Cerita dari Pangrango

Dibanding dengan kawan-kawan yang lain, saya termasuk pembaca Soe Hok Gie yang tak terlalu taat. Catatan Seorang Demonstran yang katanya menjadi  buku wajib setiap mahasiswa idealis pun saya tak punya. Saya hanya punya Lentera Merah, itupun saya dapat dari hasil donlot. Mungkin saya tak termasuk dalam kategori itu. Hehehe…

Imbas paling sepele adalah saya tak tahu alasan Gie kenapa selalu memilih Pangrango saat ingin menyendiri. Meninggalkan Jakarta malam yang hiruk lantas menuju ke daerah selatan Jakarta melewati hamparan hijau perkebunan teh, lalu naik menyusuri hutan-hutan basah antara Gede dan Pangrango. Menjelang malam sudah berada di sebelah barat puncak Pangrango dan menghabiskan diri di antara rimbunan adelweis di pojokan Mandalawangi. Aih, rasa-rasanya, seperti yang tertuang dalam surat-sutarnya, Gie memang orang yang sangat melankolis.

Di ketinggian sekira 3000 mdpl itu, Gie akan mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan apa saja yang ada di benaknya. Kadang dia akan merangkai berbait-bait puisi untuk kekasihnya yang katanya banyak itu. Tak lupa sebatang coklat manis menjadi teman yang cukup setia sekaligus sebagai penambah energi yang sudah banyak terkuras.

Saya sering membayangkan seperti itu. Ya, hanya sekadar membayangkan. Tidak lebih dari itu. Atau paling tidak, saya ingin bisa merasakan dinginnya Mandalawangi saat malam tiba. Titik-titik es yang kerap muncul saat fajar datang. Serta rimbunnya adelweis yang berjajar harmonis.

Lembah Mandalawangi

Lembah Mandalawangi

Sampai akhirnya ajakan itu datang. Seorang kawan yang dulu pernah mengajak saya naik ke Gede menawari untuk naik Pangrango. Sebenarnya tawaran itu telah diutarakan sejak lama. Beberapa bulan yang lalu. Tapi karena sedikit halangan, maka rencana itu selalu batal dan batal. Sampai akhirnya momen itu datang, sebuah rencana untuk sekadar melepas penat itu berwujud gunung Pangrango.

Sabtu dini hari saya berangkat dari Jakarta. Seperti biasa, karena kebetulan yang ngajak saya adalah anak IISIP, maka kami berkumpul di Lenteng Agung dulu. Tempat kampus IISIP berada. Dari sana kami naik mobil sayur arah Pasar Minggu dan berhenti tepat di depan kampus Tama Jagakarsa, dan diteruskan naik angkot arah Pasar Rebo. Dari sana perjalanan dini hari kami dimulai.

Oh iya, biar lebih afdol, empat teman saya yang lain adalah Riswan, Picing, Dhimas, dan Mega. Picing yang nama aslinya Pasal baru saya kenal beberapa saat setelah sampai di IISIP. Dia teman se-UKM dengan Riswan Hasiholer.

Saya tak tahu kalau akan diajak menyusuri rute ilegal. Rute yang tak resmi. Rute yang sudah ditinggalkan oleh para pendakinya sekian lama. “Sebenarnya itu rute lama. Satu di antara tujuh jalur ke Pangrango. Tapi karena pasokan air di jalur ini cukup minim, maka jalur ini ditutup. Tidak digunakan lagi,” begitu kata Riswan yang sedekit sok tahu itu.

Rute tak resmi itu dimulai dari Puncak Pass yang langsug masuk ke area ladang penduduk. Belum terlalu terjal tapi sudah menunjukkan indikasi terus menanjak. Kalau kata orang kampung saya “munggah alus”. Saat sampai di area kebun kol dan sawi-sawian, kami baru masuk hutan yang kalau kata Riswan itu masuk jalur Pasir Sumbul. Dari sana kita melewati banyak sekali punggungan. Naik-turun dari bukit satu ke bukit yang lain.

