Catatan Harian Nenek Moyang

Mars, 3016

Beberapa hari yang lalu saya masih menikmati sebuah buku catatan harian milik nenek buyut saya. Iya nenek buyut, alias neneknya, neneknya, neneknya, neneknya…ibunya ibu. Bukan, itu bukan catatan sejarah peradaban dunia yang nanti akan dijadikan rujukan utama penelitian sejarah peradaban. Itu hanya catatan biasa, seputar hidup yang biasa saja, tapi penuh makna.

Catatan itu ditulis kisaran tahun 2013-2014 di Bumi, ya kira-kira satu milenium yang lalu. Sebenarnya Oma yang pertama kali memperlihatkan catatan itu pada saya. Waktu itu, Oma saya yang terkenal bawel dan sedikit penakut dengan gelap ini menceritakan bahwa nenek moyangnya itu adalah perempuan yang cerdas. Suaminya, alias kakek moyang saya konon menjadi salah satu inspirasi setiap catatan yang ditulisnya.

Catatan itu sendiri berhasil dibawa oleh Oma saya ketika hendak pindah ke Mars. Sekitar 60 tahun yang lalu, bumi porak-poranda oleh egoisme beberapa orang. Catatan ini lebih pada bagaimana nenek moyang saya bertemu dengan kakek. Saya akan menuliskannya, meski hanya sepotong-potong.

Bumi; Indonesia, 2013

Hampir setahun saya menghabiskan waktu sebagai seorang voluntir di salah satu organisasi sosial di sebuah kota pelajar di Indonesia. Saya tidak akan berbicara banyak ihwal kota yang semaki padat dan tidak beradab ini. Saya memperkirakan, suatu saat, kota akan ini akan sama kacaunya dengansi ibu kota.

Pengabdian ini membawa saya ke sebuah daerah gersang di pesisir Jawa Timur bagian barat, Lamongan. Daerah gersang yang cukup menantang untuk ditaklukkan. Tidak hanya intelektualitas, tapi Anda juga harus membutuhkan kesabaran dan keuletan untuk bertahan lebih lama di daerah itu.

Tapi sudahlah…

Catatan tentang Lamonga tidak banyak, apalagi perihal pernikahan dini—fokus penelitian saya. Tentu saja ini berkebalikan dengan banyaknya kasus di kota yang terletak sejajar dengan dua kekuatan bahari pada zamannya, Tuban dan Gresik.

Jika tidak salah, antara Juni atau Juli saya pertama kali ke Lamongan. Bertanya dari rumah satu ke rumah yang lain, dari perempuan satu ke perempuan yang lain. Rasanya belum cukup memuaskan untuk sekadar menjadi laporan penelitian, maka saya memutuskan untuk mengangkatnya menjadi tema skripsi S1 di Jurusan Antropologi sebuah kampus mahal di Jogja. Bagaimanapun juga, saya sudah memtuskan untuk menfokuskan diri dengan masalah tersebut.

Tapi sial, keputusan ini justru membuat saya berkenalan dengan manusia absurd yang angin-anginan dalam banyak hal. Dengannya, saya banyak membicarakan banyak hal. Nanti…

Juli, 2013

Saya masih mencari sumber-sumber referensi, baik dari internet atau pustaka lainnya. Lantas saya menemukan sebuah blog biadab yang sok-sokan membahas Lamongan—setelah sedikit kepo, saya tahu si pemiliki blog ini dulunya mengangkat tema pesantren di Lamongan pada skripsinya. Selain Lamongan, orang ini juga menulis hal-hal remeh temeh lainnya yang pernah bersinggungan dengannya. Termasuk bus jahanam bernama Sumber Kencono (sekarang Sugeng Rahayu).

“Hehehe, apik Bang! Terakhir saya ke terrminal Giwangan, bis langganan abang ni masih eksis. Sibuk angkut paket tapi. (:” Demikian komentar pertama saya di blog tersebut. Tertanggal 7 Juli 2013.

