Layar Tancap

Setelah sekian lama, akhirnya saya menemukan juga ada yang naggap layar tancap. Sebuah keluarga yang berada di kompleks kampus UIN yang tengah mengadakan hajatan pernikahan anaknya, malam tadi menggelar hiburan rakyat yang pernah sangat populer itu.

Tidak seperti di kampungku dulu, layar tancap malam itu terkesan biasa, tidak ramai, sepi. Penontonnya hanya berkisar pada anak-anak dan ibu-ibu saja. Beberapa ada yang nyempil yang berusia akhir belasan tahun dan awal duapuluhan, tapi tidak banyak. Bapak-bapak yang kalau di kampung saya terlihat sangat antusias dengan pelbagai siulannya, tidak tampak sekali.

Layar tancap yang hambar.

Tapi, sorakan tetap terdengar saat tiba-tiba video mati di tengah jalan. Yaa, tampaknya itu sudah hukum alam per-layar-tancap-an.

Sebelum malam itu, saya lupa kapan terakhir kali melihat layar tancap.  Seingatku, pasca 98, geliat perlayartancapan di kampungku sudah tidak lagi bergairah. Sorotan-sorotan proyektor sudah mulai K.O dengan video-player dan piringan-piringan jahanam dari Malaysia. Piringan-piringan yang kata orang-orang bernama VCD itu tidak hanya membawa Rhoma Irama, Dono, cs., Doyok-Kadir, Barry Prima, tapi juga membawa Amir Khan dan kroninya, Van Damme, dan tidak ketinggalan film-film biru amatiran alias bajakan. Film-film yang jarang disuguhkan di layar tancap.

Bagi bocah-bocah seumuranku kala itu, menonton layar tancap akan meninggalkan memori kolektif masing-masing. Biasanya, selepas ngaji, bersama-sama bapak dan ibunya, cacak* serta adiknya, bocah-bocah udik itu akan bergegas ke lapangan desa sembari membawa tikar ukuran sedang. Bila perlu membawa cemilan secukupnya. Tidak lupa kunci rumah dan mematikan bediang** di kandang. Takut-takut menjalar dan terjadi kebakaran.

Siang setelah pagelayaran, setiap bocah akan saling bercerita tentang apa yang ditontonnya semalam suntuk. Pastinya dengan mulut dan cara tangkap masing-masing. Biasanya waktu yang paling pas buat bercerita adalah saat jumatan, karena seringnya layar tancap digelar pas Kamis malam Jumat.

Dan menyaksikan layar tancap tadi malam, meski hanya sebentar, sukses mengantarkan ke kenangan masa lalu, yang sulit rasanya tergantikan dengan apapun. Jenis film yang disajikan juga tidak berbeda jauh; humor dan “agak jorok”. Humor mewakili film-film yang akan membawa perut serasa dikocok-kocok karena ingin terus ketawa. Agak jorok mewakili beberapa filmya Barry Prima, yang selain pendekar ternyata juga “raja selangkangan”.

2012-12-08 20.59.03

Yang paling khas adalah setiap jasa layar tancap mempunyai film wajibnya masing-masing. Film wajib ini biasanya akan selalu diputar dimanapun layar tancap ditanggap. Dan film-film Rhoma bisa dibilang sebagai film wajib di kampung saya.

Malaysiaisasi dan TKI-sasi, selain sedikit banyak sukses meningkatkan taraf hidup masyarakat kampung saya, secara tidak sadar, ternyata, juga mencuri layar tancap dari kampung saya. Layar tancap minggat tak berbekas sama sekali.

*kakak, **perapian untuk menghangatkan ternak

Kebon Jeruk, 9 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s