Sebelum masuk jalur Pasir Sumbul

Sebelum masuk jalur Pasir Sumbul

Oh iya, kami berangkat dari Puncak Pass jam 7 pagi. Ada cerita kurang mengenakkan sebelumnya. Kami menghabiskan uang 150 ribu hanya untuk tiga mangkok soto, satu pancake, dan satu piring nasi tempe. Oh iya, ditambah lima gelas teh manis anget. Itu harga yang luar biasa gila, karena tempat kami makan hanya warung nasi biasa yang berada di tepi jalan. Adapun rinciannya sebagai beriktu; satu porsi soto ayam harganya 25 ribu dikali tiga,  pancake 25 ribu satu porsi, dan 10 ribu nasi tempe, sisanya buat teh manis.

Sarapan harga "biadab"

Sarapan harga “biadab”

Meski jalur Pasir Sumbul  dulu sering digunakan, tapi kondisi saat ini sungguh berbeda. Kami seolah-seolah membuka jalur baru. Jalan setapak yang menjadi rute telah benar-benar tertutup oleh semak dan perdu. Belum lagi, kondisi cuaca saat musim hujan membuat perjalanan terlihat semakin menantang.

Setelah melewati beberapa punggungan dan bukit, sekitar jam 10an kami akhirnya sampai di puncak Geger Bentang. Bukit tertinggi sebelum Pangrango. Di sana kami menghabiskan lebih dari dua jam untuk beristirahat. Memulihan tenaga sembari sedikit-sedikit memejamkan mata.

Istirahat sejenak di Geger Bentang

Istirahat sejenak di Geger Bentang

Oh iya, sebelum benar-benar sampai di Geger Bentang, saya menjumpai tanaman kantong semar yang legendaris itu. Tanaman yang carnivora. Saya yang hanya mengenalnya di sekolahan bahkan mengira bahwa tanamam itu sudah raib, tapi ternyata tidak. Saya menjumpai beberapa yang masih hijau. Adapun teman saya berhasil mengabadikan kantong semar yang telah memerah, tapi belum layu.

Dari dulu saya selalu membayangkan, bagaimana ya seandainya tangan saya masuk ke bagian tubuh kantong semar yang menggelembung itu? Apakah akan habis perlahan-lahan seperti serangga yang disantapnya. Tidak jarang juga saya membayangkan bagaimana para serangga itu meregang nyawa di kantong ajaib si kantong semar, apakah seperti kita yang disiram cairan kimia yang lantas membuat tubuh kita melepuh bergelembung, perlahan-lahan membunuh.

Perjalanan baru benar-benar dimulai sesaat setelah meninggalkan Geger Bentang. Kami dihadapkan dengan jalanan setapak yang berpola zigzag yang menukik ke bawah. Tidak hanya itu, jalur tersebut tepat berada di atas punggungan yang sempit, yang dikanan-kirinya terpampang jurang berkabut tebal. Oleh karena itu, diperlukan langkah yang super hati-hati. Sebenarnya yang paling riskan saat melewati rute ini adalah saat balik dari Pangrango. Dengan kondisi badan yang sudah sangat ngedrop, dan jika tidak benar-benar konsentrasi dan hati-hati, bisa saja tubuh kita terpelanting ke jurang yang seolah-olah begitu siap menampung kita.

Dari Geger Bentang  kami terus turun ke bawah sampai Delta Mati. Delta mati ini adalah lembah lembab yang berada di antara Pangrango dan Gede. Vegetasi hutannya sangat padat. Khas hutan hujan tropis. Selain batangnya yang besar-besar, pohonnya juga tinggi menjulang. Selain itu, hampir seluruh permukaannya lembab karena jarang tersentuh sinar matahari langsung. Sebagian yang lain menyebut lembah ini dengan hutan rotan karena terdapat banyak sekali rotan di area sini.

Kantong Semar yang "legendaris" itu.

Kantong Semar yang “legendaris” itu.

