Medan, Tante! (bag.1)

Bandara Internasional Kuala Namu (sumber: wikipedia.org)

Bandara Internasional Kuala Namu (sumber foto: wikipedia.org)

Akhirnya saya sampai juga di Medan. Sejatinya tidak ada yang terlalu menarik dengan kota ini. Apa lacur, sesaat turun dari kereta api Railink yang menghubungkan Bandara Udara Kuala Namu dan Kota Medan, saya langsung disuguhi sebuah kota metropolitan serupa Surabaya. Dengan panas dan jumlah mal yang hampir sama.

Meski demikian, ada beberapa hal tetap bisa membuat saya ternganga dan bilang, “Wow!”.

Bandara Udara Kuala Namu yang resmi beroperasi pertengahan 2013 lalu adalah salah satunya. Jika kebanyakan bandara di Indonesia dibangun dengan aroma atap joglo atawa atap-atap rumah tradisional di daerah-daerah, maka Bandara Udara Kuala Namu memberi pemandangan yang berbeda. Saya sendiri tidak tahu, itu jenis atap apa.

Yang jelas, ini adalah bandara udara dengan gaya paling modern yang pernah saya lihat di Indonesia. Hehehehe… Selain Kuala Namu adalah bandara terbesa kedua setelah Soekarno-Hatta, ada satu keunikan lagi dari Kuala Namu. Yaitu adanya stasiun kereta api yang langsung terintegrasi dengan bandara, dan ini konon adalah yang pertama dan masih satu-satunya di Indonesia.

Lorong yang menghubungkan bandara dan stasiun kereta api Kuala Namu

Lorong yang menghubungkan bandara dan stasiun kereta api Kuala Namu (Foto: Habib)

Untuk menuju ke Kota Medan, sekeluarnya dari pintu utama bandara kita akan disambut oleh pintu utama stasiun kereta api. Tidak perlu beli tiket lagi, cukup dengan boarding pass yang kita gunakan ketika naik pesawat. PT Railink, operator utama kereta api Kuala Namu-Medan ini usut punya usut merupakan perusahaan patungan antara PT Angkasa Pura dan PT Kereta Api Indonesia.

Daleman kereta juga bersih dan rapi. Kursinya tidak memanjang seperti kursi kereta api pada umumnya di Indonesia. Di bagian tengah disediakan bagasi khusus tempat barang bawaan. Jadi, kita tidak perlu lagi menenteng barang bawaan ke kursi tempat duduk kita.

Beginilah daleman Railink Kuala Namu - Medan. Matoh kan? (Foto: Habib)

Beginilah daleman Railink Kuala Namu – Medan. Matoh kan? (Foto: Habib)

Belum sepenuhnya sempurna memang; laju kereta api masih cukup lambat, relnya juga masih tunggal, sehingga kerap terjadi kres—istilah penumpang kereta api untuk menyebut kereta api yang saling bersilangan. Meski demikian, langkah ini seperti patut dicontoh oleh kota-kota lain.

Sedikit soal Bandara Internasional Kuala Namu. Konon, bandara ini sudah diwacanakan sejak 1992 ketika Menteri Perhubungan saat itu, Azwar Anas datang ke Medan. Wacana ini diambil sebagai upaya untuk mengganti Bandara Internasional Polonia yang terlalu tua. Persiapan pembangunan sudah dicanangkan sejak awal tahun 1997, tapi apa lacur, krisis moneter tiba-tiba menghajar segalanya, termasuk pembangunan mega proyek bandara yang dibangun di atas lahan bekas perkebunan PTPN II Tanjung Morawa, Deli Serdang itu.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s