Bis Malam

Pertanyaannya sederhana, kesanmu saat duduk di bangku paling depan bus malam seperti apa toh? Coba bandingkan dengan saat anda duduk di kursi depan L300 misalnya. Saya ingat statement salah seorang kawan beberapa tahun yang lalu saat gagas tema buku Ruang Kota bagaimana pertama kali memaknai ruang sekitar kita. Kita akan membuat kesimpulan bahwa ruang ini sempit atau ruang ini luas. Tentunya dengan pelbagai alasan dan argumen masing-masing.

Saat berada di dalam sebua mobil, taruhlah kita akan mengamati sebuah jalan raya yang kita lalui, tentunya kesan yang akan kita dapat juga berbeda jika kita naik bus (malam) atau sekadar L300. Hehehe, kok jadi mbulet begini toh?

Baiklah, sebenarnya saya mau bercerita tentang bus malam yang beberapa hari yang lalu –sebenarnya uda setelah bulan yang lalu sih—saat pulang dari Jakarta ke Jogja. Karena tiket kereta yang biasanya menjadi moda utama perjalanan saya habis, maka dari itu saya harus banting setir ke bus malam. Pastinya dengan pelbagi pertimbangan dan intrik politik yang berdarah-darah.

Nanti dulu, sabar, sebelumnya saya akan menarik beberapa bait dari puisinya Sapardi yang judulnya Dalam Bis;

Langit di kaca jendela  bergoyang/Terarah ke mana wajah di kaca jendela/Yang dahulu juga mengecil dalam pesona/Sebermula adalah kata/Lalu perjalanan dari kota ke kota/Demikian cepat/Kita pun terperanjat waktu henti ia tiada…

Adalah bus Pahala Kencana, yang menurut beberapa kawan saya mempunyai track record yang lumayan bagus saat berliku-liku di jalan raya, yang menemari saya dalam perjalanan pulang ke Jogja.

Dan ternyata benar, selain sukses melalui perjalanan malam jahanam itu dengan mulus dan lancar, bersama bus malam berplat B itu saya suksses menikmati sensasi tersendiri tentang kebanalan dan kebinalan Pantai Utara. Waw, jalur paling legendaris sepanjang sejarah mudik Idul Fitri. Ya, meski tidak sesangar hadiah bingkisan Sumber Kencono, tapi itu sudah lebih dari cukup.

Sebentar, mula-mula saya mau sedikit saja cerita tentang Sumber Kencono sebelum balik lagi ke Pahala Kencana. Bersama bus yang berkandang di pinggiran Krian a.k.a Sumber Kencono, kurang lebih selama lima tahun kuliah di Jogja, saya telah merajut romantisme yang begitu intim dengan bus biadab itu. Kota-kota “merah” di sebagian tengah dan sebagian timur Jawa telah menjadi santapan yang melodramatik. Pabrik gula-pabrik gula yang angkuh, hamparan luas pabrik tebu yang berdarah-darah, pematang sawah yang menggiurkan, dan tentunya gadis-gadis manis sepanjang Madiun-Jombang yang tampak sedap dikonsumsi mata. Hehehe…

Meski kerap dihinggapi kecelakaan di jalan yang dilalui, entah itu nyungsep  di sawah, beradu kepala dengan sesama bus, senggolan dengan truk pengangkut tebu, tetap saja, Sumber Kencono adalah teman terbaik sepanjang perjalanan pulang ke Lamongan.

Saya tidak tahu apakah ada pertalian darah antara Sumber Kencono dengan Pahala Kencana yang saya tumpangi beberapa minggu yang lalu. Keduanya sama-sama menggunakan nama belakang “kencono/kencana” untuk melengkapi nama depan Sumber dan Pahala, tapi yang jelas, dari pengamatan sekilas saya, dua-duanya sama-sama jagoan di jalanan. Hahaha..

