaku bisnis batik menikmati manisnya masa indah ini. Seperti Batik Oey, batik pesisir legendaris asal Pekalongan, yang kini kondisinya bak hidup segan mati tak hendak.**

———–

Kita boleh geram dengan Malaysia yang beberapa tahun silam “mengklaim” batik sebagai kebudayaan asli negerinya. Namun ternyata di balik peristiwa itu, ada berkah tersembunyi, karena masyarakat Indonesia menjadi euforia batik. Beruntung beberapa waktu kemudian sebuah surat sakti dari UNESCO menegaskan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi asli Indonesia pada 2 oktober 2009.

Gara-gara peristiwa klaim-klaiman tadi, pasar batik di Indonesia yang sudah menggeliat sejak 10 tahun silam jadi semakin ramai. Beragam batik menghiasi gerai-gerai yang berjajar di mal-mal mewah. Tak hanya sebagai pakaian tradisional saja, batik juga merambah dunia fashion.

Salah satu jenis batik yang punya banyak penggemar adalah batik pesisiran; Cirebon, Indramayu, Pekalongan, Lasem, Madura, dsb. Dengan motifnya yang cenderung lebih berani dan beranekaragam, batik-batik pesisiran banyak dikejar oleh para kolektor. Ya, meskipun mereka harus merogoh kocek yang cukup dalam.

Ironi di tengah puja-puji

Sayang seribu sayang, tak semua pelaku batik menikmati masa indah ini, momen ketika batik berjaya di pasaran. Di beberapa daerah, banyak industri batik yang mati suri. Tak sedikit juga yang akhirnya kolaps dan hanya meninggalkan nama belaka. Salah satu contohnya, Batik Art Oey Soe Tjoen, batik legendaris dari Kedungwuni, Pekalongan. Meski tak sampai gulung tikar, usaha yang didirikan oleh Oey Soe Tjoen pada 1925 ini hampir undur diri.

IMG_4642

Pada masa jayanya, 1935, Batik Oey pernah mempekerjakan sekitar 150 pekerja dengan hasil 30 kain batik per bulan. Tapi itu cerita dulu. Kini usaha yang diteruskan Widianti Widjaja, cucu sang pendiri, hanya memproduksi 20 kain batik per tahun. Dengan kisaran harga setara dengan satu motor baru per kainnya.

Masalah utama masih berkutat seputar sumber daya manusia yang jauh dari kriteria yang ditetapkan batik Oey. Terkesan arogan memang, tapi untuk mempertahankan kualitas serta mutu secara terus menerus, Widianti memasang target tinggi untuk para calon pembatiknya. Jika dihitung-hitung, saat ini hanya ada 12 sampai 15 pekerja, itu pun tidak semua bisa aktif setiap hari.

Untuk selembar kain batik yang dibuat, Widianti meminta tenggat waktu 3 sampai 3,5 tahun. Bukan karena banyaknya permintaan, tapi karena Sang Pemilik tidak bisa memaksa para pekerjanya bekerja seharian di pembatikan. Para pekerja diberi kebebasan untuk mengerjakannya sesuka hati. Untuk upah juga tidak ada patokan khusus, karena mereka akan digaji tiap satu pekerjaan yang kelar mereka garap.

“Ada yang petani, ada yang ibu rumah tangga, mereka mbatiknya ya pas ada waktu luang saja. Setelah mengantar anak sekolah misalnya,” ujar Widianti tentang para pekerjanya.

Dengan hasil produksi itu, Batik Oey tidak lagi bisa menjadi mata pencaharian utama keturunan Oey. Untuk tetap mempertahankan dapur keluarga tetap mengepul, Widianti membuka toko serbaguna yang letaknya persis di samping rumah. Di beberapa kesempatan, toko yang dia rintis dengan suaminya itu justru berperan sebagai penopang utama batik.

Mati suri setahun

Widianti menerima amanat batik Oey dari ayahnya, Muljadi Widjaja, dalam keadaan compang-camping. Dari 150 tenaga kerja yang ada di zaman kakeknya, kini tersisa 60 orang saja. Kondisi mulai memburuk pada periode awal tahun 2000. Banyaknya produksi batik di Pekalongan, termasuk di antaranya batik printing, menjadi masalah baru bagi Muljadi.

Ketika 2002 Muljadi meninggal dunia, warisan keluarga ini diserahkan sepenuhnya kepada Widiati yang ketika itu baru dua tahun lulus kuliah. Bebannya tidak ringan, sebab harus melestarikan mata pencaharian keluarga selama dua generasi sebelumnya.

Meneruskan sebuah warisan budaya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Di lain pihak Widianti juga harus meredam isu yang tersebar di Jakarta, bahwa batik Oey sudah tutup seiring dengan meninggalnya Muljadi.

Di tengah upaya menghalau masalah tersebut, musibah lain lagi-lagi memalugodam produksi batik Oey yakni Bom Bali 2002. Secara tidak langsung, peristiwa telah membunuh ruang edar batik Oey. Maklum, hampir sebagian besar pelanggan berasal dari luar negeri. Seluruh pesanan yang telah diproduksi, batal. Akhirnya batik-batik itu menumpuk di gudang, di belakang rumah Widianti.

