Indomie Telur Semut

Kalian kayaknya harus mencobanya. Ini kuliner dahsyat. Saya menemukannya secara tidak sengaja. Yaowoh, dibilangin kok. Ini benar-benar indomie telur semut alias indomie telur yang ada semutnya. Tidak, tidak satu atau dua, tapi buaanyak. Buanyaak…

Ceritanya begini: siang tadi, saat mau memastikan keberadaan Mbah Arsilan–lantas mewawancarainya untuk rubrik Sorotan Intisari Agustus–saya mampir ke sebuah warung sederhana yang nempel di tembok pembatas Taman Proklamasi yang di Menteng itu. Awalnya saya pesan nasi biasa, tapi ibunya bilang nasinya habis. Yasudah, saya pesan indomie telur. Saya juga memesan segelas kopi hitam sasetan.

Tak lama berselang, pesanan saya datang.

“Bu, tahu rumahnya Mbah Arsilan, yang katanya dulu bekas tukang kebunnya Bung Karno itu?” Saya iseng-iseng bertanya sembari bilang terimakasih karena pesanan saya sudah jadi cepat.

“Wah, itu mas gubuknya. Tapi orangnya lagi pulang kampung. Ke Banten.” Saya cuma bilang oh sembari bersiap menyantap indomie telur yang masih kebul-kebul asapnya.

Tapi, tapi, sepertinya kok ada yang aneh. Seperti taburan bawang goreng tapi kecil-kecil. Saya amati lagi, bukan taburan bawang ternyata. Sekali lagi, dan saya baru sadar itu semut. Tidak hanya satu, tapi buanyakkk.

Saya agak njegidek. Awalnya ingin protes, tapi saya mengurungkan niat. Saya ndak enak sama ibunya karena sudah memberitahu keberadaan Mbah Arsilan. Tapi tetap saya, saya masih njegidek. Oh iya, saya agak gimana gitu dengan makanan/minuman yang kemasukan semut. Dulu saya pernah muntah-muntah setelah mencuri kopi bapak yang ternyata di dalamnya banyak dirubungi semut.

Saya ragu-ragu untuk memakannya. Tapi yasudah. “Ketoe enak makan semut rebus,” saya mbatin dan langsung menyantapnya.

Sesendok, dua sendok, tiga sendok, dan banyak sendok. Dan habis. Ffiuuhh, akhirnya saya berhasil menghabiskan indomie telur semut yang ladzid jiddan itu. Hehehe, saya liat ibunya yang mesem-mesem-maksa. Merasa tidak salah.

Saya lalu pamit sama ibunya, dan tak lupa bilang terimakasih.

Sekitar 10 meter dari warung, saya nyamah senyamah-nyamahnya, “Diancoooookkkk… mangan indomie telur semut, cookk…”

Sekitar 10 meter dari warung, saya nyamah senyamah-nyamahnya, “Diancoooookkkk… mangan indomie telur semut, cookk…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s