Kelabang Pragmatis

Yap, ini memang cerita tentang kelabang. Emm… Enaknya kelabang atau lipan ya? Memang sih, kalau mau mengikuti kaidah resmi Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata yang tepat untuk menyebut binatang berbisa berkaki banyak ini pasnya adalah lipan. Kelabang? Itu lebih pada padanan kata lipan. Tapi kelabang sendiri, kalau mengacu pada KBBI, berarti kepang atau jalinan rambut.

Tapi sudah lah, saya tidak mau terlalu menurut sama KBBI. Saya lebih sreg menyebutnya kelabang untuk mendeskripsikan binatang berbisa berkaki banyak.

Baiklah, ini memang kisah tentang seokor kelabang yang tiba-tiba membuat gaduh seisi kosku kemarin malam. Kelabang yang tiba-tiba muncul tepat di pergantian malam ke dini hari. Kelabang yang tiba-tiba mencoba menunjukkan sisa-sisa nyalinya dari balik lubang air di kamar mandi kosan.

Saya pulang dari tempat kerja kira-kira jam setengah sebelas malam. Tidak ada kantuk karena sempat liyer-liyer di busway. Pas sampai kos, tiga lampu yang ada sudah mati semua. Meski demikian, dari luar masih samar-samar terdengar suara tivi 21 ince.

Lalu saya mengetuk pintu. Ilzam yang sedari tadi khusuk telponan dengan pacar imajinernya segera bangun dan membukakan pintu lanjut meneruskan kegiatannya itu. Di ruangan bagian dalam, dua teman kos saya yang lain, sudah mulai pasang badan untuk menyambut mimpi malam, tapi belum benar-benar tertidur.

Bingun mau ngapain karena belum ngantuk,  saya memutuskan untuk menemani tivi yang sedari tadi tidak terperhatikan. Kasihan tidak punya teman. Kebetulan ada re-run laga Indonesia lawan Singapura. Saya masih ingin menyaksikan gol Andik Vermansyah yang katanya tidak sengaja itu.

Tidak lama berselang, Luthfi—nama yang sebenarnya lebih pas buat seorang mudin di kampung saya—terdengar krasak-krusuk membuka pintu kamar mandi. Oh, dari nadanya dia akan buang air kecil.

Dan drama tentang kelabang itupun dimulai, jeng…jeng…!!!

Oh iya, agar tidak terlalu menimbulkan fitnah, terlebih dahulu nama Luthfi kita ganti dengan Haqi saja, supaya yang bersangkutan merasa lebih pe-de.

“Kelabang, kelabang, kelabang,” teriak Luthfi, eh Haqi.

Ilzam yang sedari tadi telponan langsung terbangun. Spontan dia mengambil penyemprot nyamuk yang berada di pojok kos. Dia mengintruksikan Haqi untuk segera menghabisi kelabang itu dengan semprotan perusak ozon dengan botol berwarna biru tersebut. Tapi sial, kelabang gagal terbunuh. Dengan tubuh kecil serta kaki banyak sehektar-hektar, dia terlihat lebih gesit dari yang dibanyangkan Haqi dan Ilzam. Kelabang beringsut ke lemari-lemari. Menyusup ke sela-sela kardus. Lantas hilang.

Ilzam yang gede-tinggi-rajin fitnes ternyata yang paling takut dan risih dengan kelabang. Beberapa kali dia besijingkat takut kalau-kalau ada kelabang merambat di bawah kakinya, oleh sebab itu, Ilzam terlihat paling antusias untuk segera menghabisi kelabang malam itu juga.

Saya masih khusuk menunggu gol Andik, karena template di pojok tivi menunjukkan menit 80-an. Tapi karena melihat situasi yang terlalu gaduh, saya jadi tertarik melihat apa yang terjadi. Figur yang sedari tadi sudah tertidur pun terbangun oleh gugahan membabi-buta Ilzam.

