Mendoakan Angeline, Mengingat Jessica

Kematian Angeline mengingatkan saya pada kasus pembunuhan Jessica Lunsford. Saat meninggal, usia keduanya tidak terpaut jauh, Angelina 8 sementara Jessica 9. Cara meninggal keduanya juga persis, keduanya sama-sama dikubur–dan diperkosa sebelumnya. Tak hanya itu, saat dikubur, mereka berdua juga sama-sama tengah memeluk erat boneka kesayangannya. Jika boneka Angeline adalah sosok perempuan Korea dengan rambut panjangnya, maka boneka Jessica adalah seekor lumba-lumba ungu yang lucu itu.

Foto: Tribun Bali

Foto: Tribun Bali

Saya mengenal Jessica–paling tidak itu anggapan saya–saat mendapat tugas untuk menulis artikel buat rubrik Perkara, Intisari. Setelah mencari dan memilah beberapa kasus kriminal yang ada, pilihan saya jatuh pada kasus Jessica yang terjadi pada 2005 lalu. Gadis kelahiran 6 Oktober 1995 itu adalah gadis kecil yang periang dan sangat dekat ayahnya, Mark Lunsford. Maklum, sejak berusia satu tahun ia harus berpisah dengan sang ibu karena perceraian. Ia juga sangat dekat dengan nenek dan kakeknya, juga orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Sejak kecil ia ingin menjadi atlet Olimpiade. Ia juga ingin menjadi penyanyi profesional, jika ada waktu, ia akan mengajak ayahnya untuk berkaraoke di Saloon Bar and Grill, di North Carolina, langganannya.

Tapi sejak pagi itu, tampaknya ia harus mulai melupakan cita-citanya yang agung itu. Ia terbangun bukan lantaran bunyi alarm yang distelnya, atau karena suara kokok ayam, ia terbangun lantaran mendengar seseorang mendobrak pintu kamarnya. Bukan, itu bukan ayahnya. Ayahnya pasti mengetuk pintu dulu sebelum masuk; ia tahu putrinya paling tidak suka orang yang masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu. Ada tulisan “Ketuk Dulu Baru Masuk” di pintu kamar Jessica.

Tampang pria itu menyeramkan, wajahnya lebih tua dari umurnya yang 46. Kepalanya botak, matanya nanar dan terlihat seolah kurang tidur. Jessica hendak menjerit, tapi pria botak yang ternyata bernama John Avander Couey itu langsang mengancamnya. “Jangan berteriak, atau kau akan ku…” Jessica sontak terdiam. Dan takut. Ia bahkan tidak melawan ketika pria berwajah cabul itu mengajaknya ke rumah saudaranya Couey. Di sebuah kamar di rumah itu, Couey lantas memperkosa Jessica yang masih ingusan. Dua kali pula.

Foto: Murderpedia.org

Foto: Murderpedia.org

Di waktu yang hampir bersamaan, ayahnya kelimpungan saat melihat kamar Jessica kosong melompong. Hanya tersisa boneka harimau di sana. Kakek dan nenek Jessica juga tidak tahu keberadaannya. Tanpa pikir panjang, Mark mengontak 911, menelepon kantor polisi terdekat.

Saat berita Jessica mulai menyebar, Couey mulai gentar. Untuk menyembunyikan jejaknya, Couey menyuruh Jessica masuk ke dalam lemari dan ia menguncinya dari luar. Sebelumnya ia mengancam agar Jessica tidak berkata sedikitpun, lebih-lebih meronta dan memukul-mukul pintu lemari. Untuk sementara, cara itu berhasil karena tidak satu pun penghuni rumah itu tahu jika ada “tamu” di situ.

Couey menyekap Jessica di dalam lemari selama tiga hari. Sementara isu hilangnya Jessica semakin menyebar luas. Couey semakin panik. Ia harus melakukan sesuatu, pikirnya. Lalu cara biadab itu dipilihnya: mengubur Jessica hidup-hidup. Nanti, ketika situasi sudah kondusif, ia bisa mengangkatnya lagi.

Jessica pun dimasukkan ke dalam kantong plastik besar yang ujungnya saling dikaitkan. Plastik itu itu lantas dikubur pada galian yang tidak terlalu dalam di belakang rumah saudaranya. Sejak awal, Couey memang tidak bermaksud membunuh Jessica. Ia hanya ingin memperkosanya kemudian memulangkannya kembali. Tapi apa lacur, orang panik memang kerap berpikir pendek. Jessica pun tewas karena kehabisan oksigen, kemungkinan yang tidak dipikirkan Couey sebelumnya.

Selanjutnya, melalui proses yang berbelit, pada 11 Maret 2005, pengadilan menjerat Couey dengan hukuman mati. Couey pun akhirnya mati, tapi bukan karena hukuman mati, tapi karena kanker dubur yang dideritanya.

Saat ditemukan, Angeline dan Jessica sama-sama memeluk boneka kesayangannya. Keduanya juga sama-sama ditemukan dalam keadaan terkubur. Yang berbeda hanyalah pembunuhnya–dan (mungkin) motifnya. Jika Jessica dibunuh–meski tidak sengaja awalnya–oleh orang yang tidak ia kenal, maka pembunuh Angeline, seperti yang ramai diberitakan, adalah orang terdekatnya. Saat ini memang baru Agus yang menjadi tersangka, tapi tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang terlibat. Dan siapa pun itu pelakunya, berhak mendapat hukuman yang paling berat.

Mari berdoa untuk Angeline, di Surga sana, semoga ia bertemu dengan sosok-sosok yang lebih menyayanginya!

Kebon Jeruk, 11 Juni 2015

2 comments

  1. Adhimas Faisal · June 11, 2015

    kebon jeruk adalah koentji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s