Layar Tancap (Lagi)

Setelah sekian lama, ketemu juga tulisan agak serius tentang layar tancap. Lagi-lagi saya akan haturkan terima kasih buat buku kecil tulisan om Rosihan Anwar yang  ternyata cukup penting untuk memunculkan tema-tema tulisan alakadarnya.

Iya sih, tulisan itu hanya sebuah catatan harian yang nihil penelitian ilmiah kaya metode. Tapi lebih dari itu, aku kira itu catatan yang cukup penting untuk melihat layar tancap lebih dalam lagi.

Sedikit bergeser ke beberapa hari yang lalu, saya dengan sedikit niat sukses membuat satu artikel pendek ikhwal layar tancap. Meski tidak terlalu detail, saya kira itu cukup untuk bernostalgia dengan masa kecil dahulu yang kadang terlalu melankolis dan romantis.

Penulis artikel itu bernama Tajlie Robinson, kenalan Rosihan Anwar. Selain kerap menulis catatan-catatan selama perjalanannya, Tajlie juga dikenal sebagai seorang cerpenis. Kalau boleh bilang, Tajlie adalah sosok Indo-Belanda sejati. Dengan bapak yang totok Belanda dan ibu Negro, Tajlie berusaha keras menjaga eksistensinya sebagai Indo. Dan salah satu usaha pelestarian jati-dirinya adalah dengan menerbitkan majalah mingguan bernama Tong Tong.

Tjalie Robinson mendokumentasikan layar tancap saat perjalannya ke Bogor.

Tjalie Robinson mendokumentasikan layar tancap saat perjalannya ke Bogor.

Artikel tentang layar tancap dapat dibaca oleh publik murni karena jasa-jasa putrinya, di mana bersama teman-temannya membukukan tiap artikel yang terbit di majalah mingguan Tong tong yang diberi judul Tjalie Robinson Jurnalist, Schrijver… En al die dingen meer (Tjalie Robinson Wartawan, Penulis … Dan semua hal lain itu.

Untuk melihat seperti apa reaksi Tjalie, saya akan kutipkan secara utuh tulisan Rosihan Anwar tentang perjalanan TJalie saat menyaksikan layar tancap di Bogor;

Aku mengembera satu kali di sebuah desa kecil sebelah barat Bogor ketika desa itu menjadi repot karena sebuah bioskop keliling telah tiba, yang akan memberikan pertunjukan film malam itu, kata Tjalie. Di sebuah lapangan kecil dekat pasar dibangun semacam gedung bioskop. Artinya pemilik Tionghoa dari bioskop keliling mengambil dari truknya merek Ford sejumlah tikar panjang yang disusun dalam suatu empat persegi besar. Pada dua tonggak bambu direntangkan sebuah sprei tempat tidur yang penuh bercak-bercak, berfungsi sebagai layar. Di depannya dipasang proyektor yang mendapat aliran listrik dari generator di truk. Semua telah siap. Perlahan-lahan malam tiba, dan banyak penonton datang di lapangan kecil itu. Mereka membawa tikar dan daun pisang untuk tempat duduk di rumputan. Beberapa penduduk desa berjiwa pengusaha muncul di lapangan dengan sirop, kacang, tingting, bahkan soto serta sate. Bau-bau paling sedap terhirup. Pelbagai bunyi gembira lonceng-lonceng kecil, klontong dan tambur mewujudkan suatu suasana pesat. Keluarga-keluarga lengkap muncul dari kakek hingga cucu. Berpestalah.

Dalam pada itu malam Hindia (Indische nacht) turun ke bumi. Jarang aku duduk dalam sebuah bioskop yang lebih bagus dari itu. Dengan Jalan Susu, Orion dan Scorpio berkilauan di langit lazuardi. Dan di atas pagar panjang; profil halus pohon-pohon papaya, palem, dan bayangan gelap atap. Jengkerik-jengkerik berbunyi dan orang-orang mendengung. Aku merasa berbahagia dan kaya.

Saat itulah datang film, disambut dengan meriah. Aduh! Tampak di layar kota besar New York dengan gedung-gedung pencakar langit, lebih tinggi dari pohon kelapa. Dengan tuan-tuan dalam baju tuxedo hitam dan nyonya-nyonya dalam busana sutra dengan tangan, leher dan jari penuh perhiasan gemerlapan. Betapa bahagia, betapa kaya, betapa mulia orang-orang Eropa itu.

Ya pula, dan saat itu muncul laki-laki pahlawan lakon dan perempuan sri panggung cerita, bersama-sama, duaan wae, dalam sebuah kamar dan di sana mereka berantem …! The Greatest Love on Earth (Cinta paling akbar di bumi persada). Haiyaa, begitu terbuka, begitu bugil dan tanpa rasa malu. Gadis-gadis yang menonton membuang muka. Pemuda-pemuda mulai malu-maluan bersuit dan berteriak. Suasana mendadak terganggu, menjadi kasar dan tidak enak. Dan aku sebagai satu-satunya orang Eropa lekas-lekas meninggalkan lapangan itu. Marilah kita orang-orang Eropa yang puas dengan diri kita sendiri menginsafi betul bahwa kita tidak hanya dapat membawa Beethoven, tetapi juga Brigette Bardot, tidak hanya Shakespear, tapi juga gangster (bandit), tidak hanya penisilin, tapi juga senjata api, tidak hanya susu, tapi juga wiski, tidak hanya literatur mulia, tapi juga pornografi paling kotor…

Gambaran yang cukup meriah, rasanya tidak berbeda jauh dengan pertunjukan-pertunjukan layar tancap di tempat manapun. Aih, jadi kangen bersorak-sorai di lapangan liat rok mlorot di layar tancap.

Jacatra, 20 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s