Hampir 24 Jam

Ini gila. Benar-benar gila. Bayangkan, hampir 24 jam saya berada di dalam bus yang membawa saya dari Tuban ke Jakarta! Dari beberapa informasi yang terhimpun, normalnya, dibutuhkan 12 jam untuk sampai ke Jakarta dari Tuban/Lamongan/Bojonegoro. Tapi teori memang jarang selaras dengan fakta di lapangan. Saya membutuhkan waktu hampir 24 jam, woy…. Bayangkan, 24 jam.

Menggunakan moda transportasi bus sejatinya bukan pilihan pertama saja balik ke Jakarta. Jika mau cepat, pesawat saya kira lebih efektif. Tapi, harganya jangan pernah tanyakan, apalagi menjadi soal ujian UAN. Mahal banget. Tiket kereta–bisnis, ekonomi, eksekutif–sudah ludes sejak tiga bulan yang lalu. Jadi, satu-satunya yang tersisa hanya bus. Bus Malam Antar Kota Antar Porvinsi.

Minggu siang saya ke Tuban dengan diantarkan oleh salah seorang saudara. Awalnya, bus jurusan Bandung yang saya sasar, tapi saya urungkan di tengah jalan. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat tujuan. Saya langsung agen terdekat, menanyakan harga tiket. “Ke Jakarta 520 ribu mas, kalau Bandung 450 ribu. Silahkan pilih yang mana,” kata bapaknya penjual tiket.

Merasa duit di dompet tipis, saya langsung ke ATM terdekat, dan segera balik lagi. “Saya memesan satu ke Jakarta buat Senin sore, Pak!” Kataku.

Si bapak memastikan ketersediaan kursi. Malang, pool pusat tidak berani memberi kepastian siang itu. “Besok pagi mas bisanya,” kata ibu-ibu di seberang telepon. Saya memutuskan mundur. Saya pergi ke agen sebelah.

Di agen sebelah juga tidak semudah yang dibayangkan. Meski harga selangit, ternyata pemesanan tiket masih saja ramai. Di jurusan tertentu stok habis malahan. “Bus Madura mau gak mas, lebih murah, tapi datangnya tidak bisa diprediksi,” tawar ibu-ibu penjaga loket.

“Yowes deh, Bu. Saya ambil satu ke Lebak Bulus,” kataku sembari menyerahkan beberapa lembar duit dan mendapat jatah kursi.  Setelah fiks, saya balik pulang dan persiapan buat besoknya.

Besoknya, Senin sore, saya nyampek di Tuban sekira jam 3 sore. Belum ada tanda-tanda penumpang lain yang datang. Untuk menghilangkan jenuh, saya memutuskan untuk pergi sejenak ke Toko BUku Toga Mas yang tenyata fiktif belaka. Entah ada atau tidak, yang jelas, alamat yang menunjukkan letak toko buku itu tidak ada tokonya. Dengan kecewa, saya balik lagi ke agen. Menunggu bus.

Bus Pahala Kencana dari arah Surabaya sudah mulai berseliweran datang. Beberapa berhenti menjemput penumpang, beberapa tancap gas. Hanya sesekali membunyikan klakson sumbangnya. Tapi bus yang akan membawa saya tak jua kunjung datang. Beberapa kali saya bertanya pada ibu agen “tercela”, tapi tak kunjung ada jawab. Kabur tak tentu jalur. Kelamaan menunggu, membuat saya lapar. Untungnya, nasi panas dan lodeh mengepul baru saja masak di sebelah agen. Saya memesan satu bungkus buat saja sendiri.

Memutuskan untuk makan ternyata membawa berkah. Hanya berselang beberapa menit, bus yang akan mengangkut saya datang. Kuning tai warnanya. Aih, ternyata bus sudah waktunya berhenti buat makan. Karena sudah kekenyangan, saya memutuskan untuk tidak makan di tempat pemberhentian. Pilihan saya tepat rupanya, menu yang disajikan sama sekali tidak enak. Tidak menggugah selera sama sekali.

Selepas magrib, perjalanan dilanjutkan. Lancar jaya. Supir yang “jelmaan” Sumber Kencono membabat jalanan Pantura Tuban, Rembang, Pati, Kudus, dengan lahap. Tak ada aral berarti. Sampai akhirnya bus berhenti di Weleri, beberapa kilometer setelah Semarang. Tidak lama, hanya cukup satu tegukan kopi dan satu isapan udud–bagi yang ngudud.

Supir pun berganti ke yang lebih muda, saya kira.

Saat memasuki Kendal-Batang-Pekalongan, lalu lintas sudah terlihat mulai biadab. Puncaknya di Pekalongan, Pemalang, dan seterusnya. Waktu itu jam menunjukkan angka 1 dini hari, kalau tidak salah. Awalnya, saya mengira, pagi-pagi akan sampai Jakarta, tapi sejak di Pekalongan itu, perkiraan itu kian memudar.

Pagi-pagi baru sampai di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Tentu saja ini bukan kondisi yg saya inginkan. Tapi saya masih menyimpan harapan bisa nyampek Jakarta tepat waktu. “Saya harus masuk kerja hari ini (Selasa kemarin),” kata batin saya pagi itu.

Saya pagi itu benar-benar bagai punguk merindukan bulan. Berharap bisa sampai di Jakarta pagi, ya maksimal jam 10 lah. Padahal, Cirebon-Indramayu laiknya iring-ringan karnaval tujuhbelasan pagi itu. Benar-benar padat merayap. Dengan sangat berat hati, saya kembali optimis bahwa saya akan sampai di Jakarta tepat menjelang sore. Hadeuhhh…

Benar sekali ternyata, sekira jam tiga bus yang saya tumpangi baru masuk tol dalam kota lantas ke TB Simatupang. Tak lama kemudian, Lebak Bulus. Dengan sedikit gontai saya pulang. Oh iya, saat berada di Subang, saya mengotak salah seorang editor saya, izin buat tidak masuk lagi. Agak berat kayaknya, tapi sudahlah. Saya yang salah. Hehehe…

Meski demikian, ada rasa baru yang tiba-tiba terpendar. Saya akhirnya merasakan mudik yang sebenar-benarnya mudik. Saya bermacet ria di jalur Pantura yang kering. Saya senewen menunggu  bus yang tak kunjung hadir. Pokoknya saya bahagia di musim mudik kali ini.

Aih, alangkah nikmatnya mudik.

Tabik! Salam Pramuka, bung!

Jakarta, 14 Agustus 2013. Tepat di Hari Pramuka.

 

5 comments

  1. deend! · August 15, 2013

    Waaah luar biaso “si mudik”. Ternyata sampai memunculkan rasa baru, berpendar pula (keknya nda ada kata terpendar deh) hihihi

    Salam kenal Bang! (:

  2. Elisa · April 25, 2014

    Mas.. Itu agen travel gitu ta? Tuban sebelah mana mas?

    • ndangcerung · April 25, 2014

      Tuban sebelah mana ya Lis? Pokoknya Bravo ke sana lagi lah…. Aku yo rodok bingung lek ne Tuban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s