Surat kepada Haji Darip Menyambut Tujuhbelasan

Yth. Haji Darip

Di Tempat

Selamat pagi, Ji. Bagaimana kabar Anda? Eh, Anda masih ingat saya tidak? Mosok ndak ingat? Saya Imam Syafe’i alias Pi’ie, orang yang dianggap sebagai pentolan Pasar Senen, juga pentolan OPI alias Oesaha Pemuda Indonesia. Dulu, kita pernah bersama-sama berjuang mempertahankan Jakarta pasca-’45 dan Indonesia—ya, meski dengan cara-cara yang berbau kriminal. Masih belum ingat?

Haji Darip sang menguasari Klender….

Begini, Ji. Sebenarnya saya bukan Pi’ie penguasa Senen. Mohon maaf. Saya cuma bingung bagaimana memulai obrolan dengan jagoan tersohor macam Anda. Ya, mungkin dengan sedikit membual, saya bisa lebih akrab dengan “pahlawan tak dikenal” seperti Anda.

Oh iya, perkenalkan, nama saya Habib—bukan, saya bukan turunan para habaib yang suka mendaku-daku itu. Kebetulan saja Bapak saya memberi saya nama itu. Oh iya, tidak apa-apa kan saya memanggil Anda denga panggilan “Ji”saja? Orang-orang di desa saya biasa memanggil orang yang sudah pergi haji dengan panggilan tersebut. Bagaimana, Ji?

Saya belum lama mengenal nama Anda. Kira-kira baru empat tahunan yang lalu. Waktu itu, sekitar bulan Oktober 2011 saya pergi ke pasar buku bekas terminal Stasiun Pasar Senen yang dulu dikuasai kawan Anda, Pi’ie. Di sana saya menemukan buku berbungkus plastik lusuh, judulnya Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949, yang ditulis Robert Cribb. Anda kenal dengan Cribb? (Pertama kali saya tahu buku itu sekitar 2010 lalu di rak buku teman saya yang namanya Ketel—nama aslinya Wiwid Subekti.)

Buku itu mula-mula ditawarkan dengan harga Rp50 ribu, tapi sayan terus menawarnya dengan harga paling murah. Dengan mengancam hendak memecahkan kepala saya, penjual itu akhirnya melepaskan buku itu dengan Rp25 ribu saja. Mendapatkan buku tentang jagoan dengan cara sedikit jagoan, tidak apa-apa kan, Ji? Hehehe…

Dari situlah saya tahu nama Anda, juga sejawat Anda yang sebagian besar berprofesi Jago seperti Anda.

“Gerombolan bandit juga menyediakan badan organisasi yang dinamis dan sekumpulan pendukung yang penuh semangat serta tidak mudah diintimidasi penguasa kolonial […] di antara segelintir itu terdapat pentolan gerombolan yang biasa dipanggil Muhammad Arif dari Klender. Dengan nama Haji Darip, ia memainkan peran utama dalam revolusi 1945 di Jakarta.” Deskripsi Cribb itu membuat saya langsung jatuh cinta dengan Anda.

Anda memang jagoan jempolan. Saya dengar, selain sebagai Jago, konon Anda adalah seorang pemuka agama yang diyakini memiliki kekuatan untuk memberikan jimat dan dan kekebalan kepada pengikut-pengikut Anda. Saya juga dengan bahwa Anda juga terlibat dalam pemogokan buruh kereta api tahun 1923, jauh sebelum PKI-nya Semaoen melalukan hal yang sama.  Tak hanya itu, dengan karisma yang Anda miliki, Anda juga berhasil menarik perhatian para penjahat untuk menjadi pengikut Anda dan menciptakan apa yang kemudian disebut dengan “tanah perdikan” yang membentang dari markas Anda di Klender ke utara hingga Pulogadung, ke timur hingga Bekasi, dan ke barat hingga Jatinegara.

Wow, Anda memang bukan jago sembarangan!

Saya juga menjadi tahu kelebihan Anda—ini kata Cribb lo, Ji—kabarnya Anda adalah sosok yang mampu memadukan kriminalitas dan patriotisme hanya dengan menjarah orang-orang yang berkulit terlalu terang. Entah itu Cina, Eurasia, bahkan Eropa. Orang-orang dengan kulit agak gelap, seperti Ambon dan Timor, juga menjadi korban Anda ya, Ji? Anda punya dendam pribadi toh kepada mereka? Hehehehe…

Oh iya, Ji, seperti saya tulis di awal tai, dari Cribb saya juga kenal dengan beberapa jago lain yang malang-melintang pasca-’45 lainnya. Anda pernah bertemu dengan Macan, tidak? Dengan Pi’ie pasti pernah dong? Apalagi dengan Panji, wong dia menantu Anda! Tapi saya agak kesal dengan Panji. Menurut saya, dia sedikit oportunis. Masak, gara-gara kekuatan dan kekuasaannya hilang, dia akhirnya memilih membelot ke Belanda? Bagaimana perasaan Anda ketika tahu itu, Ji?

