Pandangan Mata Seorang yang Bukan Milanisti

Sejujurnya saya tak pernah benar-benar membenci tim-tim Italia. Buktinya, saya pernah menggambar hampir seluruh logo klub-klub serie A musim 1999 dengan sepidol warna yang saya beli di toko dekat rumah, termasuk logo Internaziole Milan.

Tapi cerita akan sepenuhnya berbeda jika anda ditugaskan untuk membuat sedikit liputan tentang saingan tim kesayangan anda. Terlebih lagi, untuk memperkaya stok gambar, anda harus mengomando narasumber buat menyanyikan lagu kebesarannya, yang tentu saja merupakan lagu kebesaran tim saingan tim anda.

Setelah resmi diumumkan bahwa para legenda Milan akan kembali mengunjungi Indonesia bulan Februari ini, saya langsung mendapat intruksi untuk liputan. Pelbagai persiapan tentu saja langsung dicanangkan, termasuk mengurus ID Card sebagai satu-satunya senjata pamungkas untuk bisa masuk ke lapangan Bung Karno.

Beberapa hari menjelang hari H, belum ada kepatian terkait ID Card. beberapa kali juga saya menelpon salah seorang asprod di RCTI guna mendapat kepastian kapan saya dapat kartu itu. Dan balasan melulu berkutat seputar, “entar saya kabarin lagi, Bib”. Saya tidak bisa apa-apa kecuali menunggu.

Sampai akhirnya sehari sebelum hari H, ada kabar bahwa saya bisa mengambil kartu tanda di salah satu produser sport di RCTI. Tanpa pikir panjang, saya langsung menuju masjid tempat yang dijanjikan buat ketemuan, tapi sesampainya di sana, saya tak bertemu dengan satu pun orang yang mengurusi masalah ID.

Kepanikan itu akhirnya mencair setelah Mas Hadi, orang yang saya cari di masjid, mengabari supaya saya segera ke mejanya buat ngambil ID. Saya ke sana dan dapat yang saya inginkan meski hanya satu. ID yang satu lagi, buat kameramen bisa saya ambil saat saya tiba di stadion Bung Karno.

Sempat ada kesalahapahaman terkait kameramen, tapi semuanya bisa dirampungkan dengan damai dan tanpa gontok-gontokan. Satu kamera buat dua tim; Kick Off MNC Sport dan RCTI Sport. Tak masalah.

Malam sebelum berangkat ke Senayan, saya tidur lumayan cukup. Saya minta izin buat tidak nginap malam itu. Beberapa persiapan sudah fix. Saya berharap bisa ngobrol dengan salah seorang pemain Milan. Pemain yang paling saya incar adalah Daniel Masaro, pemain Milan dan timnas Italia pertama yang sangat saya kenal.

Sejak awal tahu, saya jatuh cinta dengan tendangan geledeknya. Tapi entah kenapa, saya tak menaruh hati kepada klub dia bermain. Ini semakin memantapkan saya bahwa untuk menyukai seorang pemain tidak harus menyukai klub dia bermain.

ID Card Pers yang Kacau

Tentu saja ada EO tersendiri dalam mengurus kedatangan Milan Tua ke Indonesia. Saya benar-benar tidak mau tau nama EO itu sampai akhirnya saya mensyukuri keputusan saya karena ternyata si EO, dalam kaca mata beberapa kawan pers, tidak becus.

Yang paling kentara adalah terkait penyediaan ID Card buat liputan. Memang saya tidak terlalu bermasalah dengan kertas berplastik itu, tapi keluhan banyak keluar dari teman-teman lain yang hendak liputan.

Seharusnya, ID sudah dibagikan beberapa hari menjelang hari H. Tapi pada kenyataannya, itu tidak terjadi. ID terlambat dibagikan ke kawan-kawan peliput, ironisnya, ID justru banyak beredar ke orang-orang yang “tidak berkepentingan”. Tidak berkepentingan dalam artian, bahwa persis di belakang gawang adalah areanya kawan-kawan pers, tapi pada sore itu, banyak yang non-pers berdiri tepat  tepat di belakang gawang.