Tak hanya itu, setelah itu, beberpaa kali saya masih menulis komen di tulisan-tulisan dalam blog yang sangat primordial tersebut. Misalnya, “Waaah luar biaso “si mudik”. Ternyata sampai memunculkan rasa baru, berpendar pula (keknya nda ada kata terpendar deh) hihihi. Salam kenal Bang!(:” Komen itu tertanggal 15 Agustus 2013.

Setelah itu, obrolan saya dengan si pemilik blog semakin intensif. Ya, sekadar saling bully dan ejek, meskipun saya yang lebih sering kena bully. Maklum masih “newbe”. Di sisi lain, kami akan mengobrolkan hal-hal yang menjadi fokus saya akhir-akhir ini. Dia mengaku dari Lamongan, tulisan-tulisannya juga beberapa tentang Lamongan, rasanya tidak berlebihan jika saya sedikit ngobrol dengan dia. Ya, meskipun terkadang sangat tidak memuaskan…

September, 2013

…saya tidak tahu persis kapan tanggal pastinya. Semua mengalir begitu saja, sampai akhirnya dia mengirimi saya sebuah lagu yang diaransemen dari puisinya Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin. Keknya, semua cowok yang sedang pedekate sama cewek harus punya bekal lagu ini, liriknya sederhana tapi dalam. Entah kenapa, kami tiba-tiba menjadi sepasang pacar, dengan satu catatan besar, kami belum pernah sekalipun bersitatap muta…

Nopember, 2013

Ini adalah kali pertama kami bersitatap muka. Yup, benar, kali pertama. Tentu saja ketika berada di stasiun, kami masih saling bertanya, “abang pakai baju apa?” atau “Ade pake sweatter putih” dan pertanyaan-pertanyaan sepele yang lain. Tentu saja saya senang alang kepalang, kami bermain ABC, makan bakmi rebus di emperan jalan Ahmad Dahlan, ngobrol panjang lebar di lapangan alun-alun utara keraton.

Beberapa hari sebelum kedatangannya, saya sempat ngambek sama dia karena dia dengan seenaknya hendak membatalkan niatnya untuk pergi. Tiket kereta yang habis menjadi alasan basi yang sebenarnya bisa dibeli jauh-jauh hari. Tapi untungnya, dia tanggap dan tak ingin mengecewakan pacarnya; dia membeli tiket kereta untuk tanggal 8 Nopember dan balik lagi ke tempat kerjanya dua hari setelahnya..

Januari, 2014

Januari ini menjadi kali kedua kami bertatap muka. Meski beberapa kali kita melakukan v-call via gmail, tapi rasanya tak seindah langsung bertatap muka dengan pacar. Aih, senangnya. Hehehe.. Menurutku, yang kedua ini lebih berwarna dari kunjungannya yang pertama; kami menonton film, makan lumayan mahal meski sedikit membuat mual—emang dasar perutnya saja yang kampungan, naik transJ berdua, sembari sesekali mengutuki lalulintas kota yang kian padat.

Ah, ada satu peristiwa lucu. Di salah satu adegan dalam film yang kami tonton, saya merasakan tangannya gemetar, aih, dia menangis. Iya, dia benar-benar menangis. Sebenarya saya juga gemetar, tapi lebih karena saya kelaparan, lagi-lagi karena ketololannya. Di mana-mana kalau masuk bioskop kan nda boleh bawa makanan, lah dia dengan sekoyong-konyong menyodorkan tasnya kepada pask scurity yang dengan tangkas menangkap bau makanan yang ada di dalamnya. Alamat, saya menderita kelaparan selama kurang lebih dua jam.

Yup, dia beberpa kali melakukan tindakan-tindakan tolol. Tapi entahlah, rasasnya dia bukan cowok biasa…

Catatan di atas bukan catatan utuh memang. Saya hanya mengambil sepenggal-sepenggal dari cerita yang pernah ditulis moyang saya. Satu hal yang paling berkesan dari catatan-catatan moyang saya, bahwa hidup sudah terlalu susah, carilah orang yang bisa membuatmu tertawa dan senang. Nenek moyang memang sosok pencerita yang melankolis.

Ah, semoga catatan ini bisa menemani penelitian saya di Mars. Rasanya ingin mempersembahkan sebuah rumah kayu dengan kamar yang luas buat nenek moyangku yang sudah di surga.

Tabik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s