Ji…

Belum lama ini saya juga bertemu dengan mantan lasykar yang berjuang di sepuran ‘45. Namanya Arsilan. Dia dari Banten. Dia sekarang tinggal di sebuah gubuk kecil yang menempel di pagar bagian timur Taman Tugu Proklamasi di Menteng. Alasan yang dikemukakannya ketika saya menanyainya tentang kenapa memilih tinggal di situ adalah tidak ingin jauh-jauh dari rumah Bung Karno. Saya kira itu alasan yang dicari-cari untuk menyembunyikan ketidakpedulian pemerintah terhadap para veteran.

Usia Mbah Arsilan kini 93 tahun. Meski demikian, banyak hal yang masih dia ingat. Dia tahu betul di mana posisi Bung Karno, dia juga masih hapal beberapa nama yang hadir di Jumat keramat itu. pascapembacaan teks itu, Mbah Arsilan memilih untuk ikut keluarganya: bekerja di rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur yang sekarang berubah menjadi Jalan Proklamasi. Dia juga bercerita bahwa Bung Karno orangnya asyik, Beliau mengizinkan teman-teman Mbah Arsilan untuk sekadar nongkrong dan bermain kartu di rumah tersebut.

Begini, Ji. Saya tidak hendak memperkenalkan Anda dengan Mbah Arsilan. Saya cuma pingin memberi tahu bahwa ada rekan seperjuangan Anda yang kini hidupnya terlunta-lunta—setidaknya menurut saya demikian—tanpa ada yang memperhatikan. Dalam waktu dekat saya mau mengunjunginya; saya punya janji untuk membingkaikan foto dirinya yang saya jepret dengan kamera kantor belum lama ini.

Hari Darip yang jagoan…

Besok tanggal 17 Agustus 2015. Indonesia hendak merayakan hari jadinya yang ke-70. Bagaimana perasaan Anda, Ji? Negeri yang Anda bela-bela dulu kini semakin renta. Bukan semakin baik, dalam beberapa hal, negeri ini semakin terpuruk dan semakin banyak masalah. Ini soal perbanditan. Nah sampai juga kita di sini. Begini. Jangan tersinggung, ya, Ji; negeri ini memang sarang para bandit. Dari dulu hingga sekarang bandit berkeliaraan di mana-mana.

Jika dulu para bandit dan jago berjuang bertaruh nyawa—kalau salah mohon dikoreksi, ya, JI—untuk membela negeri ini. Berbeda dengan bandit dan para jago sekarang. Mereka menyamar menjadi wakil-wakil rakyat, pejabat-pejabat partai, hingga tokoh-tokoh agama, demi memuaskan isi perut dan syahwat mereka. Mereke mengenakan dasi, mengenakan stelan jas yang paling mahal, duduk di kursi paling empuk, dan mengendarai mobil dengan nomor plat ringkas; di depan banyak orang menebar gincu, tapi tak lama kemudian mereka pergi ke rumah karaoke bersama bandit lainnya untuk membincangkan tender triliunan rupiah. Ah, saya jadi ngelantur, Ji.

Ji…

Anda kangen Jakarta tidak?  Oh, saya tahu, Anda pasti sangat rindu dengan Klender. Saya beri tahu, ya, Ji. Sekarang kota yang dulu Anda bela ini sudah punya gubernur baru. Orangnya galak, sangat galak bahkan, terutama terhadap orang-orang yang hidupnya di bantaran kali. Saya yang bukan orang asli Jakarta saja terkadang kagum. Tapi sayang, dia selalu mingkem jika dihadapkan dengan para pengembang berkantong tebal. Jika sempat, temuailah gubernur itu di mimpinya. Siapa tahu Anda bisa menegurnya.

Satu lagi, Ji…

Jika Anda sempat berjalan-jalan di swargaloka, tolong sampaikan salam ke kakek saya, namanya Dasyrip. Setiap ingat nama Anda, saya juga ingat nama kakek saya itu. Darip dan Dasyrip, emmm, mirip-mirip, bukan? Hehehe

Ah, maafkan saya. Surat saya terlalu panjang untuk orang tua seperti Anda. Bacalah jika sempat, buanglah jika tidak ada manfaat.

Salam.

Habib di Ciputat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s