Milanisti mana sih yang tak mau melihat idolanya dari jarak yang sangat dekat?

Saya sepenuhnya tidak menyalahkan mereka, yang menonton pertandingan di “area pers” dan tidak tahu ini siapa yang salah. Memang sih, setahu saya tidak ada aturan baku di mana kita harus menonton bola, tapi saya kira setiap venue pertandingan mempunyai aturannya masing-masing terkait di mana penonton dan di mana peliput.

Parahnya, banyak ID yang anonimberkeliaran yang dengan seenak udelnya diberikan kepada keluarga atau oran-orang terdekat biar bisa masuk langsung ke lapangan. Saya tidak tahu apakah mereka kerabat panpel, EO, atau official? Yang jelas, mereka sangat mengganggu.

Memerah-hitamkan Bung Karno

Saya sempat melakukan wawancara dengan salah seorang milanisti dari Ambon, “kami akan memerah-hitamkan Gelora Bung Karno,” katanya berkobar.

Mereka telah meramaikan Bung Karno sejak siang habis adzan dhuhur. Mereka bergerombol dengan sezione-nya masing-masing. Beberapa di antaranya bernyanyi dengan yel-yel khas kebesaran Milan. Tidak sedikit juga yang terut serta mengajak anak-istrinya, yang tidak jelas apakah mereka milanisti juga atau tidak. Hehehe..

Semakin sore, milanisti yang datang semakin banyak. Ada yang sendirian, bersama keluarga, bersama pasangan, bersama chapter mereka berasal.

Sekitar jam tiga sore, pintu timur Bung Karno dibuka, para milanisti yang tadinya banyak berserak di luar mulai merangsek ke dalam. Tujuannya; tribun timur tepat sebelah kanan gawang. Sebagian lagi masih di luar menunggu bus rombongan Milan Glory yang kabarnya akan sampai di Bung Karno sekirat jam 4 sore.

Menjelang kick off, tribun itu semakin berjejal. Bendera serta panji-panji kebesaran sudah terbentang. Beberapa tulisan berbahasa Italia, yang entah mereka tahu artinya atau tidak, semakin banyak bermunculan. Gambar Sheva, Maldini, Baresi, mulai berdiri gagah. Dan di tribun ini, nyanyian-nyanyian khas Milan semakin terdengar agung, menggelegar. Tapi yang saya tunggu tak kunjung keluar. Ya, suar merah yang kerap muncul di pojokan San Siro belum terlihat.

Suasana semakin bergemuruh saat para pemain Milan tua keluar untuk melakukan pemanasan. Sejurus kemudian, Masaro dan Ganz yang tiba-tiba muncul memakai kostum lengkap Milan mendekati kerumuman milanisti. Tanpa sungkan-sungkan, mereka berdua mengambil foto dengan background Milanisti Indonesia.

Maldini sesekali melambai tangah ke arah mereka. Tidak lupa melempar senyum yang langsung bersambut dengan teriakan histeris.

Sebelum kick off

Kick off dimulai, dan tribun timur bagian selatan benar-benar bergemuruh. Yel-yel mengalir tak ada putus. Milanisti Jogja, yang memisah dari yang lain—mereka mengambil posisi persis di belakang gawang Taibi—terlihat lebih kreatif dengan gerakan yang sama sekali berbeda dengan yang lain.

Tidak lantas membuat iri dan lantas ribut, kreatifitas rombongan Jogja justru mendapat sambutan istimewa. Sering kali selepas yel khas mereka dilagukan, tepuk tangan langsung tertuju kepada mereka. Tidak jarang juga, gerakan dan atraksi mereka diikuti oleh milanisti lain.

Setelah sekian lama, suar itu akhirnya muncul juga, tepat setelah gol pertama Serginho. Sudut timur Bung Karno memerah. Ya, saya bukan milanisti, tapi momen itu sepertinya tidak bisa dibiarkan. Dengan kamera hp yang alakadarnya, saya mengambil beberapa momen bagus itu.

