Seekor Kucing dan Gadis Kecil Itu

“Pus, pus, pus…”

Gadis kecil berambut sebahu itu mengundang kucing kurus yang tersesat masuk halte TransJakarta. Boro-boro mendekatinya, kucing itu menjauh. Ia malah berjalan ke arah saya. Sekalian saja saya mengundang kucing itu dengan cara si gadis kecil.

“Pus, pus, pus…”

Tak lama, si kucing sudah nggubet di tangan saya. Ia mengikuti ke mana pun tangan saya bergerak. Ke depan, ke belakang, ke nanan, dan ke kiri. Kucing ini sepertinya mencium aroma layang semalam yang saya santap dengan telor ceplok di warung tegal belakang kosan.

Si kucing berwarna cokelat mentah juga membaui sepatu saya yang berwarna coklat mblawur itu.

Pagi itu sekitar pukul 08.00 kurang sekian menit. Halte bus TransJakarta Pondok Pinang sedang ramai seperti biasanya. Apalagi setelah bus P20 rute Lebak Bulus-Senen berganti warna dari biru daun menjadi biru laut alias dari hijau ke biru laut dan mewajibkan penumpangnya naik dari halte yang sama dengan penumpang TransJakarta.

Tampaknya gadis kecil yang saya taksir berusia 4-5 tahun itu cemburu karena kucing itu lebih memilih saya. Sadar dengan itu, saya justru sengaja ngiming-ngimingi-nya.

“Pus, pus, pus…”

Saya lihat, sesekali ia tersenyum saat melihat tingkah kucing yang tak jelas siapa bapak dan ibunya itu. Jika diperhatikan sekilas, kucing ini bukan bagian dari gerombolan bocah punk yang kerap mengamen di perempatan Pasar Jumat tiap malam itu.

***

Sudah beberapa menit,  tapi bus yang saya tunggu tak kunjung datang. Ia kalah agresif dengan eks-P20 yang berganti baju itu.

***

Saya tidak pernah punya pengalaman ngingu kucing di rumah, tapi bapak pernah. Bukan untuk seneng-senengan seperti para kelas menengah zaman sekarang, kucing ini oleh bapak lebih difungsikan untuk menangkap gerombolan tikus yang menjajah dan menjarah rumah, yang suka menggali lobang di pojokan rumah, dan kadang suka mencuri layang.

Beberapa kali kucing ini melaksanakan tugasnya dengan baik. Saya ingat, ia tipe kucing kampung yang gesit, yang berani duel satu lawan satu dengan kucing lainnya, yang ketika melihat tikus seperti melihat betina yang sedang brahi. Ia tipe kucing yang bisa diandalkan.

Hingga pada suatu malam, setelah pulang dari sembahyang Isya di musola dekat rumah, bapak menemukan sajadahnya sudah belepotan dengan utahan kucing yang saban pagi dikasih buntut layang itu. Bapak sontak muntap, ia tampak emosi, dan langsung mengejar kucing tak tahu diuntung yang lari sipat kuping itu.

Lari kucing itu semakin kencang setelah dibengkolang sapu oleh bapak.

Beberapa hari setelahnya, kucing itu mencoba kembali lagi ke rumah. Saya menjumpainya kerap mindik-mindik di sebelah pintu. Alih-alih diterima oleh bapak, kucing itu justru menerima hadiahnya untuk kesekian kalinya.

Sejak itu, sepertinya saya sudah tidak pernah melihat ada kucing di rumah. Untuk menangkap tikus, bapak beralih ke alat penangkapkucing dengan model kurungan. Untuk menangkapnya, bapak biasa memancing tikus-tikus itu dengan cikalan yang digantung dengan kawat di bagian tengah kurungan-perangkap itu.

***

Gadis itu masih mengarahkan pandangannya ke kucing yang mbulet di kaki saya.

Tak lama kemudian, saya menggiring kucing tak bertuan itu ke arah si gadis kecil. Ia tampak senang. Ia keluarkan kembali mantera yang sedari tadi ia gunakan tapi gagal itu.

“Pus, pus, pus….”

Kali ini si kucing berkenan mendekat. Gadis kecil itu tampak senang sekali. Itu terlihat dari senyumannya yang kian berkembang. Oh, tapi tidak dengan ibunya yang terlihat kurang suka dengan kehadiran si kucing.

“Kotor, adik…” Si ibu mencoba menjauhkan gadis kecil itu dengan kucing.

Jangankan menjauhkannya, gadis kecil itu malah sengaja menggoda ibunya. Kucing itu digiringnya mengelilingi si ibu yang sedang asyik menali rambutnya. Si ibu yang saya taksir berusia 35-an itu terlihat sedikit gilo, sementara si gadis kecil semakin girang. Ia semakin mengencangkan tawanya.

Saya dari kejauhan pun ikut tertawa.

***

“Harmoni… Harmoni… Harmoni…”

Bus yang saya tunggu sudah datang ternyata. Saya bergegas menuju rangkaian belakang. Ah, ternyata gadis kecil dan ibunya itu juga ikut bus yang sama. Saya mendapati mereka duduk di kursi prioritas yang terletak persis di belakang Pak Supir.

 

Kebon Jeruk, 17 Maret 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s