Utuk a.k.a Putra

Nama aslinya Putra. Pastinya punya nama panjang, tapi saya tak tahu. Teman-teman bermainnya, ibunya, dan saudara-saudaranya memanggil dia Utuk. Hanya neneknya yang masih keukeuh manggil dia Putra.

Umur Utuk kira-kira dua tahun. Ya, dia masih cukup muda. Masih anak-anak sekali. Hampir setiap hari dia main ke kosku. Rumahnya, beserta ibu dan neneknya tepat di depan tempatku indekos. Tiap mempunya mainan baru, Utuk selalu memberi unjuk ke kami. Ya, saya dan teman-teman kosan.

Utuk yang hanya nama panggilan punya satu kakak cewek, namanya Fira. Kalau kata Dila, sepupu Utuk dan Fira, Fira kini tengah rajin-rajinnya masuk sekolah TK B. Kondisi ini sekilas yang saya lihat membuat Dila iri sama Fira. “Dila juga ingin sekolah, tapi entar kalau Iya–nama panggilannya Fira–uda masuk SD kelas satu,” kata Dila yang kini menginjak lima.

Selain bersama neneknya, hampir sepanjang hari, waktu Utuk dihabiskan bersama kakaknya, Iyak, dan Dila. Karena pagi Iya harus sekolah, maka waktu pagi waktu Utuk praktis bareng Dila. Tidak jarang ketiganya terlibat pertengkaran dahsyat. Ya cukup dahsyat. Meski baru menginjak dua, Utuk terlihat telah fasih mengucapkan beberapa kalimat umpatan. Oke, di rak bukuku memang ada buku Karnaval Caci Maki, tapi saya yakin, Utuk belum menyentuh buku itu. Dila juga demikian, bahkan dia lebih fasih dari Utuk yang banyak ngekor dengan kalimat yang kerap diuarkan oleh Dila.

Beberapa kali ketiganya terlihat perkelahian segi tiga. Awalnya Dila dan Utuk rebutan makanan, Utuk tak terima lantas menjambak rambut Dila. Kejadian tadi tak urung membuat keduanya Nangis. Iya yang mempunya naluri seorang kakak dari keduanya berupaya melerai perkelahian tersebut, tapi Dila sepertinya mempunyai anggapan berbeda. Dila merasa Iya lebih sering membela Utuk yang adik kandungnya dari pada dirinya, oleh karena itu, Iya yang berniat melerai lebih sering kena jambakan balasan dari Dila. Sontak saja ketiganya pun menangis berjamaah. Sedarah yang kompak. Perkelahian segi tiga yang wow…

Meski tiap hari keriangan ketiganya selalu berujung pada salah satu dari mereka ada yang menangis, tapi kekompakan ketiganya patut diapresiasi.

***

Baiklah, saya sekarang lagi ngekos di daerah komplek dosen UIN Jakarta. Tepatnya di jl. Sedap Malam. Letaknya tidak terlalu jauh dari kampus I maupun II UIN Jakarta. Kalau jalan kaki, kira-kira hanya membutuhkan waktu 5 sampai 10 menit kalau langkah kita zigzag. Penduduk di sini rata-rata adalah pendatang dari Jawa. Kebanyakan mereka merupakan pedagang kaki lima yang suka mangkal di seputaram kampus yang katanya Islam Negeri itu. Jadi jangan khawatir akan kelaparan tengah malam, karena, akan selalu ada abang-abang jual makanan yang muter di sekitar situ.

Ada dua geng anak-anak yang nongol di gang depan kosku. Pengistilahan itu bukan mereka yang bikin, tapi saya yang membubuhkannya begitu saja. Dan perlu diingat, ini adalah geng anak-anak di bawah lima tahun.

Taruhlah geng pertama adalah gerombolannya Utuk, Iya, dan Dila. Gerombolan kedua ada Angga and the gang. Oh iya, Angga ini adalah tetangga kosku juga. Rumahnya, tepatnya kontraan bapak-ibunya, persis bersebelahan dengan rumah Utuk. Sepengetahuan saya, terutama Utuk-Dila tidak pernah akur dengan Angga. Angga dan saudarinya, Anggun, kerap kali menjadi bahan bully-an Utuk dan Dila.

Dan sebaliknya, Angga yang ibunya seorang pedagang toko kelontong sering membeli mainan baru. Posisi ini sering membuat Angga unggul atas Utuk yang lebih tergila-gila mainan dari pada Iya dan Dila. Angga akan dengan pongah memanggil Utuk lantas menunjukkan pedang-pedangan barunya. Memang niatnya jahil, beberapa kali Angga berniat meminjami mainan barunya tersebut, tapi belum sempat Utuk memegang gagangnya, Angga akan segera menariknya kembali. Sembari tertawa. Dan itu dilakukannya beberapa kali. Kali ini Angga merasa menang.

Tapi di lain waktu, Angga yang tengah ditinggal beberapa kawannya, merasa kesepian. Sekonyong-konyong dia akan melongok ke pagar rumah Utuk seraya bilang, “Tuk, boleh masuk nggak?” Tapi sepertinya usaha Angga akan sia-sia, alih-alih mendapat sambutan manis dari tuan rumah, yang didapat adalah dorongan pintu gerbang yang langsung menutup  rumah Utuk. Tidak hanya itu, beberapa Angga terlihat “tertolak” saat ingin bergabung dengan rombongan yang di dalamnya ada Utuk, Dila, dan Iya.

Akhir-akhir ini kedua kubu mempunyai objek rebutan baru. Baik Angga dan Utuk sama-sama mencari perhatian pada seorang bocah yang belum genap satu tahun. Namanya Galih. Tapi lagi-lagi, Utuk cs yang lebih menarik perhatian Galih dari pada Angga bersaudara. Selain faktor kedekatan ibu-ibu mereka, saya tak menemukan alasan lain kenapa Galih lebih sering merengek minta bermain ke rumah Utuk dari pada ke rumah Angga. Bisa jadi karena di rumah angga terlalu banyak orang yang notabene adalah pembeli di warung ibunya.

Lalu, jika disimpulkan siapa sampai saat yang lebih unggul? Maka jawaban sekilas saya bilang, Utuk masih sedikit lebih unggul dari Angga bersaudara.

 

maaf belum bisa kasif foto Utuk cs. Lain kali ya…!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s