Sehari Bersama Eyang Lestari dan Eyang Sri di Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi

eyang-eyang

(Foto: Bhisma Adinaya/Intisari)

Eyang Lestari tampak semringah di pagi yang teduh itu. Hari itu, 30 Juni 2014, dua mahasiswa dari sebuah Sekolah Ilmu Kesehatan (STIKES) di Jakarta baru saja datang mengunjunginya; mereka hendak melakukan penelitian di Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi, Jakarta Pusat. Lestari dan penghuni-penghuni yang lain tampak antusias mengisi tiap pertanyaan kedua mahasiswi tersebut. Sesekali bertanya jika kurang paham.

Untuk diketahui, keceriaan seperti itu hampir terjadi setiap hari di panti jompo khusus eks tahanan politik (Tapol) Orde Baru tersebut. Jika tidak pagi hari, tamu-tamu itu akan berkunjung pada sore hari—maklum, jam kunjungan hanya boleh pada dua waktu itu. Dari organisasi formal, komunitas-komunitas, mahasiswa, tidak jarang juga para wartawan bertandang melakukan wawancara.

“Tamu-tamu yang berkunjung ke  sini membuat kami tetap sehat. Kedatangan mereka membuat kami selalu ceria, bersuka cita,” ujar Lestari. Beberapa hari sebelum dua mahasiswa STIKES itu, Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi mendapat kunjungan dari dari Hotel Sultan dan Commentwealth Bank.

Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi diresmikan pada 8 Februari 2004 oleh mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Mereka yang tingal di situ semuanya adalah eks Tahanan Politik (Tapol) Orde Baru yang yang dipenjarakan tanpa tahu kesalahan apa yang mereka perbuat: waktu itu lima perempuan dan lima laki-laki—sebagian besar ditangkap di litar Selatan dalam operasi trisula oleh kesaatuan Brigade Infanteri Lintas Udara (Brigif Linud) 18/Trisula, termasuk Eyang Lestari.

(Penangkapan besar-besaran di Blitar Selatan Operasi Trisula, Perusahaan Film Negara pernah membuat film dokumenter propaganda berjudul Operasi Trisula (1987) sebagai sekuel dari film Penghianatan G 30 S PKI garapan Arifin C. Noer).

Tertangkap di Blitar Selatan

“Ini adalah risiko yang mungkin harus saya terima sejak memutuskan aktif di organisasi,” ujar Eyang Lestari mengingat riwayat hidupnya. Sejak 1951 Eyang Lestari sudah aktif di Gerakan Wanita Indonesia, salah satu gerakan perempuan progresif di era Demokrasi Terpimpin. Waktu ia masuk, Gerwani masih bernama Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis).

Karier Eyang Lestari yang cemerlang di Gerwani Cabang Bojonegoro (1952-1961) membawanya ke Surabaya sebagai pimpinan. Di sana ia bertemu dengan Suwandi, seorang Ketua Comite Daerah Besar (KCDB) Partai Komunis Indonesia. Mereka menikah dan dikaruniai dua orang anak.

Tapi peristiwa 1 Oktober 1965 dini hari di Jakarta mengubah semuanya. Eyang Lestari dan suaminya masuk kategori orang yang paling dicari di Surabaya dan Indonesia. Setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ia dan suaminya, beserta simpatisan partai yang lain bersembunyi di daerah perbukitan di Blitar Selatan.

“Tidak ada firasat sama sekali waktu itu. Saya ngrasanya tempat itu begitu nyaman dan damai. Saya bisa bekerja dengan tenang dan tidak ada perasaan was-was sama sekali,” ujar perempuan kelahiran Bojonegoro itu. Eyang Lestari dan suaminya ditangkap di sebuah gua di pesisir selatan Blitar.

Sri Sulistiawati, saya memanggilnya Eyang Sri, mengalami kisah yang tak kalah berliku. Eyang Sri bukan aktifis Gerwani laiknya Eyang Lestari; ia adalah wartawan media ekonomi di Jakarta yang khusus meliput istana, yang kebetulan seorang anggota Badan Pendukung Sukarno (BPS), sub-bagian pengembangan sumber daya alam.

Tanda-tanda lengsernya Sukarno sudah dibaca Eyang Sri ketika pada suatu pagi di tahun 1964 ketika Bung Karno bilang kepadanya dalam sebuah wawancara informal. “Saya sudah tidak sanggup lagi meminpin negara ini,” ujar Eyang Sri menirukan Sukarno. Meski demikian, Eyang Sri tidak menyangka bakal ada peristiwa lebih besar yang mengiringi lengsengnya Putra Sang Fajar itu.

