Angkutan Umum, Luar Batang yang Panas Ngentang-ngentang, dan Es Palu Buntung yang Menyegarkan

DSC_0104

Setelah membaca cuitan Hari Angkutan Umum di lini-masa Twitter, saya memutuskan untuk pergi ke Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Saya ingin merayakan Hari Angkutan Umum Nasional dengan pergi ke kampung Pasar Ikan yang baru saja digusur, batin saya.

Pertama-tama saya akan naik angkutan umum ke Kota Tua, Jakarta Utara, dan melanjutkannya ke Pasar Ikan Luar Batang dengan berjalan kaki. Dari informasi yang saya peroleh dari internet, jarak antara Kota Tua ke Masjid Raya Luar Batang sekitar 2 – 3 km. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, kira-kira akan memakan waktu 20 – 30 menit. Oh, jarak yang masih terlampau dekat—seperti dari Terminal Lebak Bulus-rumah kontrakan di Ciputat.

Pukul 11.00 saya naik APTB dari depan UIN Ciputat. Jalanan Minggu itu relatif sepi. Bus yang saya tumpangi tidak terlampau berdesak-desakan. Meski demikian, tetap saja saya tidak mendapat tempat duduk (sempat ding, tapi tak lama kemudian ada rombongan keluarga yang lebih membutuhkan kursi itu).

Saya terlampau mencintai angkutan umum. Di mana pun saya berada, yang pertama akan saya lakukan adalah menghafal jalur angkutan umum di kota tersebut. Di Yogyakarta, begitu juga ketika di Jakarta.

Hari-hari pertama di Jogja banyak saya habiskan dengan menjajal angkutan umum di kota tersebut; mulai dari bus Jalur 7, Jalur 2, Jalur 4, Jalur 10, dan lain sebagainya. Saya juga masih ingat pernah seharian penuh menghabiskan waktu dari halte TransJogja satu ke halter TransJogja yang lain.

Di Jakarta, saya juga masih hobi naik angkutan umum. Menjajal Transjakarta dari koridor satu ke koridor yang lain. Di dalam angkutan umum Jakarta, saya pernah nyasar, pernah juga dipalak preman-preman amatiran. Banyak cerita yang mesti diceritakan dari angkutan umum.

***

Sekitar pukul 12.30 saya sudah sampai di halte Transjakarta Kota Tua. Saya buka ponsel, mencari petunjuk jalan kaki ke Masjid Raya Luar Batang via Pasar Ikan.

***

Ada beberapa rute, tapi saya memilih rute yang ini: menyusuri jalan sepanjang Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia, lalu belok kiri sampai bertemu jembatan Kali Besar, lalu belok kanan sampai kita bertemu dengan jembatan rel kereta api..

Saya berhenti sejenak di kolong tol yang tak jauh dari jembatan itu. Banyak sekali orang bergerombol di sana. Di sebelah kanan, persis mepet sungai, ada bapak-bapak bermain bola sodok, sementara di sebelah kiri ibu-ibu dan anak-anak mereka sedang bercengkerama di atas sebuah tikar plastik yang di ujungnya bertumpuk beberapa pakaian.

Dugaan saya, mereka adalah korban penggusuran kampung Pasar Ikan Luar Batang beberapa hari yang lalu. Sambil bertanya-tanya dan ngaso, saya memesan semangkuk indomie telur di warung yang tak jauh dari tempat bapak-bapak bermain bola sodok tadi.

“Kalau mau ke Museum Bahari lewat mana ya bu?” tanya saya di sela-sela meniup kuah indomi yang masih panas, basa-basi.

Dengan agak ragu ibu penjual indomie itu mejawab tidak tahu. Ia lalu bertanya pada laki-laki, saya kira suaminya, yang sedang menggergaji kayu persis di belakang warung. “Masnya lurus saja, nanti pas ketemu jembatan jalan besar, tanya lagi aja mas,” sahut si bapak yang dari logat sepertinya dari wilayah Banyumasan.

Indomie sudah habis dan saya langsung membayarnya. Saya pamitan pada si ibu penjual indomie dan langsung bergegas mengikuti jalan yang ditunjukkan si bapak tadi. Setelah sampai di ujung, saya baru tahu kalau jalan yang saya lewati ini adalah bagian belakang gedung Galangan VOC yang legendaris itu.

Tepat di bawah gerbang jembatan di depan Galangan VOC yang menghubungkan Jl. Kakap dan Jl. Pakin, saya berhenti sejenak. Saya mengambil napas, melihat sekitar, mengambil napas lagi, dan melihat ke arah jam 2. Di sana saya melihat tulisan Museum Bahari dan beberapa alat berat yang lagi nganggur.

***

Siang itu Matahari bersinar sangat terik setelah malamnya hujan turun lumayan desar. Selain bangunan Museum Bahari yang berdiri kokoh, tak satu pun bagunan utuh tersisa. Debu beterbangan di mana-mana. Reruntuhan rumah menggunung di beberapa sudut. Sementara di kejauhan ibu-ibu bergerombol di sebuah bekas bangunan yang saya kira adalah bekas kios.

Tak jauh dari pintu masuk Jl. Pasar Ikan, tepatnya di sebelah kanan, berdiri tenda Brimob, ada sekitar tiga petugas di dalamnya sedang bermain ponsel. Sementara di sisi kiri ada tenda lain yang menjajakan minuman sasetan.

