Pak Kacung dan Bakso Telurnya; Sebuah Mini Obituarium

Sejarah Ponpes Al-Ishah yang sebentar lagi akan mencapai angka tiga dasawarsa, harus memasukkan nama Pak Kacung sebagai salah satu elemen yang wajib dikenang. Bagi saya, seorang bocah yang sok tahu tentang Al-Ishlah, itu adalah keharusan. Tidak bisa tidak. Guratan pena yang telah Al-Ishlah coba goreskan dalam warna pondok pesantren Indonesia, harus menyertakan namanya. Melalaikannya? Itu sama saja melalaikan santri. Menomorsekiankan santri, berarti ia tidak lengkap untuk disebut pondok pesntren. Zamakhsari Dhofier pernah bilang dalam bukunya, Tradisi Pesantren, pesantren tidak mungkin ada tanpa hadirnya santri untuk menimba ilmu di sana.

Dan Pak Kacung adalah satu kesatuan dengan mereka yang dengan bibir dowernya menyebut diri, SANTRI.

***

Beberapa hari yang lalu  saya dapat kabar dari seorang kawan bahwa Pak Kacung telah meninggal. Dia didiagnosa terserang stroke dadakan. Dari kabar yang terhimpun, tiga hari menjelang kematiannya, Pak Kacung merasakan sakit, dan akhirnya, Tuhan secara resmi telah merekrutnya menjadi salah satu Kekasihnya. Entah, saya tiba-tiba mempunyai keyakinan seperti itu.

Sebenarnya saya tak terlalu pandai membuat obituari. Tapi demi Pak Kacung, dengan segala kekurangan, saya memaksakan diri untuk membuatnya. Saya bukan anaknya, saya bukan cucunya, saya bukan pembantunya, saya sama sekali tidak memiliki ikatan darah dengannya. Tapi sekali lagi, bagi saya dak kawan-kawan saya, Pak Kacung ibarat oase di tengah Ethiopia yang tandus dan kehausan. Bunyi keriut roda gerobakbaksonya ibarat agar-agar dingin di tengah hari pas puasa; menyegarkan.

Sampai sekarang saya tidak tahu siapa nama asli Pak Kacung, dan saya merasa tak punya tanggungjawab moral untuk mencarinya. Toh, Shakespeare bilang, “apa arti sebuah nama?”. Pak Kacung sekalipun tidak pernah menyuruh kami untuk memanggilnya dengan nama asli, cukup “Pak Kacung” saja. Tidak dengan yang lain. Tapi sekali lagi, melupakannya adalah sebuah keniscayaan. Bahkan dosa.

Pak Kacung saat masih hidup (foto oleh Imaduddin)

Oh iya, bagi Anda yang belum kenal dengan Pak Kacung, maka akan saya perjelas. Pak Kacung adalah satu-satunya penjual bakso yang diperbolehkan masuk ke pondok saya dulu. Diperbolehkan? Iya, karena tidak ada satupun pedagang bakso di pondokku. Dan Pak Kacung yang aslinya pedagang bakso keliling, diberi kewenangan untuk menggelar lapaknya di seputaran asrama tempat santri bermukim. Tiap sore, Pak Kacung akan dengan senang hati melayani sifat barbar yang telah mendarah daging di hati sanubari santri. Hehehe

Saya sendiri paling suka dengan bakso telur. Tapi saya yakin, kalimat itu tidak penting. hehehe…

Membeli bakso di tempat Pak Kacung tergolong sangar longgar. Kita bisa beberapa kali meminta kuah baksonya hanya dengan sekali bayar. Tidak hanya itu, banyak juga yang dengan seenak umbelnya yang minta kuah baksonya tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Lantas Pak Kacung marah? Kemungkinan iya dalam hatinya. Siapa yang mau setiap hari kuahnya diambil begitu saja tanpa ada biaya? Bayi yang baru lahirpun akan tetap marah. Tapi yang jelas, ekspresi itu (entah marah, entah legowo) tidak pernah dia uarkan dengan kalimat apapun. Dia akan diam, diam, sembari tersenyum. Apakah dia termasuk orang baik? Ya iyalah!

***

Kini Pak Kacung resmi berpulang. Apakah dia membawa serta baksonya? Entah. Saya terpisah ratusan kilometer dengannya, jadi saya tidak tahu kepastiannya. Suatu ketika Muhammad pernah berkata yang kemudian diriwayatkan oleh sahabat-sahabat terbaiknya, tiga hal yang akan dibawa manusia ketika mati kelak, yaitu; amal soleh, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang tiap hari berdoa untuknya. Lalu, apakah Pak Kacung tergolong orang yang mendapatkan tiga mantra itu? Saya kok yakin bilang iya.

Soal kematian, Soe Hok Gie pernah bilang, beruntunglah dia yang mati muda. Tapi Gie tampaknya belum merasakan, bahwa sebuah keintiman yang begitu nikmat ketika mati dalam keadaan tua dan sepanjang umurnya menaburkan banyak sekali kebajikan. Itu mungkin yang tertanam dalam benak Pak Kacung.

Wa Allahu a’lamu bi ash showab.

Tabik!

Post Scriptum; tulisan ini pernah saya tulis dan uplod di facebook beberapa saat setelah Pak Kacung meninggal dunia. Selamat jalan, Pak!

2 comments

  1. kurakura · May 21, 2013

    beli pentol satu,tapi wadae sing gede. biasa d pake bikin mie campur kuah bakso p.kacung.semoga amal beliau d terima di sisihnya.amiiinn,,

    • ndangcerung · May 21, 2013

      Iyo rek. Ra perlu munggah kaji, pahalane wes koyo wong kaji, ra perlu perang, rosone Pak Kacung wes koyo Mujahid. Iki sopo yo? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s