11 September 1965 perempuan kelahiran Cirebon ini mengikuti rombongan safari Dwikora ke Sumatera yang dipimpin oleh Dr. Subandrio. Ketika berangkat, situasi di Jakarta masih aman-aman saja, belum ada tanda-tanda bakal ada chaos; meskipun di beberapa titik ada demonstrasi tapi masih seputar kelanggkaan dan mahalnya harga barang pokok.

Sampai akhirnya kabar itu datang: ketika berada di Kota Langsa, Sumatera Utara, rombongan Subandrio mendapat berita bahwa di Jakarta telah terjadi kup. Rombongan diminta untuk tidak gegabah dan tinggal sementara di Medan sampai ada kejelasan dari Jakarta.

Beberapa hari kemudian, rombongan Subandrio balik ke Jakarta, termasuk di antaranya adalah Eyang Sri. Sampai di Halim Perdana Kusumah, Sri mendapat kabar yang mengejutkan, rumahnya telah disegel oleh tentara sementara masih ada anak satu-satunya di sana.

Tidak mau mengambil risiko, Eyang Sri langsung menuju rumah orangtuanya di Kemayoran. Setelah situasi lumayan terkendali, Eyang Sri dengan grubak-grubuk menjemput anaknya, Erianto—konon nama itu adalah pemberian langsung Bung Karno—yang ternyata sudah diselamatkan oleh salah seorang tetangganya.

Sembari mencari tahu alasan kenapa rumahnya disegel, perempuan yang hingga kini masih aktif dalam aksi-aksi penuntasan kasus pelanggaran HAM itu melanjutkan tugasnya sebagia anggota BPS. Waktu itu mengerjakan proyek menyusuri potensi kekayaan sumber daya alam Indonesia di daerah-daerah terpencil. Kali ini yang disasar adalah daerah pantai selatan, dimulai dari Panaitan, Banten, dan akan diakhiri di Alas Purwo Bayuwangi, ujung Jawa Timur.

Di tengah riset sumber daya alam yang dilakukan, Eyang Sri ditetapkan sebagai salah seorang daftar pencarian orang (DPO) oleh tentara. Kabar ini baru diketahui ketika ia sudah berada di Blitar. Belakangan, ia tahu, selama menjadi buronan, ayahnya telah dijadikan jaminan oleh tentara.

Makan nasi campur beling

“Pagi itu di pertengahan tahun 1968, saya tengah bersiap-siap menjual cabai untuk ditukar dengan kebutuhan pokok lainnya. Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri untuk menanak air membuat kopi. Saat itulah satuan Linud 18 pimpinan Kolonel Witarmin tiba-tiba menyerbu,” kenang perempuan berkacamata itu.

Eyang Sri langsung dibekap matanya, pakaiannya dilepas dan tinggal mengenakan kutang saja. Tangan dan kakinya ditali dengan tambang. Dari tempat ditangkap sampai pos pemeriksaan yang berjarak kurang lebih 1 km, ia diseret begitu saja.

Proses intrograsi segera dimulai. Eyang Sri dipaksa mengakui keterlibatannya di Lubang Buaya 1 Oktober dini hari. Tangan dan kakinya diikat jadi satu dengan kaki bangku sampai memar tak bisa jalan. Tak lama kemudian, Sri dibawa ke penjara khusus perempuan di Malang.

Tidak lama di Malang—sekitar satu bulan—Eyang Sri dipindahkan ke Jakarta. Mula-mula Sri ditempatkan di dapur umum di Gang Buntu, Kebayoran Baru. Di sana, tugasnya adalah mengobati tahanan-tahanan yang mendapat siksaan berat saat intrograsi. Kemampuan mengobati diperolehnya ketika melakukan riset sepanjang pantai selatan Jawa.

Setelah enam bulan di dapur umum Gang Buntu, Eyang Sri dipindah ke penjara perempuan Bukit Duri. Di penjara ini sudah tidak ada lagi penyiksaan, tapi bukan berarti nasibnya lebih baik; para tahanan seolah dibiarkan mati perlahan-lahan. Beras yang disajikan untu dimakan bercampur beling, sehingga ketika akan memakan, para tahanan harus memilah antara beras dan beling. Sedikit saja tidak teliti, maka beling-beling itu akan masuk ke lambung bersama nasi.

Kabar baik datang ketika ada gereja yang rutin melakukan pembinaan di penjara. Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh para tahanan meminta bantuan kepada gereja agar mendapat makanan yang lebih layak. Gayung bersambut, saban dua minggu sekali ketika gereja melakukan pembinaan, para tahanan mendapat asupan makanan yang lebih layak.

