Suleman

Kelinci kecil namanya marmut, Kelinci besar namanya marmos!

Ah, sudah hampir setengah bulan Suleman pergi meninggalkan rumah. Eh, bukan meninggalkan ding, tapi dipaksa meninggalkan rumah alias dilepaskan.

Kira-kira di pertengahan bulan puasa kemarin (2013) salah seorang kawan tiba-tiba datang dari kerja sembari menenteng kandang. Tidak kosong, di dalamnya ada seokar marmut yang masi bocah yang tak jelas umurnya. Lucu, putih, dan menggemaskan, cukup cocok jika disandingkan dengan kandang biru langit. “Ah, bakalan ada teman baru nih di kos,” pikirku waktu itu.

Oh iya, kami—aku, kawan-kawan kos, dan tetangga—sering meributkan binatang kecil itu; antara apakah itu marmut, kelinci cilik, atau—ini cukup ngasal—menyebutnya hamer. Ah, aku kira mereka sangat serampangan.

Suleman asik dengan kangkung kesayangannya

Suleman asik dengan kangkung kesayangannya.

Guna merampungkan masalah—sok bijak—atas ijin Tuhan Yang Maha Kuasa beserta malaikatnya, akhirnya kupilih nama Suleman untuk menyebut binatang itu; itung-itung biar lebih akrab. Tak ada alasan pasti soal pemberian nama, nama Suleman aku pilih lebih karena mudah diingat dan diucap, meski terkesan serampangan.

Tapi sial, jauh di pedalaman sana, ada sesosok makhluk, juga dengan semena-mena menyebutnya dengan nama Jeko (atau Jecko/Jeco?), entahlah. “Nama Suleman kurang menjual, Cak,” bilangnya waktu itu—dasar penyalur binatang ilegal. Hehehe…

Aku pribadi lupa dengan maksud dia memberi nama yang “kurang” keren itu. Tak apalah, itung-itung ada yang peduli dengan Suleman selain kami para penghuni kosan, meski akhirnya si binatang diputuskan untuk pergi. Nanti.

Bisa jadi aku adalah pemelihara binatang yang sangat buruk. Hampir seluruh riwaya pemeliharaanku atas binatang-binatang berakhir dengan kegagal. Dulu bapak pernah punya kambing, satu, warnanya hitam pekat. Tidak lama kemudian, satu-satunya kambing itu dijual. Tentu saja itu menguntungkan bagiku untuk tidak harus menjadi pengembala laiknya kawan-kawan lain di kampung.

Entahlah, nyatanya aku tetap ikut beberapa kawan untu mengembalakan kambingnya di bukit-bukit, di hutan, di alas, di hutan, dan di mana pun. Kegiatan menggembala tak ubahnya sebuah prosesi perkawanan dan sarana bermain yang pas. Aku pribadi sampai sekarang tidak tahu trik mengembala yang baik itu  seperti apa, juga trik memelihara binatang.

Dulu pernah sempat ngetren orang menjajakan (burung ) emprit kaji yang sok imut di kampung. Emm, emprit kaji? Itu loh, burung emprit yang terdapat warna putih di bagian kepalanya sehingga kami secara serampangan menyebutnya emprit kaji. Si penjaja emprit kaji, kalau tidak salah, menjualnya dengan harga seratus rupiah.

Kami yang masih kecil begitu antusias untuk membeli lalu merawatnya. Jika tidak kuat sendirian, maka kami akan membuat kelompok kecil buat membeli emprit-emprit itu. Tentu saja hak kepemilikannya juga ditanggung bersama-sama.

Aku termasuk bocah-bocah itu. Tapi sial, lagi-lagi aku dan beberapa teman gagal merawat emprit-emprit itu bertahan lebih lama. Ada yang mati dirubung semut, ada yang kelaparan, tak jarang juga menjadi santapan lezat kucing-kucing liar yang tak berprikeempritan.

Beberapa kali juga ikut-ikutan memelihara burung yang diambil dari sarangnya. Tentu saja itu adalah burung-burung yang masih anakan. Ada hal yang mengasikan, biasanya sembari mengangon kambing, kami menyempatkan diri untuk mencari-cari sarang burung yang di dalamnya terdapat telur-telur anakan.

