Doa Naik Kendaraan

Sebelum pagi tadi, saya tak ingat kapan terakhir kali saya berdoa saat naik kendaraan. Sepele sih menurutku, tapi terkadang dengan sedikit doa yang terpanjat, perjalanan terasa lebih aman. Guru saya dulu pernah bercerita, bahwa ada seorang nenek-nenek yang selamat dari kecelakaan dahsyat. Dia mengaku, sebelum kendaraan tancap gas, dia berdoa terlebih dahulu. Begitu cerita singkat guru saya.

Saya lupa kapan terakhir kali membaca doa saat naik kendaraan. Bukannya saya tidak bisa atau lupa. Bisa diadu kok kemampuan saya menghafal doa-doa elementer; doa mau makan, doa masuk dan keluar WC, doa naik kendaraan darat/laut, doa mau tidur, doa bercermin, dan sebagainya. Jujur, saya hafal doa-doa itu jauh sebelum saya kenal bangku sekolah dasar.

Oh iya, saya ingat sekarang, saya selalu berdoa saat akan naik bus Sumber Kencono–sekarang Sumber Rahayu. Untuk ini, Anda semua pasti lebih paham alasannya. Hehehe

Dulu saat masih di Taman Kanan-kanan (TK), guru TK saya selalu membimbing saya dan teman-teman untuk membaca doa setiap pertama kali pelajaran (itu kalau kita sepakat sistem pendidikan di TK masuk ketegori pelajaran). Bukan hanya doa yang rutin diucap, tapi juga yang jarang. Kalau tidak salah ingat, begini urutan doa-doa yang harus kita lantunkan;

Allahumma arina al haqqa, haqqo! Warzuqna ittiba’ah! Wa arina al bathila, bathila! Warzuqna ijtinabah!

Robbi zidni ilman, warzuqni fahman.

Lalu diteruskan dengan menghafal doa-doa yang lain. Simpel, biar kita hafal dan diamalkan saat di rumah. Dan sampai sekarang, mudah-mudahan saya masih hafal doa naik kendaraan; darat dan laut.

Tapi entah, kenapa saya tiba-tiba jarang berdoa saat naik kendaraan. Juga saat mau makan, mau tidur, mau membaca. Kalaupun ingat, cukup membaca basmalah. Itupun lebih karena faktor malas membaca yang lebih panjang. Setan tampaknya sudah mulai sayang dengan saya. Saya juga demikian. Aih…

Pagi tadi, saat saya naik Trans-Jakarta, saya menemui ibu-ibu duduk di pojokan. Tidak ada yang berbeda pagi itu. Semuanya tampak lazim. Sampai akhirnya supir masuk, menyalakan bus, lalu bus mulai merayap pelan-pelan. Tanpa sengaja, saya menangkap ibu-ibu di pojokan tadi menggerakkan tanggannya. Bukan menengadah, melainkan membikin tanda salib. Yap, dia seorang katolik, saya kira.

Tapi bukan dia-agamanya-apa? masalahnya, tapi karena dia berdoa. Iya, dia berdoa, di tengah manusia-manusia yang kebanyakan menyandarkan kepalanya di ujung kursi bus. Saya tidak tau apakah yang lain berdoa pagi itu, karena mereka tidak memberi tanda. Saya juga bukan tipe orang yang harus terang-terangan menunjukkan bahwa saya sedang berdoa. Tapi melihat raut muka khusuk ibu itu, saya yakin, dia bukan hendak pamer. Toh tak ada untungnya pamer di tengah orang-orang yang tidak dia kenal sama sekali. Iya, dia khusuk sekali.

Sontak, sebuah palu godam menghantam keras pipi kiriku. Keras sekali. Seolah-olah memaksa saya untuk turut berdoa. Lagi-lagi saya gundah, jangan-jangan saya berdoa gara-gara ibu di pojokan itu, bukan kerana Tuhan saya? Ah, saya bingung tiba-tiba. Ujung-ujungnya, saya akhirnya lebih memilih untuk mengingat-ingat, kapan terakhir saya berdoa naik kendaraan.

***

Mari berdoa!

Tabik!

Jakarta, 18 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s