Surat Buat Sumber Kencono

Sejak di Jakarta, aku jarang mendengarmu. Akhir-akhir ini kamu jarang memberi kabar. Entah kenapa. Aku tidak tahu pasti. Tidak ada satu nomer pasti yang bisa aku hubungi untuk sekadar menanyakan bagaimana kondisimu sekarang.

Kamu memang selalu memberi nomer telponmu kepadaku. Tapi tidak pernah aku catat karena saking banyaknya. Bayangkan setiap jalan bareng, kamu memberi nomer baru. Beberapa kali kamu juga memberi nomer telpon rumah, juga tak pernah aku catat. Tak jarang juga kamu memberi kartu nama kepadaku. Karena ada tenggat dalam kartu nama itu, maka aku tidak pernah menyimpannya dalam kurun waktu yang lama. Apalagi kartu itu tidak bisa dipakai di momen-momen idul fitri, jadi aku lebih memilih untuk tidak memakai kartu nama pemberianmu lagi. Maaf.

Kamu ingat kan terakhir kali kita bertemu beberapa bulan yang lalu? Tepat sehari sebelum tahun baru 2013? Tak apa kalau kamu lupa. Waktu itu aku melihatmu tapi sudah dengan nama yang berbeda. Aku tahu kalau itu kamu dari omongan beberapa kawan. Ia, kawanku itu, juga bilang bahwa itu adalah pergantian namamu untuk kali ketiga. Wow, kali ketiga?

***

Banyak alasan sesuatu berganti nama. Mungkin kamu juga begitu, aku tak tahu. Dulu sepupuku pernah berganti nama, sama sepertimu, gara-gara nama pertamanya dianggap tidak memberi keselamatan baginya. Ketika masih memakai nama-pertamanya itu, ia sering sakit-sakitan. Beberapa kali juga ia ditimpa kejadian yang cukup aneh, seperti dilewati seekor piton sebesar paha orang dewasa saat  sedang tertidur pulas. Untung saja ular itu tidak menggigitnya mungkin karena ia tidak bergerak sama sekali. Selepas kejadian-kejadian itu, entah apa yang ada di benak orangtuanya kala itu, sepupuku itu lantas berganti nama. Ajaibnya, nama barunya itu terbukti menjadikannya terlihat lebih sehat dan bugar. Tidak ringkih dan sakit-sakitan lagi seperti semula.

Mungkin begitu juga denganmu. Kamu mengganti nama tentu saja dengan pelbagai pertimbangan dan alasan. Adegium nama adalah doa mungkin masih kamu percaya. Kamu mengganti nama dengan sesuatu yang merepresentasikan sebuah keselamatan dengan melekatkan nama Selamat di bagian akhir namamu, sementara awalan Sumber masih kamu pertahankan.

Sebelum berganti nama, aku dengar, banyak orang yang mencibirmu. Kamu dianggap sebagai biang kematian. Kamu dianggap ugal-ugalan dan sering kecelakaan. Koran-koran dan media juga sering sesekali menyebut-nyebut namamu. Tentu saja reaksi beragam timbul dari pihak-pihak yang merasa kamu sakiti. Lemparan-lemparan. Desakan-desakan untuk memperhentikanmu dari beraktifitas. Dan yang paling tragis pernah ada yang membakarmu di daerah Kartosuro sana. Tapi aku salut padamu, kamu masih tetap hidup. Mungkin nyawamu ada sembilan.

Meski demikian, kamu adalah teman perjalanan yang menyenangkan, dan cukup setia. Kamu dengan segenap hati melindungi harta benda yang kamu bawa. Urusan maut memang tidak ada jaminan karena itu bukan urusanmu. Itu urusan Yang Membuat Hidup. Sepanjang kebersamaanmu denganku, tidak pernah ada yang coba-coba menggangguku atau berniat nyolong barang bawaanku. Beberapa kali bahkan kita ngopi bareng di terminal lama Ngawi untuk sekadar melepas penat di jeda perjalanan panjang kita yang gelap.

Iya. Terkadang beberapa kali terlontar umpatan-umpatan kejam khas jawatimuran. Jancuk lah, diampot lah, taek lah, mbokneancuk lah, semuanya kadang meluncur begitu saja.  Aku dan beberapa pelangganmu pastinya bisa memaklumi itu, lawong kamu gede dan besar di pinggiran Surabaya. Krian tepatnya.

Semakin ke sini, semakin sering kecelakaan yang melibatkanmu. Itu yang saya baca di media masa. Naasnya, kamu selalu dituding sebagai aktor utama musibah itu. Entah karena ngebut lah, ngantuk lah, atau karena kamu dianggap tengah mabuk. Semakin hari, semakin banyak yang menjelek-jelekkanmu. Tapi kamu tetap tangguh, pelbagai upaya kamu lakukan untuk menarik penggemarmu. Mengembalikan citramu. Dengan memasang AC salah satunya, tapi dengan tarif yang sama.