Kantong Semar yang sudah tua.

kantong Semar yang sudah tua

Tidak hanya itu, delta mati juga terkenal dengan pacetnya yang luar biasa banyak. Saya sendiri beberapa kali menjadi korban terapi kejut yang dihadirkan oleh kawanan pacet itu. Tidak hanya di kulit, permukaan sepatu dan sandal gunung yang saya pakai pun menjadi santapan empuh mereka. Benar-benar makhluk berdarah dingin. Awalnya kami merasa agak risih dengan kehadiran pacet-pacet tersebut. Mereka seperti jailangkung yang datang tak diundang, tapi sulit sekali dipulangkan. Butuh tenaga ekstra untuk mencabutnya dari kulit jika sudah menempel. Beberapa kawan menggunakan rokok untuk membebaskan diri. Sebagian yang lain dengan korek api. Kalau saya menggunakan  sebilah kayu dan pacet itu langsung saya gencet sampai mati. Darah pun meleleh merah.

Ini benar-benar delta mati dengan jalan setapak yang panjang yang ditumbuhi pohon-pohon khas hutan basah. Matahari seolah malam untuk menampakkan diri. Sesekali kabut menghampiri. Setelah itu hujan orografis yang khas gunung itu perlahan turun. Tidak lama, namanya juga hujan gunung, turun berbarengan dengan datangnya kabut tebal. Konon di area sini sering terdengar longlongan macan kumbang. Selain itu babi hutan juga banyak berkeliaran.

Setelah melewati jalan setapak panjang nan basah, kami dihadapkan dengan tanjakan lagi. Kali ini praktis lebih sadis dari pada tanjakan sebelum ke Geger Bentang. Ketika lewat di jalur ini, jangan sekali-kali melihat ke atas jika tidak ingin kecewa. Butuh waktu berjam-jam untuk menemukan tumbuhan dengan ukuran pohon lebih pendek dan semburat cahaya matahari. Setelah bertemu dengan pohon-pohon berbatang pendek pun tidak lantas kami bersuka hati, karena bagi kami, itu hanya jebakan belaka. Pemberi harapan palsu. Logikanya, semakin pendek ukuran pohon yang tumbuh, semakin dekat pula dengan puncak. Memang benar, kalau itu ditarik garis lurus, jarak dengan puncak memang dekat. Tapi karena jalan yang kita lewati benar-benar menanjak tajam, selain itu, kami juga digiring terus mlipir ke kiri, sehingga membuat perjalanan terasa sangat jauh.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, saya dan Picing sampai juga di tanah lapang dengan ukuran 3 x 4 meter. Sebelah kanannya terdapat mata air yang mengucur deras. Jarak dari tempat ini ke puncak sekitar 500 meter. Itu kalau ditarik garis lurus. Kami memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Saya dan Picing yang datang lebih dulu langsung menyantap coklat tersisa yang saya bawa dari Jakarta. Setelah itu kami mendirikan tenda sembari menunggu tiga teman kami yang lain. Yang masih di perjalanan. Waktu itu sekitar jam 6 sore. Tenda harus segera berdiri sebelum malam datang. Sementara ketiga teman kami belum datang juga.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dua tenda akhirnya berdiri juga. Tidak lama berselang satu teman kali datang. Mega. Lalu beberapa menit kemudian, saat langit mulai gelap, Riswan dan Dimas turut menyusul dengan sudah menggunakan senter yang menyala putih.

Tidak banyak acara malam itu. Setelah makan malam dan sesekali mencoba membuat api unggun yang gagal menyala, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat. Beberapa dari kami memutuskan untuk sejenak melihat langit yang malam itu cukup cerah dan bertabur bintang. Tidakturunnya hujan malam itu juga menjadi berkah tersendiri bagi kami karena kami lupa tidak membawa plesit buat pelindung tenda.

Tenda tempat kami bermalam

Tenda tempat kami bermalam

Kami bangun terlalu pagi, tepat setelah matahari menunjukkan sinarnya yang menerobos pepehonan. Saya menyempatkan untuk mengambil momen itu dengan kamera yang sudah sekarat baterenya. Hanya beberapa foto saja tapi cukup untuk menginti matari pagi.

