Belanda “Baik”

Saya merasakan telah menemukan harta karun saat secara tidak sengaja menemukan buku usang dan lawas tersebut. Buku, yang kalau tidak salah, hanya terbeli seharga lima-ribu saja. Itu kalau saya tak salah ingat. Yang jelas, buku itu penting buat memperluas wawasan kita tentang dunia sastra Indonesia, terutama yang ditulis oleh orang Belanda.

Yap, buku itu berjudul Kisah Belanda Sepanjang Zaman Modern yang merangkum karangan-karangan monumental dari beberapa penulis Belanda. Kira-kira ada 10 penulis yang urun nulis di buku yang tebalnya tak kurang dari 125 halaman tersebut. Karena rencananya mau menulis dua seri, jadi untuk pertama saya akan menyebutkan beberapa saja, sisanya nyusul!

Eit, nanti dulu. Dari kata pengantar yang dibuat oleh penerbit Djambatan, bunga rampai ini dipersembahkan kepada pembaca Indonesia, yang kesemuanya dikarang pasca berakhirnya Perang Dunia ke-2. Meski pengarang menganggap bahwa buku ini dirasa masih kurang lengkap, tetap saja tidak mengurangi pentingnya buku ini, lho!

Dan sebelumnya, dengan pelbagai keterbatasan, saya belum berani untuk membuat uraian panjang–ya…semacam analisis kecil-kecilan gitu lah–mengenai buku ini. Hehehe

Urutan pertama ada nama Anton Koolhaas, yang konon mengaku pernah tiga tahun tinggal di Indonesia. Kesenangannnya dengan margasatwa mengantarkannya menjadi penulis cerita satwa yang jempolan. Dia juga mengaku, bahwa memang sudah tabiat manusia untuk melulu menyatukan diri dengan binatang. Oleh karena itu, karya-karya banyak menggunakan nama-nama binatang sebagai tokohnya.

koolhaas

Anton Koolhaas di lahirkan di Utrecht tahun 1912. Wah, dia seumuran Muhammadiyah dong? Ormas paling keren itu, loh! Supaya tidak dibilang sama dengan para penulis fabel binatang sebelumnya, Koolhaas membuat binatang rekaannya mempunyai imajinasi. Mempunyai fantasi yang sama dengan yang yang dimiliki oleh manusia, tapi tetap dengan kodrat asalnya. Tidak hanya berfantasi, tokoh binatang rekaan Koolhaas juga mampu menghayati intensitas hidup sebelum menemui ajal. Oleh sebab itu, selain banyak disusupi narasi-narasi humor, cerita Koolhaas juga tragis.

Yang kedua tertera nama Simon Carmiggelt. Jika Koolhaas terlihat sangat surealis, maka Carmiggelt adalah kebalikannya. Carmiggelt adalah penganut gaya penulisan realis. Itu terlihat dari beberapa karyanya, yang meski pendek-pendek, yang sangat menarik. Dalam beberapa karyanya, Carmiggelt sering menggambarkan kehidupan masyarakat Amsterdam yang biasa. Cara jalannya, cara menghadapi masalah, bagaimana kesehariannya.

Tapi lebih dari itu, saya melihat Carminggelt adalah sosok yang pesimistis. Dalam artian dia adalah sosok yang melankoli saat melihat manusia yang terlibat dengan impian-impiannya yang gagal. Carmiggelt juga menaruh perhatian berlebih kepada kelas buruh, pekerja, dan mereka yang sering mendapat tindakan kekerasan. Untuk membuat tulisannya tidak terkesan kaku dan membosankan, maka Carmiggelt sering menyusupkan guyon-guyon satir dan jenaka, tapi tetap melankoli.

simon

Nah, karena karya-karyanya tersebut, pemerintah Belanda akhir mengganjar sastrawan kelahiran Den Haag 1913 ini dengan Hadiah P.C Hooft, yaitu hadiah bidang kesusastraan tertinggi di Belanda.

Masih ada delapan lagi sebenarnya, tapi karena besarnya faktor wegah yang kerap muncul tiba-tiba, maka saya cukupkan dua saja dulu.

Salam…

Kebon Jeruk, 3 Desember 2012 yang ngantuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s