Tampaknya polisi tidak bersahabat dengan momen itu. Polisi-polisi itu bersikukuh bahwa tidak boleh ada kembang api dan sejenisnya masuk ke dalam stadion. Oleh karena itu, para milinasti yang tengah asik dengan suar merahnya beberapa kena damprat polisi.

Tapi bukan orang Indonesia kalau tidak pernah ngenyel dengan aturan. Tekat memerah-hitamkan Bung Karno tampaknya masih menjadi tabungan utama mereka sore itu. Sekali lagi, suar terlontar setiap kali para pemain-pemain Milan Glory mencetak gol. Tidak hanya itu, luncuran kertas putih panjang yang kerap muncul di stadion juga semakin sering.

Milanisti Indonesia memerah-hitamkan Bung Karno

Ah, jancuk, saya terlena! Hehe

Suar di mana-mana

Walaupun begitu, saya mencoba memberi sedikit catatan buat kawan-kawan milanisti kemarin. Beberapa saat setelah peluait panjang berbunyi, para milanisti yang berada di tribun barat berhamburan melewati pagar pembatas stadion yang tingginya kurang lebih tiga meter itu. Mereka berniat menyerbu para pemain idolanya.

Aksi mereka sontak mengundang polisi untuk bertindak represif. Akibatnya, tidak hanya para milanisti nekat saja yang hampir kena pentung polisi, tapi juga para peliput. Saya yang sedari awal membawa rompi broadcast langsung memakainya biar lebih aman.

Suasana yang hampir keos cepat terkendali. Para milanisti sukses diusir kembali ke tribun untu selanjutnya digiring keluar Bung Karno.

Oh satu lagi.

Baiklah, saya adalah salah satu orang yang menempatkan Inter Milan di tempat paling bawah daftar tim yang saya suka di Italia. Tapi menaruh bendera Inter tepat di bawah mata kaki lantas diseret-seret di tanah dan dijadikan keset, menurutku, adalah tindakan yang tak beradab, apalagi dilakukan oleh seorang yang mengaku milanisti yang pamornya sudah sangat melegenda.

Penilaian saya mungkin terlalu berlebihan, tapi memang begitulah kenyataanya.

Bepe; sebuah anomali

Beberapa hari sebelum hari H, Bepe, dalam sebuah press conference bilang, “saya adalah interisti” di pemain-pemain Milan Glory. Statemen Bepe langsung disambut oleh Billy Custacurta. “Anda penyerang, dan akan berhadapan dengan saya,” kata Billy.

Dari sekian pemain Indonesia All Star sore itu, Bepe, menurutku adalah pemain yang paling prima. Bermain full dua babak, Bepe mencetak dua gol Indonesia. Tidak hanya itu, sundulan bolanya juga beberapa kali mengancam gawang Taibi.

Meski demikian, Bepe tidak lantas mendapat elu-elu dari sebagian penonton sore itu. Justru sebaliknya, setiap Bepe memegang bola, sorakan selalu dilayangkan kepada pebola yang kerap ngeblog itu. Saya tidak paham maksud sorakan itu, bisa jadi karena dia adalah interisti yang pastinya menjijikkan bagi pendukung Milan. Tapi saya sempat kepikiran apakah sorakan itu ada karena sikap Bepe yang tidak “kooperatif” dengan sepak bola Indonesia. Dalam blog pribadinya, dia menyebut dua kompetisi yang ada di Indonesia saat ini adalah ngawur. Oleh karena itu, Bepe memutuskan untuk tidak berada di keduanya.

Yah, semoga tidak.

Panpel, Asu!

“Mas, kami minta satu saja pemain Milan Glory, biar kami bisa wawancara sedikit saja,” salah seorang kawan peliput dari Surat Kabar Seputar Indonesia meminta bantuan kepada salah seorang panpel di lorong menuju loker pemain. Tapi permintaan itu tidak ditanggapi sama sekali, bahkan mereka tidak memberi alasan kenapa tidak ada sesi wawancara atau prescon. Sementara bagi saya pribadi, akan sangat berharga jika ada prescon.

