Kelas Coklat yang Lezat

Kemarin Rabu (19/09) saya mendapat giliran mengunjungi kelas coklat, setelah pada Sabtu, empat hari sebelumnya, dengan malas ditugaskan menghadiri simposium kedokteran di RS Mayapada. Saya kira, suatu hari nanti, harus ada tulisan tersendiri terkait simposium kedokteran di RS Mayapada kemarin. Sekarang, kita fokus ke sekolah coklat.

Ternyata ini adalah kelas coklat

Ternyata ini adalah kelas coklat

Selasa pagi ada surel masuk di milis. Isinya undangan menghadiri lounching produk terbaru Puratos, yaitu coklat yang diberi nama “Carat”. Carat dalam bahasa Inggris berarti karat, tapi bukan itu maksudnya, nanti kita bahas. Saya mengiranya hanya sekadar pengenalan produk, wawancara, lantas pulang. Tapi saya seratus persen salah, karena di sana saya dan teman-teman yang hadir harus hand on, alias diajak membikin hidangan dari bahan coklat. Inilah kenapa saya menyebutnya kelas coklat.

Nama Puratos sendiri masih sangat asing bagi saya yang jauh panggan dari coklat. Hehehe.. Saya bukannya tidak doyan coklat, doyan banget malahan, tapi ketertarikan untuk belajar lebih dalam lagi tentang coklat saya rasa belum ada. Jikapun tahu, palingan berkutat pada coklat Cadbury, inipun saya mengenalnya setelah emak saya sering membawakan dari Malaysia–Negeri Jiran yang paling baik serta yang paling jahat terhadap keluarga saya.

Sekira jam 11 saya berangkat dari kantor saya di Kebon Jeruk. Jika melihat alamat yang diberikat, rasanya tidak cukup jauh untuk ditempuh dengan Trans Jakarta; tepatnya di Jelambar Village, Kota Grogol Permai, blok F. Tapi Jalan Latumenten bagi saya juga masih asing. Sesampainya di halte Jelambar, saya langsung tanya ke pak ojek budiman dan mengantarkan saya ke tempat tujuan dengan barter 10 ribu rupiah. Lumayan lah.

Saya terlambat, tapi tidak parah-parah amat lah. Palingan beberapa menit doang. Saya dorong pintu perlahan, lalu tanya ke among tamu (baca recepsionis) di depan, dia mengarahkan saya ke lantai dua, dan sampai. Di sana, di lantai dua itu, seorang ibu-ibu paruh baya sumringah menyambut saya dan mengajak salaman. “Habib dari Intisari, bu,” kataku memperkenalkan diri.

Hidangan penutup yang nikmat.

Hidangan penutup yang nikmat.

Tidak banyak yang datang. Hanya beberapa dari majalah khusus kuliner dan bakery, juga ada dari detikcom, itupun telat dianya. Acara berjalan sesuai randon yaitu makan siang dulu baru acara inti. Tidak terlalu istimewa menu makan siangnya, tapi, itu terobati dengan kehadiran hidangan penutup yang membuat meleleh. Saya lupa namanya, tapi yang jelas hidangan itu terdiri dari ice cream coklat bersanding dengan blueberry dan irisan mangga. Sebagai pemanis, rasa dan warna, strawberry yang sudah dilelehkan diguyurkan di sekitaran ice cream. 

Lalu kelas dimulai.

Kata mas Adang, Technical Manaher di Puratos, sih, Carat itu merk dagang yang bahan dasarnya adalah coumpound coklat. Lah, apalagi itu coumpound coklat? Sumpah, sebelumnya saya tidak mengenal istilah brengsek itu. Kesel banget, apalagi peserta yang lain ternyata sudah pada tahu, tensin abis wes. Tapi tidak apa-apa lah, yang penting belajar terus berlanjut, sayang.

Coumpound coklat itu kurang lebih ceritanya begini; setelah tumbuhan kakao melewati beragam prosesi menjadi coklat, maka dihasilkan dua spesies: coklat asli sama coklat batter. Nah, coklat bubuk inilah yang nanti menjadi coumpound coklat setelah mendapat campuran gula, lemak nabati, emulsi, dan aroma/perisa. Komposisinya berapa dalam 100 gram coumpound coklat? Idealnya adalah mengandung gula hingga 50%. Sisanya, coklat dan minyak nabati.

Saya selalu berpegang pada, saat belajar sesuatu, belajarlah dari yang paling dasar. Begitu pula saat belajar mengolah coklat menjadi sesaji penganan yang lezat. Saya sadar, sepertinya yang paling tidak akrab dengan coklat adalah saya yang ternyata satu-satunya pria yang wartawan dalam kelas itu.

Makanya, saya sangat tidak keberatan ketika mas Adang meminta saya sebagai “petugas tetap” melelehkan coklat batangan yang keras. Jangan kira melelehkan coklat adalah persoalan yang mudah. Biasanya, saat melelehkan coklat, loyang dibuat untuk melelehkan akan dicelup dalam sepriuk air yang mendidih, padahal itu salah. Takutnya, saat loyang dicelupkan air, air itu masuk ke lelehan coklat tersebut. Soalnya, mengutip mas Adang, air adalah musuh utama coklat.

Hasil olahan coklat yang sudah jadi. Lezat.

Hasil olahan coklat yang sudah jadi. Lezat.

Jadi, biar aman, taruhlah loyang peleleh di atas priuk yang di dalamnya terdapat air mendidih. Melelehkan coklat hanya dibutuhkan uap panas yang merambat di seputar loyang. Meski demikian, untuk membuat lelehan yang sempurna, usahakan suhu yang ada di dalam loyang tidak lebih dari 60 Derajat Celcius.

Ini juga penting, coklat yang mau dilelehkan, jangan sampai terkena angin, karena ditakutkan bisa meningkatkan kelembaban pada coklat tersebut, karena lagi-lagi, musuh utama coklat adalah air. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s