“Ya, nasib kami lumayan tertolong. Satu minggu sekali jadwal kunjungan keluarga, dua minggu sekali ada pembinaan dari gereja, otomatis makan lebih enak. Tapi tetap saja porsi makan enaknya lebih sedikit dibanding makan tidak enaknya,” ujarnya sedikit nyinyir.

Kondisi seperti itu terus berlanjut hingga pertengahan 1979, tahun di mana para tahanan politik Orde Baru mendapat angin kebebasan. Dari uraian Eyang Sri, pembebasan tersebut didapat dari kejadian yang tidak disengaja.

Setiap bulan sekali, suami-istri Tapol diberi kesempatan untuk bertemu, termasuk Eyang Sri dan suaminya yang menghuni Penjara Salemba, Jakarta Pusat. Ketika pulang dari Bukit Duri ke Salemba, bemo yang dinaiki suami Eyang Sri mengalami kecelakaan dan ditangani oleh polisi. Saat di kantor polisi itu, suami Eyang Sri secara tidak sengaja terekspos oleh para wartawan yang kebetulan berada di kantor polisi tersebut.

Berita itu langsung menyebar dan didengar oleh Palang Merah Internasional. Tidak lama berselang, obat-obatan datang bergelombang, dan publik akhirnya tahu. 25 April 1979 Sri akhirnya dibebaskan. Tidak hanya Eyang Sri di penjara Bukit Duri, di tahun itu juga, Eyang Lestari juga mendapat kebebasan dari penjara khusus perempuan Malang.

Bebas dari penjara bukan berarti bebas melakukan apa saja. Eyang Sri yang setelah bebas memilih untu tinggal di Cirebon mengaku saban hari harus lapor ke Komando Rayin Militer (Koramil) Arjo Winangun, setiap minggu harus Komando Distrik Militer (Kodim) Cirebon, dan setiap bulan harus lapor ke Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi di Bandung dan Tim Pemeriksa Pusat (Tiperpu) di Jakarta.

Eyang Lestari juga setali tiga uang. Selain harus rutin lapor, tidak mempunyai rumah jujugan. Dia berpindah dari rumah saudaranya yang satu ke saudaranya yang lain. Dia tidak mau menetap di satu rumah karena khawatir akan membebani keluarganya tersebut.

Selain itu, statusnya sebagai tahanan politik dirasa cukup membahayakan bagi keluarga yang dia ikuti nanti. Perkenalannya dengan Sulasmi, salah satu eks tokoh Gerwani Pusat, membawanya ke Jakarta awal tahun 2000-an hingga sekarang.

Terpisah dari anak

Tidak hanya harus merasakan pengapnya jeruji penjara selama belasan tahun tanpa kejelasan, kenyataan lain yang harus dihadapi para eks Tapol ini adalah kehilangan atau terpisah dari keluarganya, termasuk anak-anaknya. “Semua keluarga di Bojonegoro sudah habis. Anak saya yang paling kecil meninggal pas penangkapan,” ujar Eyang Lestari.

Eyang Lestari juga harus terpisah dari anak-anaknya. Dari pernikahannya dengan Suwandi, ia dikarunia dua orang anak. Satu anaknya meninggal ketika penangkapan besar-besaran di Blitar Selatang berlansung, satu lagi yang paling besar terpisah entah di mana.

Baru setelah bebas Eyang Lestari tahu, bahwa anak perempuan satu-satunya telah diasuh oleh seorang pedagang jeruk di Blitar. Sesekali Eyang Lestari berkesempatan bertemu dengannya yang kabarnya sudah menjadi guru di kota tempat Bung Karno dimakamkan itu.

Sementara Eyang Sri masih memiliki Erianto, satu-satunya anak yang ia tinggalkan selama menjadi DPO dan tahanan. Meski sudah bertahun-tahun terpisah, Eyang Sri relatif beruntung karena ada saudaranya yang mau merawat dan membesarkan anak semata wayangnya itu. Jika kangen, sesekali ia berkungjung ke rumah anaknya, tapi tidak pernah menginap.

“Saya selalu memberi tahu anak supaya supaya lebih memprioritaskan orangtua yang membesarkannya,” Eyang Sri mengenang.

Terlepas dari itu semua, Eyang Sri, Eyang Lestari, dan penghuni Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi, saat ini hanya menginginkan rehabilitas nama serta status mereka. Tidak hanya meminta maaf, Sri menginginkan negara mengakui telah melakukan pembantaian dan pelanggaran HAM. Untuk kompensasi, sebut Sri, rasanya terlalu muluk. Yang paling penting adalah nama mereka bersih.

Ba’da alkitabah:  Tulisan ini saya dedikasikan buat almarhumah Eyang Lestari yang meninggal pada pengujung 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s