Utuk Sudah Mulai Doyan Kopi Item yang Pait

Utuk main catu sama Dila, sepupunya.

Utuk main catu sama Dila, sepupunya.

“Om, itu apaan?”

Sekonyong-konyong Utuk menghampiri kopi yang barusan saya buat. Saya menjelaskannya kalau itu kopi, tapi dia masih terus bertanya.

“Kok warnya begitu, om?” Utuk tetep ngenyel.

Namanya Putra, tapi kawan-kawannya, ibunya, dan kakak-kakanya, om-omnya suka manggil dia Utuk. Cukup sederhana. Hanya neneknya yang keukeuh manggil nama aslinya, Putra.

Rumah kami tetanggaan, berada dalam satu gang yang cukup ramai di pinggiran Ciputat. Sebagian besar yang tinggal di gang itu adalah mahasiswa dan pedagang asongan. Rata-rata dari Jawa dan Bima. Utuk sendiri berdarah Bima. Itu saya ketahui karena keluarga besar Utuk kerap mengadakan acara-acara yang sifatnya primordial.

Keluarga nenek utuk juga kerap berbincang menggunakan bahasa Sasak, meski saya tidak yakin Utuk sanggup bertutur dengan bahasa Sasak. Dia lebih fasih menggumpat ala anak-anak yang besar di pinggiran Jakarta. Umurnya saat ini kira-kira 4 tahunan.

Utuk kerap bermain di kosan saya. Sendirian atau dengan kakak dan kawan-kawannya. Neneknya Utuk sendiri merasa lebih aman jika Utuk di kosan saya ketimbang bermain jauh. Dibanding ibunya, neneknya memang lebih was-was dengan keadaan Utuk. Ya, bisa jadi, karena waktu Utuk dengan neneknya jauh lebih banyak dibanding dengan ibunya yang sibuk bekerja.

Bukan sekali dua kali Utuk nimbrung minum kopi yang saya bikin—atau saya beli jika malas. Meski begitu, saya belum melihat Utuk minum kopi hitam. Dulu pernah saya tawari tapi dianya menolak. Dia lebih memilih kopi yang warnanya agak coklatan, alias kopi susu. Beberapa kali dia juga minta kopi kemasan yang rasanya manis yang hanya cukup menghilangkan haus belaka.

Tapi siang itu Utuk menunjukkan perkembangannya yang signifikan terkait kopi. Saya selalu percaya, orang yang mengaku menyukai kopi tapi beli kopinya coffiemix sasetan atau white-coffie yang sekarang lagi marak saja, belum sepenuhnya menyukai kopi.

Selepas bertanya perihal kopi yang barusan saya buat, Utuk bilang, “Om, minta dong!” Dia saya tawari yang ada di lepek tapi tidak mau karena menurutnya terlalu banyak letheknya—orang desa saya menyebutnya enthek. Dia memilih yang di gelas, “Tapi ndak mau pake sendok, om.”

Akhirnya dia ambil gelas yang ada kopinya itu dan meminumnya. “Enak om,” ujarnya bangga. Saya hanya ketawa-ketawa menang sembari mengajaknya bermain catur.

Prestasi yang barusan dia ukur juga turut diinfokan ke Iya, kakaknya, yang tampak ceria mendapatkan handuk dengan foto salah satu caleg yang gambarnya banyak nampang di sekitar kosan. “Kak, aku barusan minum kopi itu,” kata Utuk sembari menunjuk kopi yang hendak saya minum.

Setelah bermain catur, Utuk minta kopi saya sekali lagi. Kali ini sepertinya lebih banyak dari yang pertama. Terlihat dari lamanya dia meneguk.

“Enak nggak Tuk?” tanyaku.

“Enak…” Jawab Utuk singkat.

“Enak apa pait?” tanyaku sekali lagi memperjalas.

“Hee.. pait om. Minta ail dong,” Utuk yang belum fasih mengeja huruf “R” akhirnya minta air putih. Lagi-lagi saya terkekeh kecil. Melihat wajah Utuk yang mulai menyedihkan, karena menahan pait, saya lekas ke belakanga mengajak serta Utuk. Saya ambilkan segelas minum dan memberikannya ke bocah empat tahun itu.

Melihat Utuk yang sudah mulai meminum kopi hitam pait tiba-tiba saya ingat masa kecil saya. Saya kerap menjadi tertuduh utama ketika kopi yang dibikin kakek saya berkurang dari batas terakhir dia minum. Kakek saya memang tidak pernah salah karena memang saya kerap diam-diam menyeruput kopinya yang ditaruhnya sembarangan.

Tabik!

Kosan Ciputat, 2 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s