Saat bus malam yang saya tumpangi keluar dari Kabupaten Cirebon dan memasuki Brebes, lanskap besar kaca depan bus langsung membawa saya pada sebuah memori seputaran 1945, saya teringat dengan Peristiwa Tiga Daerah-nya Anton Lucas. Dan langsung membayangkan, seperti apa revolusi itu terjadi dulu? Bagaimana para kepada desa dan wedana diseret oleh para petani dan dijarah lumbung padinya?

Ketika memasuki Pemalang, saya juga langsung teringat nama Supangat, nama yang begitu kesohor dalam peristiwa Tiga Daerah yang secara aklamatif dianggap sebagai bupati Pemalang oleh rakyat yang kadung kalap.

Tapi secara umum, setelah melihat keadaan ketiga kota itu—Brebes, Tegal, Pemalang—saya berkesimpulan bahwa ketiga kota itu sangat jauh dari kesan “merah”. Tidak seperti Kediri, Klaten, atau Madiun. Kota-kota itu terlihat sangat tenang dan arif, tidak ada sama sekali sisa-sisa bara yang dulu pernah meluap-luap. Lalu, cara yang ditempuh Anton Lucas itu kayak apa sih? Sampai-sampai pria berkacamata itu sukses merampungkan buku yang begitu tebal dari sumber-sumber yang sebagian besar adalah sumber lisan.

Yup, benar sekali. Bagi siapapun, yang belum membaca Anton Lucas, akan sangat sulit sekali mengenali bahwa dulu daeraha ini pernah sangat membara, karena selain hening, yang ada hanya lubang-lubang besar di aspal murahan yang meliputi jalan-jalannya.

Dus, apapun itu, minimal Pahala Kencana telah membawa saya ke sebuah daerah yang sebelumnya hanya saya ketahui dari buku dan peta saja. Ke sebuah daerah yang oleh beberapa dosen saya dijadikan rujukan paling sahih untuk mata kuliah Sejarah Lisan. Aih…

Selain snek dan makan malam di Subang, selama hampir sebelas jam perjalanan—ini sebenarnya diluar kebiasaan, jarak tempuh Jakarta-Jogja biasanya 12 jam—bus malam itu telah membuat saja terjaga hampir sepanjang perjalanan. Tidak hanya itu, beberapa tempat baru yang belum saya ketahui juga menjadi hidangan khusus malam itu. Bagian selatan Weleri salah satunya. Saya tidak menyangka, bahwa Weleri seperti itu bentuknya; terjal, bergunung, dan bergelombang, yang akhirnya juga sukses mengantarkan saya ke pinggiran Temanggung, tepatnya Parakan. Ya, akhirnya saya melewati tempat itu.

Pertanyaannya sederhana, kesanmu saat duduk di bangku paling depan bus malam seperti apa toh? Coba bandingkan dengan saat anda duduk di kursi depan L300 misalnya. Saya ingat statement salah seorang kawan beberapa tahun yang lalu saat gagas tema buku Ruang Kota bagaimana pertama kali memaknai ruang sekitar kita. Kita akan membuat kesimpulan bahwa ruang ini sempit atau ruang ini luas. Tentunya dengan pelbagai alasan dan argumen masing-masing.

Kaca depan bus malam adalah layar bioskop yang melulu menawarkan kepuasan dalam tiap perjalanan. Jika anda pergi ke museum yang banyak dihiasi dengan diorama pesanan penguasa, maka kacan depan bus malam adalah murni. Ia adalah diorama yang benar-benar hidup yang tak perlu kaca mata tiga dimensi untuk menikmatinya. Percayalah, memorimu akan diajak berputar searah dengan gagang stir pak supir.

Semakin intim karena sesampainya di Jogja, saat di jembatan Janti, saya disambut oleh kabut yang sudah jarang sekali muncul di Jogja. Indah sekali. Tidak mau terlalu larut dalam suasana melankoli yang benar-benar asu, saya langsung memutuskan ngopi ke warung biasa. Lalalala…

Sekian.

Tabik!

One comment

  1. riyanto · October 22, 2013

    gan ♍a̶̲̥̅̊υ̲̣̥ tanya naik bis rosin dari cengkareng ke jogja janti bisa gak gan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s