Yang pertama kali melihat, baginya adalah anakan burung pertama alias tertua, lalu disusul yang lain berebutan untuk anak ke-2, ke-3, dan seterusnya. “Ji-ne, ro-ne, lu-ne,”kami biasanya saling bersautan. Ji-ne mengacu pada siji atau nomer satu, ro-ne mengacu pada loro atau nomer dua, lu-ne untuk telu alias tiga, dan seterusnya.

Telur-telur itu akan terus ditandai sampai menetas, baru setelah itu diambil dan dibagi sesuai dengan kesepatan ji-ne, ro-ne, lu-ne sejak awal. Aku pernah dapat beberapa dan membawanya pulang. Karena tidak punyai kurungan yang memadai, akhirnya cukup dibuat dari dua wadah nasi yang disusun dalam posisi saling menutup. Untuk mempermudah perkembangan si burung, di tengah-tengah biasanya akan ditambah kayu panjang melintang membelah kurungan.

Lagi-lagi aku tak cukup jago memelihara anakan burung itu. Jika tidak mati, biasanya kukasihkan ke kawan yang lain yang kuanggap lebih mumpuni dan mampu. Jika ingin melihat perkembangannya, tinggal datang ke kawan tersebut yang kini sudah sah menjadi pemilik resmi.

Atas dasar pengalaman tersebut, aku sempat ragu untuk bertahan menjaga Suleman di kos. Aku hampir rutin membelikannya kangkung tiap pagi, tentu saja bergantian dengan yang lain. Jika sempat, sesekali mencarikannya rumput di bukit belakang sekolah. Hehehe, di belakang kosan ding.

Sejatinya perhatian tak hanya datang dari para penghuni kosan. Selain para tetangga, ternyata di tempat lain, ada yang diam-diam memantau perkembangan Suleman si marmut. Hehehehe…meski masih keukeuh dan bersikeras tidak mau menyebut Suleman, tapi tetap Jeko (atau Jecko/Jeco?). Atau jangan-jangan, dia termasuk kelompok pedagang gelap untuk hewan-hewan rumahan? Huuu…

Suleman sesaat setelah dilepas

Suleman sesaat setelah dilepas oleh orang tak bertanggungjawab.

Sampai akhirnya, tanggal 2 November 2013 menjadi hari terakhirku, dan para penghuni kosan yang lain, dan para tetangga dengan Suleman. Semakin hari, aku melihat marmut yang sejatinya lucu itu semakin kurus. Terkadang apa saja yang dekat dengannya akan dimakan, tak terkecuali tempat minumnya yang terbuat dari plastik. Aku sempat kepikiran, apakah seperti itu tabiat binatang pengerat? Hehehe…

Aku, dan satu lagi kawan kosan, melepasnya di kebun belakang kosan. Pikirku waktu itu, meski dilepas dengan sangat kurangajar olehku, dia tetap masih bisa dekat dengan sumber makanan. Seharusnya, Suleman sudah bisa mencari makanan sendiri, tapi kurungan sepertinya membuatnya begitu tak leluasa.

Sempat ada kekhawatiran bagaimana kalau Suleman dicaplok sama ular tak bertanggungjawab? Atau dipungut sama anak-anak yang tidak pedulu? Ah, sudahlah. Sepertinya Tuhan lebih tahu maksudku daripada aku sendiri.

Semoga dia betah berada di tengah-tengah kebun yang banyak rumput.

Di kebon berumput tempat barunya, semoga Suleman betah.

Aku tetap percaya, binatang akan lebih bisa bertahan, jika lebih dekat dengan habitatnya. Emang, habitat marmut itu di kebun? Hehehehe… entahlah.

Tapi yang jelas, sejak sore itu aku membuangnya, aku tak bertemu lagi dengan Suleman. Pernah suatu ketika sengaja berjalan di area kebun tersebut, tapi tak menemukan jejaknya.

Tabik!

Ciputat, 17 November 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s