Pak Harto Belum Mati, lho!

Tiba-tiba saya berpikiran aneh sekali. “Jangan-jangan Pak Harto belum mati. Yang terkubur di Solo itu hanya duplikatnya, yang asli masih main kartu bareng anak-anaknya di rumahnya, di Cendana.”

Iya, Pak Harto yang saya maksud adalah Haji Muhammad Soeharto, presiden kedua Republik Indonesia, yang lebih dari tiga dasawarsa menjabat sebagai kepala negara antah-brantah, Indonesia.

Saya beberapa kali melihat film yang mengupas tentang sesosok presiden, atau orang penting lainnya. Rata-rata, mereka mempunyai “kembaran” yang salah satu tujuannya untuk mengelebuhi lawan politik atau orang yang tak suka dengannya. Nah, bisa jadi ini juga terjadi dengan Soeharto. Siapa tahu, yang dikabarkan sakit parah, ndak bisa ngapa-ngapain setelah lengser, lantas mati dan dikuburkan di Solo, itu bukan Soeharto yang asli, melainkan duplikatnya.

Terus, yang asli ke mana? Aih, dibilangin main kartu sama anak-anaknya, ‘kok.

Jika benar demikian, mau apa kita hayo? Hehehehe…

Saya lalu membayangkan, dia saat ini tengah berada di tengah-tengah anaknya. Menghimpun kekuatan untuk kembali merebut kepemimpinan. Mengumpulkan orang-orang kepercayaannya yang terberai tak tentu arah. Yang di luar negeri dipulangkan diam-diam, yang di dalam gua disuruh keluar, yang hibernasi disuruh segera bangun. Lalu menggebrak di tengah kerumunan.

Kalian pernah mendengar isu Ratu Adil ‘kan? Yang dulu pernah digembar-gemborkan oleh para pembesar negara ini? Ya Soekarno lah, ya siapa lah, si A lah, si B, dan sebagainya. Bisa jadi, Soeharto dan kroni menjelma menjadi Ratu Adil yang didambakan. Jangan khawatir, pamor Soeharto masih terlalu tinggi. Ini bisa dilihat dari masih banyaknya orang yang merasa “nyaman” hidup di zaman musafir dari (m)Bantul ini. Ya, masih sering menjumpai kalimat “Masih enak zamanku, tho!?” menempel di kaos-kaos orang kebanyakan. Ya itu tandanya? Jawab sendiri….

Mau tidak mau, kekuasaan secara kasat mata ternyata bersifat “mendarah”. Buyutnya dulu raja, maka suatu saat cicitnya juga harus menjadi raja. Kira-kira begitu analoginya.

Taruhlah kasus Anusa Pati yang menikam Ken Arok karena ingin mengambil alih kekuasaan yang dulu dimiliki bapak kandungnya, Tunggul Ametung. Lalu Jayakatwang menghabisi Kertanegara untuk mengembalikan kejayaan Kediri. Lantas muncul Raden Wijaya yang menggulung Kediri dan mendirikan Majapahit, alias Singasari versi baru.

Saya kira, Cendana juga memiliki tabiat itu. Segerombolan anak manusia itu, siapa tahu tengah merencanakan gerakan besar cendanaisme bermazhab soehartois, alias kembali mengembalikan trah Soeharto dan kejayaan Cendana di masa silam. Pastinya, dengan masih adanya bapak-bapak tua murah senyum di tengah mereka. Aih, heroik sekali bukan?

Lalu, segala bentuk diskusi mahasiswa akan kembali mati suri (sekarang saja sudah, hehehe) karena kebijakan yang tiran. Demontrasi diharamkan. Aktivis kiri dikanankan, kalau tidak mau, ya dimakamkan. Pokoknya semua-muanya serba tiran, wes. Lalu koruptor menjadi kewajiban, kolusi dilegalkan, nepotisme diagung-agungkan. ‘Kan tiran, bebas dong mau ngapain aja, pemerintahnya. Lalu, lalu, lalu…

Hehehe, tapi jangan khawatir, itu hanya mimpi buruk saya. Ya berdoa saja semoga tak terwujud–berdoa mulai, amin!

Tabik!

Jakarta, 17 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s