Pengamen

Ada beberapa pengamen yang saya suka. Tidak banyak. Mungkin hanya dua atau tiga pengamen saja yang benar-benar bisa encuri hati dan membuat saya sejenak menghentikan aktivitas lantas menikmatinya dengan seksama. Sejatinya tidak ada patokan khusus apa lagu yang dinyanyikan oleh si pengamen. Yang penting, lagu yang dinyanyikan bisa mempesona hati, dan paling tidak merelakan diri untuk merogok kocek, mesti ndak dalam.

DSC_0045

***

Pengamen pertama adalah yang saya temui di Terminal Bunder, Gresik. Orang-orang daerah saya sering menyebutnya “Mbunder”. Lagu yang dibawakan sangat khas, kebanyakan dangdut, atau lagu-lagu non dangdut yang sengaja didangdutkan. Sedikit terdengar seperti dangdut koplo, tapi bagi saya tidak masalah yang penting enak dan tidak merusak memori masa kecil saya.

Oh iya, soal merusak memori masa kecil. Saya kira semua orang mempunyai memori masa kecil. Kebanyakan akan mencak-mencak jika ada sesuatu hal yang secara serampangan merusaknya. Dan yang saya rasakan. Dulu kita mendengar lagu-lagunya Caca Handikan terkesan sangat syahdu dan enak, tapi sekarang, setelah berkembang fenomena dangdut koplo, lagu-lagu itu berubah menjadi beringas.

Juga lagunya Elvi Sukaesih yang “Kereta Malam”. Dulu syahdu, sekarang jadi liar dan binal.

Baiklah, Bens Leo, si pengamat musik itu, menyebut pengoploan ini sebagai perkembangan budaya pop, tapi bagi saya ini adalah jenis perusak memori masa kecil paling biadab yang pernah ada. Semoga lagu Mulut Kampret-nya Nasida Ria tidak bernasib sama.

Kembali ke soal pengamen. Pengamen yang biasa saya temui di Terminal Bunder tadi terdiri dari dua orang saja. Satu memegang gitar dan satunya lagi memegang alat musik tabuh yang terbuat dari tiga pipa paralon yang dibebal dengan ban dalam. Bunyinya tak dung tak dung sepeti gendang.

Sejatinya mereka berdua tak berbeda dengan pengamen-pengamen yang lain. Yang bagi saya paling memebedakan adalah karena dari dua pengamen itu untuk pertama kalinya saya mengenal alat musik pukul aneh dari pipa paralon yang berbunyi tak dung tak dung itu.

Pengamen kedua adalah yang biasa saya jumpai di bis Sumber Kencono (sekarang Sugeng Rahayu). Alat yang dipakai tidak berbeda jauh dengan para pengamen yang saya temui di Bunder, Gresik, termasuk alat pukul dari tiga paralon yang berbeda ukuran itu. Selain mereka memakai gitar dan bukan okolele, satu hal yang paling membedakan adalah lagu-lagu yang dibawakan; rata-rata genrenya campursari ala Cak Dikin, Sony Jo, dan Didi Kempot.

Mereka biasanya membawakan banyak lagu; bahkan hampir setengah jam. Cukup berhasil sepertinya, jika ukurannya adalah banyaknya penumpang Sumber Kencono yang menyisihkan seribu-duaribu untuk diberikan kepada mereka.

Yang teringat oleh otak adalah satu personil laki-lakinya—mereka bertiga; satu perempuan dan dua laki-laki. Selain menenteng gitar yang dilengkapi harmonika di bagian atas gitarnya, dia selalu menyematkan slayer sebagai penutup kepada mirip dengan pendekar-pendekar di film Saur Sepuh atau Tutur Tinular,  juga bibir hitamnya yang pekat khas pengkretek kawakan.

Tidak hanya sekali dua kali saya menjumpai mereka, tapi hampir setiap pulang atau balik dari Lamongan. Biasanya mereka akan mulai naik dari terminal Ngawi Baru dan baru akan turun ketika sudah mulai memasuki Mantingan. Pernah juga menemuinya naik dari Caruban dan turun di Madiun. Kali ini dia membawa serta topeng monyetnya … eh salah ding, itu pengamen lain. Hehehe…

Pengamen ketiga merupakan pengamen yang baru saja saya jumpai belum lama ini ketika sudah di Jakarta saat naik P20 arah Lebak Bulus-Pasar Senen. Si pengamen, sudah lumayan tua, naik dari kolong perempatan Pondok Indah.

DSC_0044

Hanya dua lagu yang dibawakan oleh pria bertopi ini. dua-duanya lagunya Iwan Fals. Untuk lagu pertama saya benar-benar kesulitan mengenalinya, sementara lagu kedua itu jelas-jelas Si Budi Kecil yang mashur. Tapi sayang, pak tua itu tidak lama mengamennya, tepat di perempatan Trakindo, Cilandak, Si Pak Tua turun.

Saya memang tidak pandai bernyanyi apalagi memainkan gitar. Tapi paling tidak saya bisa membedakan mana pengamen yang bagus dan mana yang tidak. Ada yang berniat menawari jadi juri lomba pengamen?

Tabik!

Jakarta, 13 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s