Meski demikian, kami tidak lantas beranjak dari ruang tunggu kami. Kamera serta handy mic tetap kami nyalakan buat mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi. Tidak hanya itu, keberadaan para milanisti yang juga berdesak di depan pintu loker pamain Milan Glory saya rasa juga sangat mengganggu. Tapi saya tidak bisa menyalahkan mereka, ini adalah momen paling penting buat mereka.

Jam menunjukkan 19.00, tapi belum ada tanda pemain Milan Glory akan keluar dari ruang ganti mereka, sampai datang beberapa penggede polisi setempat dan tanpa disangka-sangka membelokkan rute keluarnya pemain. Tentu saja ini membuat saya kaget. Kabel mic saya lepas. Kameramen saya ajak meloncat tembok yang tingginya hampir tiga meteran. Incaran saya adalah Baresi, karena dia yang paling dekat. Tapi apa mau dikata, Baresi tak terjangkau. Kawalan polisi sulit ditembus. Belum lagi, jaring yang terbuat dari tali tambang membatasi gerak kami.

Tidak mau kecolongan, saya dan kawan dari Metro TV lantas berlari ke lorong depan official RCTI berada. Sekali lagi nihil. Lalu saya kepikiran lapangan. Ya, lapangan. Pasti para pemain dilewatkan dari sana.

Dengan nafas yang sudah tak karuan, saya mengajak lari (lagi) kameramen saya menuju lapangan utama. Dan benar, Sheva berada di kawalan paling depan. Kami berhambur mencoba memburunya tapi gagal. Selain sikap Sheva dingin, pengawalan malam itu begitu ketat. Menyusul kemudian pemain-pemain lain muncul dari pinggir lapangan yang sudah gelap. Saya mencoba door-stop mereka, tapi kondisi sudah sangat kacau. Belum lagi aparat polisi yang tiba-tiba jadi banyak. Saya mengumpat sekena-kenanya sesaat setelah sebuah dorongan hampir membuat saya terjerembab.

Semua pemain Milan Glory sudah berada di bus. Kamera masih mengarah ke para pemain itu. Di tengah situasi yang balau, Massimo Oddo masih sempat melempar gurau ke kawan-kawan pewarta.

Bagi saya, itu berarti sebuah kegagalan. Daftar pertanyaan yang sudah tersiap akhirnya sia-sia. Kondisi ini memang sudah diperkirakan sebelumnya, pasti akan ada pengawalan yang super ketat laiknya celana cewek. Tapi saya mencoba selalu mematuhi omongan kakak-kakak dulu di Ekspresi, siapkan TOR sebelum jalan liputan. Ya, meski akhirnya tak terpakai.

Dan akhirnya…

Tentu saja saya sangat kecewa gagal melakukan wawancara dengan para pemain hebat tersebut. Meski demikian, berlari dan berkejar-kejaran dengan calon narasumber–meski gagal–adalah kenikmatan saat liputan. Dan akhirnya, ucapan terimakasih tentu saja saya berikan kepada kameramen saya yang mau saya ajak lari-larian ngejar pemain Milan. Hehehe..

Yang jelas, tiba-tiba saya menjadi iri kapan tim favorit saya sudi menjenguk negara sakit ini. Berdesak-desakan dengan fans lain buat minta tanda tangan. Berteriak-teriak histeris tak jelas. Tapi saya benci memikirkan itu.

Saya punya cara saya sendiri untuk menyukai tim favorit saja, meskipun tanpa mempunyai satu jersey pun tim itu. Meminjam istilah para Holligans, mungkin saya bukan tipe fans bola pohon natal, yang suka berwarna-warni dengan atribut dan lambang tim.

Tabik!

2 comments

  1. azaziri · March 30, 2013

    ” mungkin saya bukan tipe fans bola pohon natal, yang suka berwarna-warni dengan atribut dan lambang tim.” I LIKE THAT…

  2. ndangcerung · April 1, 2013

    Iki Azaziri sopo? Robot ta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s