Pak Dawam dan Sebuah Ketakutan

Setelah sekian lama, akhirnya saya berkesempatan bertemu lagi dengan Pak Dawam, alias K.H Muhammad Dawam Shaleh, kyai sekaligus pendiri pesantren tempat nyantri-ku dulu. Saya bertemu kyai karismatik itu kemarin di PP Muhammadiyah, Menteng, dalam acara peluncuran puisi terbarunya Century dalam Puisi, yang merupakan antologi puisi keenamnya.

Pak Dawam bagi-bagi buku ke Taufik Ismail dan --ehm-- Din Syamsuddin.

Pak Dawam bagi-bagi buku ke Taufik Ismail dan –ehm– Din Syamsuddin.

Seperti lazimnya sebuah pertemuan, selalu ada rasa bahagia yang hinggap. Apalagi bertemu dengan seseorang yang telah kita anggap lebih dari sekadar bapak dan kyai, lebih dari sekadar penceramah jempolan, lebih dari sekadar guru bahasa Arab favorit, Pak Dawam adalah–kalau boleh agak berlebihan–inspirasi bagi tiap murid dan santri-santrinya.

Siang itu pak Dawam tampak sumringah. Rona wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira. Dia terlihat selalu menyunggingkan senyum simpul yang jarang kami temui saat nyantri dulu. Dengan legowo dia melayani tiap pertanyaan yang dilayangkan teman-teman jurnalis yang menyempatkan merapat ke Menteng.

Tapi, di balik senyum yang terus terpendar dari mulut pakyai, tiba-tiba muncul kekhawatiran dari otak biadab ini. Ketakutan itu muncul setelah sekilas memperhatikan beberapa puisi terbaru Pak Dawam. Berbeda dengan puisi-puisi Pak Dawam sebelumnya yang adem, harmoni, sejuk, di antalogi Century dalam Puisi Pak Dawam muntab. Dia marah besar. Intinya, Pak Dawam langsung menumpahkan pelbagai macam kekesalannya terhadap rezim SBY-Boediono. Lebih dari itu, Pak Dawam menyebut, rezim ini adalah rezim yang tak berkah. Selama Indonesia masih berpresiden SBY, selamanya Indonesia tidak akan dapat berkah dari Sang Pembikin Kiamat.

Kalau pembaca masih ingat dengan nama Ali Azhar Akbar, penulis buku Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie? yang dikabarkan hilang sampai sekarang, saya juga takut Pak Dawam bernasib seperti bang Ali Azhar. Ketakutan yang menurutku sangat lumrah dan wajar.

Baiklah, Pak Dawam hanya seorang kyai desa yang saban harinya kerjanya ngurusi 1500 santri di pesantrenya. Tapi jangan pernah naifkan peran tulisan dan kata-kata. Dia akan membabatmu lebih pedih dari pada sebilah pisau yang diasah tujuh hari tujuh malam.

Berikut saya kutibkan beberapa bait puisi Pak Dawam dari judul Baru Kali Ini Terjadi;

Baru kali ini terjadi/di demokrasi ini/ partai tak berprestasi/ menang lipat tiga kali/lalu rai gedeg bersinggasana di tampuk-tampuk kursi

Baru kali ini terjadi/di kabinet ini seorang menteri proyek satu triliun tak ngerti/lalu rai gedeg dibela sampai mati

Sekali lagi, ini masalah rezim yang belum terbiasa menerima kritik-kriti tajam dari masyarakatnya. Rezim yang masih terlalu gampang menyembunyikan dan mengilangkan nyawa orang gara-gara orang itu diaggap vokal. Apalagi Pak Dawam memilih Jakarta sebagai tempat peluncuran bukunya, sebuah tempat yang sama saja biadabnya dengan pemerintah.

Ini bukan ketakutan yang berlebihan saya kira. Ini adalah murni ketakutan dari seorang santri yang terlalu sayang terhadap kyainya. Ketakutan seorang santri yang sudah kadung tidak percaya dengan pelbagai macam tetek bengek yang berkaitan dengan pemerintahan.

Akhirnya, apapun itu, tidak pantas rasanya bila tidak memberi ucapan selamat setinggi-tingginya. Di tengah hiruk teriakan santri yang semakin kurang ajar, Pak Dawam masih memperlihatkan bahwa tidak ada kata tidak dalam menulis.

Hehehehe

Tabik!

Jakarta, 14 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s