Bagi sebagian orang, perubahan ini terlihat aneh. Mereka membatin, “Ini bukan Sumber Kencono yang kami kenal.” Kamu memoles dirimu menjadi “bukan kamu” yang sebenarnya. Adikku pernah mengeluhkan itu. Ia merasa tidak cocok dengan perubahanmu yang tiba-tiba, yang semena-mena memasang AC di sekujur tubuhmu. Kamu terlihat lebih tidak bersahabat lagi bagi penggemar dan sahabatmu yang anti-AC. Hehe..

Di sisi lain, ada dua kolegamu yang memanfaatkan momen krusial itu. Momen di mana kamu selalu menjadi biang kemarahan orang. Dua kolegamu ini semakin hari semakin dilirik. Bahkan, beberapa kali aku kepincut dengan dandanan menor mereka berdua. Maafkan aku. Eh, kamu kenal mereka kan?

Segala sesuatu pasti mempunyai ambang-batas dalam pertahanan diri. Kamu juga demikian, karena terancam dicabut izin jalan, dan tentu saja karena motif ekonomi, kamu memutuskan mengganti nama–dan berganti dandanan, supaya orang kembali melirikmu. Ya salah satunya dengan menyematkan kata “Selamat” di akhiran namamu itu.

Alih-alih berjaya dengan nama baru, sial masih tetap menguntit di belakangmu. Masalah seolah tak kunjung minggat darimu. Selain nama, kamu juga mengubah corak warnamu yang khas. Tentu saja, upaya ini kamu lakukan secara bertahap. Tidak langsung semuanya.

Setelah itu praktis aku tak pernah mendengar kabarmu lagi secara langsung. Aku memutuskan untuk merantau ke Jakarta, bergabung dengan ribuan manusia urban lainnya. Tidak ada kabar tentangmu lagi. Sama sekali tidak ada. Sesekali kamu nongol di berita sore atau pagi sembari menunjukkan senyummu yang semakin getir. Tapi dengan masalah yang hampir sama. Begitu terus.

Lalu tidak ada kabar lagi.

Lama sekali.

Sampai akhirnya aku bertemu lagi denganmu. Yup, beberapa bulan yang lalu, tepat sehari sebelum tahun baru 2013. Kamu berganti nama. Lagi. Untu kali ketiga. Itu kata temanku.

Kalau tidak salah nama barumu itu pakai nama akhiran Rahayu. Rahayu sendiri mempunyai padanan makna dengan tenteram dan selamat. Secara tersurat dua nama barumu tersebut jelas berjauhan secara makna dengan nama pertamamu yang melegenda itu. Nama pertama lebih menekankan pada representasi emas, kencana, keuntungan, yang kadang terkesan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Adapun dua nama yang baru lebih berorientasi pada penumpang, mungkin. Dengan Sumber Rahayu atau Sumber Selamat sepertinya kamu berharap bisa menjadi  moda transportasi yang mengedepankan keamanan serta keselamatan sampai tempat tujuan.

Akhirnya, apapun nama yang tersemat padamu sekarang, orang-orang termasuk aku sudah kadung melekat dengan nama pertamamu. Nama legendaris yang dengan satu klakson saja sanggup menyingkirkan dan membuat minder pelbagai kendaraan di sekitarmu. Seorang kawan dari Medan pernah berkomentar tentangmu. Begini ia bilang, “ini lebih gila dari supir Medan. Sepanjang perjalanan dari Surabaya menuju Jogja, aku selalu berpegangan pada besi yang ada di jendela”. Hehehe kamu dianggap lebih gila. Tidak mau kalah dengan teman Medan-ku, teman Jogja-ku suka nyletuk begini tentangmu, “ini latihannya di Amerika apa ya? Kok dari tadi jalannya di ruas kanan terus!?”

Akhirnya, surat ini akan ditutup dengan pernyataan monumental tetangga Lamongan-ku, “uang, barang, dijamin aman. Tapi tidak dengan nyawa.”

Sudah-sudah, perkataan mereka tak usah diambil hati. Anggap angin lalu saja. Sepertinya mereka hanya  bercanda, karena diam-diam, mereka juga menyukaimu dan merindukann mu. Bahkan sampai sekarang!

Salam, pelanggan setiamu.

4 comments

  1. deend! · July 23, 2013

    Hehehe, apik Bang! Terakhir saya ke terminal Giwangan, bis langanan abang ni masih eksis. Sibuk angkut paket tapi. (:

    • ndangcerung · July 24, 2013

      Iyo ta? Aku wes sui gak numpak Sumber Kencono. Eh, iki sopo yo? Hehehe

      • deend! · July 24, 2013

        Saya Dian, beberapa bulan terakhir saya bolak balik Paciran loh Bang, jadi seneng akhirnya “nemu” blog ini. Salam kenal (:

      • ndangcerung · July 24, 2013

        Hahahaha, baiklah. Kok bisa nemu blog remuk ini? Lah, ngapain ke Paciran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s