Saya dan Ricky Yacobi

Sering sekali, tiba-tiba kita merasa inferior saat berhadapan atau bersua dengan orang yang lebih sangar dari pada kita. Dalam segi apapun. Dan jujur saya benci itu, meskipun saya sendiri sering seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, toh  memang demikian kenyataannya.

Saya kira tidak ada yang meragukan kehebatan seorang Ricky Yacobi sebagai legenda hidup sepak bola Indonesia, dan saya yakin seyakin-yakinnya, siapa pun yang berhadapan dengan dia, walaupun di umurnya yang sudah uzur, akan merasa minder dan grogi. Tidak percaya? Terserah.

Saya dengar nama Ricky Yakobi dari bapak dan kakak saya. Sebagai orang yang sangat ngefans sama Hermansyah, bapak saya sangat tahu siapa pria kelahiran Medan itu. Pun demikian halnya dengan kakak saya, mewarisi darah suka sepak bola dari bapak, kakak saya adalah “kamus berjalan” perihal sepak bola.

Tidak berhenti sampai di situ, saya lantas mendapat kesempatan melihat kepiawaian Ricky Yacobi bermain bola pada sebuah laga bertajuk Milan Glory beberapa tahun yang lalu lewat pesawat televisi. Satu golnya ke gawang Milan dibuat dengan cara yang sangat bintang, meski akhirnya tim yang ia bela harus kalah 4-1 dari orang-orang tua Milan.

Lalu, kalau tidah salah, saat itu akhir 2011, beberapa hari menjelang gelaran Sea Games 2011, kali ini saya benar-benar mendapat kesempatan langsung bersua dengan pria murah senyum itu. Salah seorang produser saya mengintruksikan untuk membuat profil Sekolah Sepak Bola Ricky Yacobi untuk sebuah program yang bahkan belum dilaunching sekalipun waktu itu; Kick Off.

Memang tidak ada yang terlalu spesial sih waktu, bahkan terkesan sangat biasa dan klise. Bertemu, ngobrol, mengambil stock gambar, minta tips sepak bola, terus pulang. Meski demikian, berkesempatan untuk langsung bertatap muka dengan Ricky Yacobi adalah sebuah kado akhir tahun. Ya, bagi orang seperti saya, itu adalah hadiah.

Sampai akhirnya datang juga hari itu, sebuah hari yang bisa jadi sangat istimewa buat saya. Bermain bola satu lapangan dengan Ricky Yacobi. Satu lapangan, rek!

Kira-kira beberapa hari yang lalu, PSSI mempunyai inisiatif membuat acara reuni eks pemain tim nasional dengan melakukan laga persahabatan melawan teman-teman SIWO FC, tim bola yang isinya para wartawan olah raga. Saya yang pada awanya berniat meliput pertandingan itu akhirnya turut serta turun lapangan. Ya meski dengan kemampuan ala kadarnya. Hehehe…

Salah satu eks pemain timnas yang juga hadir adalah Ricky Yacobi. Hadir juga beberapa pengurus PSSI rezim Johar Arifin yang katanya tengah mengupayakan sebuah rekonsialisi sesegera mungkin terkait kisruh sepak bola tanah air.

Untuk Rikcy, saya tidak begitu tahu apa posisi sebenarnya, tapi sore itu Ricky memilih untuk bermain lebih ke dalam sebagai pengatur serangan.

Dan…

Meski dengan usia yang semakin uzur, skil Ricky masih canggih.

Walaupun posisi saya di area kiri, tapi beberapa kali saya menghadangnya. Dan sampean tahu apa yang terjadi? Hahahaha, jangankan merebut bola dari kaki tuanya, menyenggolnya saja sulit. Cara dia membalikkan badan masih berkelas, placing bolanya juga masih jitu. Intinya, dia masih komplit.

Laga sendiri dimenangkan oleh eks pemain timnas dengan skor yang tidak saya hitung. CUkup berkesan rasanya, selain bisa berebut bola dengan Ricky Yacoba, saya juga harus sering beradu lari dengan dua pemain Papua yang juga masih sangat cepat.

Mungkin, ini adalah tulisan saya paling narsis, tapi memang begitulah adanya. Hehehe, saya main bola bareng om Ricky Yacobi, mennn!!!

Tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s