Sapu yang tepat di samping pintu segera saya ambil. Haqi mulai uring-uringan sembari menggeledah se-antero lemari. Ilzam mulai semakin panik dan kebocahan, tidak malu dengan hobi fitnesnya saban minggu. Saya yang penasaran juga semakin penasaran sebesar apa toh kelabang-nya. Hahahaha…

Kelabang tak kunjung muncul padahal seluruh sudut lemari sudah terobrak-abrik. Sejurus kemudian muncul beragam asumsi terkait keberadaan dan eksistensi si kelabang.

Ini kisah tentang kelabang yang tidak terlalu pe-de untuk keluar dan menunjukkan kesaktiannya dalam mem-bisa siapapun yang dikehendakinya. Ini kisah tentang serangan gerilya yang gagal karena tak siap tempur. Ini tentang kelabang yang belum-belum sudah minder karena berhadapan dengan empat manusia yang sedari awal penciptaannya sudah dikutuk bakal menjadi perusak yang serusak-rusaknya. Dan ujung-ujungnya, si kelabang gagal mewujudkan ambisinya untuk menerapkan teori kehendak untuk berkuasa yang terinspirasi dari obrolannya dengan Nietzche di gorong-gorong kamar mandi tempo hari.

Berhubungan dengan hilangnya si kelabang, bisa jadi dia teler karena sempat tersemprot obat nyamuk. Bisa juga si kelabang adalah jelmaan siluman lipan yang terkenal jahat di serial Kera Sakti. Bisa jadi kelabang ini adalah varian kelabang jenis baru; kelabang alay.

Atau bisa juga, ini adalah model kelabang usil yang suka ngerjain orang dengan tiba-tiba muncul dari arah yang tak disang-sangka alias min haitsu la yahtasib, membuat kaget dan sedikit risih, lantas mengihilang entah ke mana.

Ini adalah kelabang aneh. Titik. Tik.

Terlepas dari itu semua, ini adalah sebuah ironi. Apakah seperti itu mental kelabang sekarang? Yang belum-belum sudah menyerah. Menurutku, kelabang ini tak pernah membaca sejarah pendahulunya. Dulu, saat saya masih kecil, bersama kalajengking, kelabang adalah salah satu binatang yang ngawu-awu pada zamannya. Dia akan menyengat siapa-saja yang berada di dekatnya. Tak peduli siapa korbannya. Bahkan dengan kedahsyatan bisanya, kelabang bisa mengirim seseorang panas-dingin-terbaring di ranjang puskesmas-puskesmas terdekat.

Dia juga tidak peduli meski pada akhirnya harus berhadapan dengan maut. Dengan keberanian yang cukup mumpuni, kelabang yang dahulu pernah saya kenal akan terus merangsek menerobos keramaian sampai tujuan terakhirnya tercapai; menghajar manusia dengan sengatnya.

Tapi sekarang, kelabang laiknya eks penguasa yang tengah mengidap post power syndrom yang hanya berani intip-intip tai ayam doang. Dia akan segera beringsut menuju tempat persembunyiannya yang paling aman saat ada kuasa yang lebih besar darinya. Dan akan muncul kembali saat semuanya lengah; tapi untuk setor muka doang.

Akhirnya, mau tidak mau, pertanyaan ini pun muncul; mana kelabang yang idealis? Mana kelabang yang bermental perang laiknya Hitler? Mana kelabang yang ahli strategi laiknya van Bismark? Ahh…ternyata sama saja, kelabang sekarang tak ubahnya manusia, dia lebih memilih menjadi pragmatis dan oportunis dan yang paling parah ciut nyali.

Ah dasar kelabang, apapun prinsip hidupmu saat ini,  kamu telah sukses membuat ujung malam kosku gaduh-segaduh-gaduhnya. Salam buat sesepuhmu yang pemberani di dalam tanah sana, ya!

Ciputat, 30 November 2012

Sembari ditemani FTV pagi. Lalalalalala…

 

One comment

  1. thony · December 3, 2012

    hahahaha opo ae om…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s