STA “Menghadapi Maut”

Tiba-tiba saja ingat mati. Tidak tahu mengapa. Kata guru agamaku dulu, sering-seringlah mengingat mati, dengan demikian kamu akan menemukan cara untu mengingat Tuhan. Lantas menjalankan perintah-perintahnya. Penautan yang tampaknya masuk akal.

Tiba-tiba saya ingat mati setelah di meja kerjaku ternyata tergeletak buku pusi Sajak-sajak dan Renungan-nya Sutan Takdir Alisjahbana. Bagiku, ini adalah buku puisi STA pertama yang saya jumpai. Model penulisan yang disandingkan dengan edisi bahasa Inggrisnya, sepertinya cermin ambis STA, yang menurutku megalomaniak. Mengenalkan puisi-puisinya ke kalangan luar. Ah, biarlah.

Tiba-tiba saya ingat mati setelah menemukan di salah satu kumpulan puisi STA puisi berjudul Menghadapi Maut. Puisi ini, seperti yang tertulis di bagian belakang halaman, puisi ini pernah dimuat di Majalah Pembangunan, September 1946. Ah, mungkin lebih baik saya tuliskan puisi utuh STA tentang kematian ini;

MENGHADAPI MAUT

Kulihat,

Kurasakan:

Peluru mendesing menembus kening,

Pedang bersinau memenggal leher, dan

Tergulinglah jasad di tanah:

Darah mengalir merah panas.

*

Sekejap pendek:

Kaki melejang-lejang,

Urat berdenyut meregang-regang.

Sudah itu

Diam,

Sepi,

Muka menyeringai pucat pasi.

*

Datang mendorong dari dalam:

Mana harapanku, mana cita-citaku?

Sebanyak itu lagi ‘kan kukerjakan!

Mana isteriku, mana anakku, karib handai tolan?

Lenyapkah sekaliannya selama-lamanya?

Hampa!

Kelam!

Ngeri!

*

Tanganku menggapai-gapai;

orang karam mencari ranting.

Wahai nasib,

Sebanyak itu perjuangan!

Sebanyak itu pengikat!

Pemberat hati kepada dunia!

*

Sedangkan,

Dari semula telah kutimbang,

Kupikir, kurenung matang-matang:

Ditengah peperangan seluruh buana,

Hebat dahsyat tiada beragak:

Bom peluru mungkin menghancur remuk,

Perampok penyamun mungki menggolok,

Disentri, kolera, lapar mungkin mencekik…

**

Dan diantara mati pelbagai mati.

Bukankah ini telah kupilih,

Dengan hati jaga, mata terbuka?

Wahai rahasia hidup!

Penuh pertentangan, penuh kesangsian!

Berat sungguh menjadi manusia!

Tahanan Seksi Tanah Abang,

Januari 1945

Tiba-tiba saya ingat mati setelah saya ingat kakek saya, kakek saya, nenek saya, nenek saya, bibi saya, paman saya, ternyata sudah mati.

Jakarta, 18 September 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s