Kotak Minuman Itu Telah Mencuri Uang Saya!


Memang tidak banyak, sih. Hanya 5 ribu rupiah. Iya, LIMA RIBU RUPIAH SAJA. Tapi tetap saja kotak minuman itu telah mencuri uang saya. Kotak itu menelannya dan tak mengembalikannya lagi. Sial.

Baiklah, saya memang pernah mencuri, 1oo, 200, atau sedikit lebih besar: seribu, duaribu, sudah. Tapi tetap saja saya kesal, karena kotak itu tidak mau mengakui alih-alih mengembalikan padahal saya dengan mata kepala memergokinya mengembat uang tersebut.

Benar, saya juga tidak mengembalikan uang curian saya, dulu. Ya, karena tidak ada yang tahu. Barangkali cuma Tuhan.

Sore itu, setelah magrib, saya putuskan untuk pulang dari Senayan. Saya pamit ke Mbak Sasha, tapi hanya lewat WhatsApp di telepon genggam yang sok-sokan pintar. Seharian itu, saya berada di Jakarta Convension Center. Ada acara Indoneseia Fashion Week 2014 siang itu. Beberapa hari sebelumnya saya bertemu seorang kawan lama di sebuah tempat di Jakarta Pusat. Dia memberi selembar undangan. “Datang ya, Bib. Saya masuk 10 besar Indonesia Fashion Design Competition,” kata kawan saya itu.

Sial, kawan saya itu tampilnya di hari pertama peragaan, alias hari Kamis tanggal 20 Februari, jadi dengan berat hati saya bilang tidak bisa. Tapi saya bilang, mungkin akan datang pada Sabtu kalau tidak Minggunya. Dan saya datang di hari Minggu, meski tiket saya mardud alias ditolak karena itu undangan buat hari pertama thok. Saya hanya masuk di ruang pameran, itu pun menggunakan ID card pinjam punya Mbak Sasha.

Seperti biasa, dari Senayan ke Ciputat saya naik APTB alias Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (nda uenak nyebutnya…) dari halte Gelora Bung Karno. Berjalan beberapa meter membuat sedikit ngos-ngosan dan haus. Setelah membeli tiket, saya membeli minuman kemasan yang biasa nangkring pada sebuah kotak di pojokan halte. Ah, itu loh, kotak merah dengan tulisan dan logo sebuah korporat besar di Amerika Serikat yang suka produksi minuman-minuman kemasan.

Saya masukkan satu lembar lima ribu rupiah. Memencet tombol sesuai kode minuman. Crek…crek…crek… mesin mulai menuju sudut di mana minuman yang saya pesan terpajang, tapi, minuman itu tidak terbawa, melainkan nyangkut. Mesin sudah didesain otomotis, rasanya mustahil menunggu mesin itu kembali ke posisi semula lantas mengambil minuman pesanan saya yang nyangkut.

DSC_0034

Saya bilang ke mas-masnya yang jaga pintu masuk halte Transjakarta. “Wah, itu bukan wewenang saya, mas,” kata mas-mas penjaga itu dengan sangat tidak prihatin. Mas-mas itu juga bilang jika pihak yang paling berwenang dengan kotak merah berisi botol-botol minuman itu tidak pernah menitipkan kunci kotak jika ada masalah.

Jawaban itu, bagi saya tentu sangat menyebalkan. Mas-mas itu terlihat tak acuh dengan uang lima ribu saya yang kadung lenyap dimakan kotak sialan itu. Iya, itu hanya satu lembar lima ribuan, tapi cara kotak itu memperlakukan pelanggannya, saya rasa sangat tidak menyenangkan.

Bahkan, tiba-tiba saya merasa selembar lima ribu itu tiba-tiba jauh lebih berharga. Lebih berharga dibanding dengan ponsel samsung saya yang dicolong (atau jatuh?) orang beberapa bulan yang lalu.

Saya mengandai-andai, bagaimana jika kasus nyangkutnya minuman dan uang tidak kembali tidak hanya menimpa saya, tapi banyak orang? Jika terdapat 10 orang senasib seperti saya, berarti sudah ada lima puluh ribu uang yang ditelan. Jika itu terjadi di hari-hari selanjutnya, bisa jadi uang yang ditelan semakin banyak. Semakin kaya dong korporat penyedia kotak berisi botol-botol minuman itu tanpa harus mengeluarkan produk minumannya (karena nyangkut).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s