“Kalau mau ke Masjid Raya Luar Batang, lewat mana ya, Bu?”

“Lewat jalan ini saja, mas. Nanti naik puing-puing yang ada di sana itu, lalu lewat jembatan yang itu lo mas,” ibu itu menunjuk sebuah jembatan besi sepanjang 6 meteran.

Saya mengikuti saran ibu penjual minuman sasetan itu; menyusuri jalanan yang penuh genangan; menghirup debu bekas penggusuran. Berpapasan dengan bocah-bocah yang masih polos yang terus menebar senyuman. Sebelum sampai di jembatan yang dimaksud si ibu tadi, saya menjumpai sebuah posko darurat penggusuran. Di dalamnya tampak beberapa orang mendata anak siapa saja yang belum mendapatkan tas buat sekolah.

Di sekitar posko terpasang bendera bertuliskan PKS, FPI, ACT, juga ada dua atau tiga bendera Gerindra berukuran kecil. Sementara di sebuah dinding di barat jembatan tertempel spanduk bertuliskan “Ahok Gubernur Agu Podomoro” dengan wajah Ahok mengenakan helm proyek.

DSC_0103

 

Banyak orang mungkin akan bilang, Ah, mereka pasti lagi mencari panggung, Ah, mereka pasti sedang mencari dukungan, dan lain sebagainya; tapi bagi saya itu tidak penting. Bodo amat Anda mau nyari panggung di sini, selama mau mengulurkan tangan, maka saya akan mengangkat topi buat Anda!

Saya sempat berdiri agam lama di jembatan besi yang menghubungkan Jl. Pasar Ikan dan Jl. Luar Batang 1 itu. Saya mencoba bercengkrama dengan anak-anak kecil, membeli es potong, dan sesekali mencuri gambar dengan ponsel saya yang sudah agak ketinggalan zaman itu. Tiba-tiba saya teringat dengan isi tas yang saya bawa, berharap Gerwani-nya Amurwani Dwi Lestariningsih dan O-nya Eka berubah jadi segepok Bobo.

***

Perjalanan kemudian saya teruskan ke Masjid Raya Luar Batang, persis di ujung Jl. Luar Batang 1—tak jauh dari jembatan besi tadi. Minggu itu masjid keramat itu ramai disinggahi peziarah. Mungkin karena akhir pekan. Tapi saya tidak terlalu tertarik dengan masjid itu, justru sebuah warung kopi sederhana tak jauh dari pagar masjid milik seorang pendatang dari Lampung yang menjadi jujukan saya. Saya langsung memesan secangkir kopi hitam.

“Numpang meneduh ya, Bu.”

Beberapa saat setelah menyeruput kopi, pandangan saya tertarik pada lelaki yang yang sedang mengoperasikan sebuah mesis serut es kuno yang khas itu. laki-laki bertopi itu tampak sedang sibuk melayani beberapa pembeli yang kepanasan dengan cuaca Luar Batang yang megilan.

Saya jadi penasaran. Saya bertanya kepada ibu penjual kopi yang warungnya saya singgahi itu. Ibu itu menyebut nama yang masih asing di telinga saya: es palu buntung. “Rasanya enak kok, mas. Pesan saja,” kata si ibu sembari mengusir cucunya yang sedari tadi bertengkar dengan salah seorang kawannya.

Es palu buntung ini khas Sulawesi (tepatnya Makassar). Bahan-bahannya sederhana. Kita hanya membutuhkan es, bubur sumsum, susu, sirop, pisang kepok kukus, dan kacang tanah yang sudah disangrai. Pertama-tama masukkan bubur sumsum, lalu timbun dengan es yang sudah serut, tambahkan susu dan sirop, lalu kacang tanah sangrai sebagai topingnya.

DSC_0108

 

Saya sarankan jangan langsung mengaduknya menjadi satu dulu jika ingin benar-benar menikmatinya. Satu lagi, es palu buntung sangat cocok disantap ketika cuaca sedang panas ngentang-ngentang. Di tempat asalnya, minuman ini juga biasa disantap saat berbuka puasa.

DSC_0109

 

Saya tidak yakin apakah es palu buntung di warung di depan Masjid Raya Luar Batang yang baru saja nikmati ini adalah yang paling enak di Jakarta. Tapi yang jelas, saya baru saja menemukan varian minuman baru yang sepertinya tak kalah lezat dari dawet isi ental alias siwalan di Paciran dan dawet isi cincau di pasar Blimbing, dua-duanya di pesisir utara Lamongan.

***

Sekitar pukul 14.00, saya memutuskan untuk pulang. Pertama-tama saya akan berjalan kaki ke Kota Tua, kali ini melewati Jl. Kakap yang berada persis di depan Galangan VOC, setelah itu saya akan naik angkutan umum ke Ciputat. Setelah menunggu sekian lama, sekitar pukul 15.30, saya baru mendapat angkutan umum APTB jurusan Kota-Ciputat. Saya mengambil posisi duduk di belakang kursi paling belakang—yang biasa naik APTB Ciputat-Kota pasti tahu yang saya maksud—dan sampai kos-kosan tak lama setelah adzan Magrib berkumandang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s