Awalnya, kami hanya berencana untuk sampai di mata air dan menginap di sana. tidak lebih dari itu. Hal itu tentu saja karena melihat kondisi sebagian kami yang tidak terlalu fit sebelum naik. Tapi pagi itu rencana praktis berubah, setelah mengisi perut dengan persediaan karbohidrat yang cukup, kami memutuskan untuk melanjutkan naik ke Mandalawangi. Jika ada yang ingin meneruskan sampai puncak juga tak apa-apa. Toh, jarak dari Mandalawangi ke puncak hanya lima menit saja. Jadi tidak terlalu jauh.

Rencana ke Mandalawangi benar-benar membuat saya melonjak kegirangan dalam hati. Saya tak mau menunjukkan ekspresi berlebih di depan teman-teman jika saya benar-benar senang pas ada rencana meneruskan ke Mandalawangi. Saya tidak terlalu ingin ke puncak, dalam hati saya hanya ingin ke Mandalawangi, ingin menyaksikan bayangan Gie menulis puisi buat kekasihnya. Menyaksikan lembah kasih yang fenomenal itu. Menyaksikan kabut putih yang turun perlahan-lahan. Menyaksikan deretan adelweis yang membuat bocah kritis itu betah berlama-lama di sana.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, jarak dari tempat kami bermalam dengan Mandalawangi hanya 500an meter kalau ditarik garis lurus. Ditambah dengan kondisi badan yang telah terisi energi, membaut pendakian pagi itu berjalan lancar dan cepat. Kurang dari sejam kami sudah sampai di lembah.

Dan wow! Hamparan tanah lapang tersaji di balik rerimbunan pohon. Di sana sudah ada beberapa pendaki lain yang bermalam di sana. Mereka semua tampaknya rombongan yang memilih rute dari Kandang Badak, jalur Cibodas. Jalur yang sama sekali berbeda dengan kami.

Sesampainya di hamparan tanah luas itu, kami langsung mengeluarkan senjata; kompos beserta gasnya. Kami masak air panas buat menyeduh energen yang terbawa. Tidak hanya itu, dua gelas kosong langsung terisi oleh cairan nata-de-coco yang telah disiapkan sejak awal. Maka terjadilah apa yang dinamakan pesta nata-de-coco di Mandalawang. Bersanding dengan udara sejuk yang ada, pesta tadi berlangsung hikmat dan nikmat. Aih…

Pesta nata-de-coco di lembah Mandalawangi

Pesta nata-de-coco di lembah Mandalawangi

Di Mandalawangi kami tidak terlalu lama, hanya sekitar satu jam saja. Dua di antara kami memutuskan untuk naik ke puncak yang hanya berjarak-tempuh lima menit. Sementara saya dan dua teman lainnya lebih memilih untuk menikmati sisa-sisa nata-de-coco yang ada. Sembari menunggu dua teman yang muncak, kami ngobrol ngalur ngidul membicarakan rencana turun.

Sekitar jam 11 kami kembali ke tenda. Setelah berkemas dan makan siang, sekira jam satu siang kami memutuskan untuk turun. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih menempal, tepat pukul 21.30 malam kami sampai di pelataran parkir wisata Cibodas. Selepas makan, bebersih, dan istirahat secukupnya, kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Pastinya dengan segudang cerita yang sayang untuk tidak dituliskan.

Salam…

5 comments

  1. Rizal · April 19, 2013

    Aku urung sido rono

  2. sasha · April 20, 2013

    Ajajajaja, racun iki. Pokokmen aku kudu tekan kono🙂

  3. Berdiri di sana menghirup dan mengisap keringat semesta.🙂

  4. fadli12345 · April 14, 2015

    jalurnya kebaca gk om,,boleh di coba tapi minta izin dulu sama kepala taman nasional gunung gede,

    • fadli · April 14, 2015

      jalurnya kebaca gk om,,boleh di coba tapi minta izin dulu sama kepala taman nasional gunung gede,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s