Tak berhenti sampai di situ, karut-marut yang dihadirkan tragedi Bali semakin diperparah dengan kelangkaan minyak tanah yang terjadi tahun itu. Akhirnya, setelah melalui pergulatan yang panjang, Widianti memutuskan untuk mengistirahatkan batik Oey untuk sementara waktu.

“Sekitar 30 pembatik yang ada sejak zaman Papa saya pulangkan. Saya hanya memakai 12-15 orang saja untuk menjaga kebutuhan produksi batik Oey. Tapi secara umum, selama kurang lebih setahun, saya tidak menerima tawaran batik dari luar,” kenang  Widianti tentang masa-masa sulit itu.

Harapan dari Jepang

Hingga hari itu datang…

Suatu siang pada 2004, datanglah seorang pencinta batik dari Jepang. Tidak ada angin tidak hujan, tiba-tiba ia memesan motif batik hokokai yang didapatnya dari salah satu museum di Jepang. Syaratnya hanya satu, tak peduli bagus atau tidak, harus menyerupai motif yang dia inginkan.

Widianti yang waktu memang sedang senggang, menyanggupi permintaan si orang Jepang yang baik hati. Seperti sebelum-sebelumnya, Widianti meminta tenggat pembuatan kurang lebih tiga tahun. Orang Jepang tersebut menyanggupi.

Belum sampai setahun, si Jepang sudah datang lagi. Padahal batik yang dia pesan sama sekali belum beres. Tapi bukan itu tujuan si Jepang, kali ini lebih gila, dia membawa empat motif yang berbeda satu dengan yang lain. Karena merasa terlalu berat, maka Widianti hanya menyanggupi dua dari empat motif itu. Lagi-lagi pecinta batik dari Jepang itu menyanggupi.

IMG_4586

Di tengah usahanya menyanggupi pesanan dari Jepang, datanglah tamu lain dari Singapura. Karena tertarik dengan gambar karya Widianti, sang tamu ikut-ikutan memesan apa yang dipesan oleh si orang Jepang. Entah karena apa, setelah itu tiba-tiba banyak pecinta batik yang memesan batik Oey. Akhirnya, pada tahun itu juga, Widianti memberanikan diri untuk kembali membuka permintaan pembuatan batik.

Sempat ingin berhenti

Mengembalikan kejayaan batik Oey Soe Tjoen merupakan salah satu harapan Widianti suatu saat nanti. Baginya, membesarkan batik sama halnya dengan membesarkan nama keluarga Oey. Tapi tentu saja itu tidak mudah. Persaingan industri batik, serta minimnya pembatik berkualitas menjadi halangan tersendiri bagi Widianti.

Belum lagi, waktunya banyak dicurahkan untuk kelangsungan tokonya. Ia baru bisa mengerjakan batik pesanan orang setelah urusan di toko rampung.  Itu pun tidak setiap hari, hanya Jumat malam dan Sabtu malam.

“Saya tak mungkin meninggalkan toko. Suami saya ndak bisa sendirian. Di sela-sela menjaga toko, tiap hari saya juga harus mengantarkan anak berangkat sekolah. Jika ada yang tanya, milih mana batik atau keluarga? Maka saya akan menjawab yang kedua,” ujarnya tegas.

Kondisi yang tak menentu seperti ini beberapa kali membuat Widianti berpikir untuk berhenti sama sekali dari batik. Beberapa kali  dia memberi tahu para pelanggannya untuk menghentikan pemesanan. Tapi semua itu tak mungkin terjadi. Ibaratnya, hidup segan mati tak hendak.

Widianti tak mungkin menghentikan tradisi batik yang sudah turun temurun. Banyak pertimbangan yang menggelayut di pundaknya jika usaha ini sampai berhenti. Salah satu pertimbangannya adalah amanat keluarga besarnya.

Yang tak kalah penting, urusannya dengan para pelanggan. Dia tak mungkin begitu saja memutus hubungan baik yang telah dirajut dengan para relasi. Mereka tak sekadar pembeli, tapi juga teman diskusi.

Dwita Herman salah satunya. Perempuan 50 tahun ini mengaku beberapa kali dicurhati Widianti terkait niatnya untuk berhenti dari batik. “Sayang saja kalau benar-benar berhenti,” katanya. Dwita sendiri beberapa kali berdiskusi dengan Widianti untuk menentukan motif batik terbaru. Salah satunya adalah cerita Isra’ Mi’raj dengan warna Tionghoa yang saat ini salah satu koleksi pribadi Dwita.

Beberapa pelanggannya juga menyarankan agar Widianti membuat produk batik sampingan, yang lebih komersial, sebagai penopang agar batik Oey tetap hidup. Alih-alih diiyakan, Dwita mengaku Widianti agak “keras kepala” perihal masalah ini. Menjaga kekhasan batik Oey Soe Tjoen tetaplah yang utama bagi Widianti. Apa pun caranya.

 

Catatan:

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Intisari edisi khusus “50 Tahun Intisari”.

**Tulisan ini hasil dari tugas luar kota pertama saya ketika bekerja di Intisari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s