Tak Ada Muhammad di Jakarta

Dan ini sudah menjelang solat Jumat, tapi saya belum menemukan satu hal pun yang mambu Maulud Nabi. Apa karena saya sekarang ada di Jakarta yang membuat kita gegar, ataukaha karena saya sendiri yang….. Ah, sudahlah. Memang tidak ada yang istimewa dengan Mauludan di Jakarta. Saat di Jakarta, semua terasa menjadi serba klise, tidak asik, dan terkesan sangat ambar; puji-pujian di beberapa masjid saja, cerita Nabi pas malam, dan sudah.

Tidak ada yang berkesan dengan Mauludan di Jakarta yang baru saja bersorek dari banjir.

Dan ini sudah menjelang jumatan, sedikit lagi bahkan, tapi saya tak kunjung menemukan kalimat yang tepat untuk menggambarkan upacara kelahiran Kanjeng Muhammad yang ke..??? Silahkan hitung sendiri! Dan ini memaksa saya untuk menjadi melankoli (lagi). Mengingat-ingat mauludan di kampung pas TPA dulu, kemudian di pesantre, dan lalu di Jogja. Masing-masing tempat seolah memberi pola tersendiri terhadap ritual yang konon direalease pas zaman Dinasti Fatimiyah tersebut.

Dulu. Dulu sekali, saat masih diberi kesempatan ngaji di Al-Abrar, sebuah masjid yang kemudian menjadi lambang legetemasi Muhammadiyah kampung saya, momen mauludan adalah momen yang dinanti. Karena pada momen itu, semua santri yang ngaji di sana ditugasi membawa makanan ke masjid. Terserah, makanan itu mau bikinan mboknya, atau beli di beberapa pedagang kue. Amaran itu juga sifatnya tidak wajib, hanya dianjurkan. Setelah semua makanan ngumpul di masjid, maka acara mauludan malam itu akan ditutup dengan acara bagi-bagi makanan dari masing-masing santri.

Tentu saja, ini menjadi kesempatan bagi santri yang makannya itu-itu saja seperti saya, untuk mendapat jenis makanan yang lebih berfariasi. Lebih warna-warni. Mulai dari lemet sampai nagasari, klepon sampai kacang rebus, kopi tubruk sampai juz jeruk. Semuanya tersedia dan tinggal pilih saja.

Pas belajar di pondok juga demikian. Momen mauludan biasanya digunakan untuk keluar pondok dengan ilegal. Loh kok? Iya, pasalnya, biasanya waktu maulud Nabi, pondok tempatku ngaji diundang khusus buat mengisi acara Pawai Taaruf yang kerap dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan. Nah, tidak afdhol dong kalau hanya sebagai pengisi acara saja, saya dan teman-teman juga sering memanfaatkan ini buat “cuci mata”, jalan-jalan keliling kota, belanja-belanja, dan sebagainya. Yang suka ngerokok, biasanya suka memanfaatkan kesempatan ini untuk merokok sepuas-puasnya. Sampek jebol lambene pokoke!

Nah kalau di Jogja rasanya saya tidak perlu bercerita banyak. Acara Grebeg Sekaten tiap mauludan rasanya telah menjadi agenda rutin Dinas Kebudayaan DIY. Jadi sampean-sampean semua bisa dong merasakan, bagaimana ramainya Alun-alun Utara Keraton Jogja? Pasar malamnya, awul-awulnya, dan gadis-gadis medoknya. Hehehe.. Jujur, saya tidak sering liat grebeg, terhitung cuma sekali, tapi itu rasanya sudah menunjukkan kepada saya bagaimana ramainya Jogja di sekiratan Rabi’ul Awal. Aih, Jogja memang istimewa dah…

***

Dan ini sudah mau adzan Jumat, saya harus bergegas mandi dan wudlu. Saya masih takut dikutuk jadi kera gara-gara tidak jumatan. Hehehe

Tapi tetap saja, saya belum menemukan Muhammad di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s