Odong-odong

2012-12-09 08.44.53Nama perempuan kecil bergaun merah muda di foto itu Dila. Nama lengkapnya saya tidak tahu. Saban hari, bersama sepupunya, Putra–biasa dipanggil Utuk–main ke kosanku. Rumah mereka berhadap-hadapan dengan kost-ku yang berada di komplek UIN Syarif, Ciputat sana.

Tadi pagi, bersama beberapa balita yang ada di seputaran kost, Dila naik odong-odong. Tidak jelas, ini mainan dari mana asalnya. Si tukang yang berada di bagian belakang cukup mengayuh pedal, diiringi lagu anak-anak yang bersumber dari HP China, anak-anak terlihat cukup bergembira.

Kebiasaan Dila naik odong-odong mengingatkanku pada Fafa (Vava?) tetangga kosan teman-teman saya di Jogja. Seperti halnya Dila, Fafa juga masih anak-anak. Satu tahun umurnya, kalau tidak salah. Seperti Dila juga, Fafa setiap pagi harus naik odong-odong. Lagu-lagu macam Aku Anak Sehat, Naik-naik ke Puncak Gunung, Makan Apa, menjadi lagu kesukaan Fafa.

Nah, kebetulan, salah satu teman saya penghuni asli kosan, punya koleksi lengkap lagu anak-anak yang persis dengan biasa yang diputar oleh tukang odong-odong tiap pagi. Jika kepingin iseng, Badrol, nama teman saya itu, kerap nyetel lagu anak-anak di komputernya tersebut. Dan bagaimana reaksi selanjutnya?

Jreng, jreng… Satu, dua, tiga, empat, Fafa sudah muncul di pagar rumahnya. Mencari sumber suara. Sasarannya adalah pohon mangga depan kosan, tempat odong-odong biasa mangkal. Merasa tidak menemukan odong-odong yang dia cari, tapi lagu-lagu itu masih ada, Fafa tampak kecewa.

Masih tentang Fafa. Kabarnya Idul Adha setahun yang lalu, Fafa masuk jebakan betmen. Ini berdasar sumber dari Ketel, lelali yang paling berhasrat mempersunting Fafa sebagai istri keenamnya.

Seperti lazimnya Idul Adha di tempat-tempat lain, kosan blok E, No. 202, juga mendapat jatah daging dari panitia kurban. Mentang-mentang ada arak di kosan, maka daging hasil penjarahan dari masjid ke masjid itu direndam ke dalam arak. “Biar enak” katanya Ketel bercerita. Selepas proses penyatean, daging-daging dadu tertusuk dan berlumur kecap itu disantap beramai-ramai di depan kosan. Di tengah asiknya pesta santap sate, Fafa tiba-tiba datang dan mencomot satu tusuk. Lalu memakannya. Sejurus kemudian Fafa tampak pening, mukanya memerah. nir-ekspresi, lantas diam saja.

Tanpa bicara, Fafa langsung masuk rumah.

Kebon Jeruk, 9 Desember 2012

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s