Mati

Tak ada yang kekal di bumi. Semua kembali kepadaMu

–Sapardi Djoko Darmono–

Gara-gara kemarin sore membaca blognya teman tentang kematian saya juga jadi ingat mati. Saya membayangkan kapan saya mati. Mungkin teman saya itu tengah dirundung problematika ikhwal kematian yang menurutnya selalu mengganggunya; datangnya, prosesnya, orang-orang yang ditinggalkannya, dan itu cukup mengganggu sugesti saya. Hehehe…

Membayangkan kematian adalah membayangkan sebuah keraguan. Keraguan dalam artian, saya tidak bisa dengan tegas menjawab apakah saya siap mati atau tidak. Berani mati atau tidak. Dulu ketika masih kecil, saya sangat pede bahwa saya siap kapanpun untuk mati. Saya merasa, dengan sering dan hampir tidak pernah bolos ngaji, saya adalah orang yang sangat siap dengan kematian.

Namun keberanian itu mendadak runtuh setelah beranjak besar. Bayang-bayang “dosa” membuat saya menjadi orang yang sangat pengecut untuk menghadapi dunia baru dengan nama almarhum. Itulah yang lantas membuat saya memilih untuk tidak tegas memutuskan saya siap mati atau tidak.

Tapi mati tetaplah mati. Dia akan datang sesuka hatinya. Serapat apapun kita menggembok jendela kamar kita, jika sudah tiba waktunya, maka Izrail akan tetap berkunjung dan akan pulang jika telah memenuhi tugas tuannya; menjemput ruh kita. Saya jadi ingat dengan cerpen Edi AH yang Izrail Pun Menangis. Dalam cerpen itu, Edi menggambarkan seorang bapak yang akan mengantar kematiannya sendiri.

“Kalupun kalian sembunyikan aku di lubang tikus, Izrail tetap akan menemukanku, lalu membawaku ke kayangan. Ayolah, bukakan jendela itu untukku. Permintaan terakhirku!”

Edi juga menggambarkan bahwa kematian itu perihal tawar menawar. Rela dan tidak rela. Coba cek dialog anak-istri ayah dengan Izrail berikut;

“Maafkan aku, aku hanya pesuruh” – Izrail.

“ Semestinya kau sudi membantu kami menunda kematian ayah. Agar kami bisa mempersiapkan diri” – anak.

“Ya! Kalau memang kau punya perasaan, penuhilah permohonan kami. Bantulah kami!” –ibu.

“Mustahil! Sangat mustahil!” –Izrail.

 

Lain lagi dengan Putu Wijaya. Dia memiliki penilaian tersendiri perihal kematian. Begini kata dia,

…kalau kamu masih diberikan kesengsaraan, berarti kamu masih hidup. Kamu belum jadi mayat, belum jadi robot, belum mati seperti yang lain…

Saya tidak begitu menangkap apa yang dimaksud Putu dengan “masih hidup” meski kita sudah mati hanya karena kita belum bahagia di alam baru kita. Mungkin yang dimaksud Putu mati adalah sebuah ketenangan abadi, kenikmatan yang diganjarkan setelah menjalani kehidupan biadab di alam hidup.  Jika masih sengsara, berarti kita “belum mati”, meskipun sudah mati.

Sejujurnya saya tidak pernah mengalami kejadian traumatis perihal kematian. Saya selalu biasa jika ada beberapa kerabat, teman, yang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba mengabarkan bahwa dia telah berpindah alam. Meski demikian, ada beberapa kematian, yang menurut saya, selalu menjadi romantisme masa kecil saya dulu, yang rasa-rasanya sulit minggat. Kematin Roni misalnya.

Roni adalah teman ngajiku dulu. Roni teman yang sangat menyenangkan, meski terlalu sering membuat jengkel. Setiap pergi ngaji sehabis magrib, Roni selalu membawa mangga muda untuk bekal, itu karena Roni adalah pengantuk yang berat. Dia cepat ngantuk kalau semenit saja tidak bergerak. Dia sering dapat hukuman dari guru ngaji karena diangap bandel.

Roni adalah bocah yang kelewat lucu. Mainan yang dipunyainya tidak pernah awet. Ada saja perlakuannya yang dengan instan membuat mainan barunya rusak. Dibanting lah gara-gara tidak mau jalan. Dinaiki kayak kuda lah, dipaksa jalan mundur, dan itu sukses membuat mainannya lekas sekarat.

Di antara teman-temannya, termasuk saya, Roni termasuk lumayan berada. Dengan bapaknya yang berprofesi sebagai pedagang ikan lintas kota, Roni termasuk bocah yang beruntung karena sering menjamah kota. Dia dengan fasih cerita tentang bus, kereta api, truk puso, truk pengangkut es, polisi dan mobilnya, jalan aspal yang halus, bus tingkat dua. Bapaknya juga termasuk satu di antara beberapa orang yang punya motor saat itu.

Sore itu, ada kabar yang begitu mengejutkan kami, aku dan teman-teman yang lain. Roni dan bapak-ibunya meninggal kecelakaan-motor saat perjalanan pulang dari Tobo, Bojojengoro. Jika bapak dan ibunya—menurut saksi di TKP—langsung meninggal, Roni masih sempat bernafas. Baru setelah ambulan datang, Roni yang belum genap 7 tahun itu menghembuskan nafas terakhir.

Setelah isya ambulan yang bawa jenazah Roni beserta bapak-ibunya datang. Rumah Roni yang tepat di belakang masjid mendadak ramai oleh kerumunan warga sekitar. Tak terkecuali saya, teman Roni yang sama-sama cengengnya. Banyak orang yang menangisi dan menyayangkan kepergian keluarga baik ini, yang sudi rumahnya dijamah oleh teman-teman anaknya saat masih hidup.

Kematian Roni, bapak, dan ibunya juga berimbas pada rumah besarnya. Tidak hanya sepi, rumah yang lantas tak berpenghuni itu juga mendadak berubah jadi angker. Tidak tahu kenapa, setiap lewat depan rumahnya, selalu ada hawa aneh yang tiba-tiba muncul. Apalagi kalau malam.

Tapi anehnya, selain menyayangkan, kita juga bangga dengan kematiannya. Begini, dulu dan bahkan sampai sekarang, saya masih percaya, bahwa Roni saat meninggal adalah sosok bocah polos yang belum berlumur dosa—ya meski dia sering bikin nangis teman-temannya. Saya dan teman-teman selalu percaya, jika bapak dan ibunya saat tiba di kuburan yang menjemput adalah Munkar dan Nakir, maka yang menunggu Roni adalah sesosok ibu bidadari yang luar biasa cantiknya. Dan ibu bidadari itu akan langsung membawa Roni ke surga.

Saya dan teman-teman suka membayangkan, bagaimana ya nasib Roni di surga, apakah dia langsung besar dan berhak memilih bidadarinya sendiri, atau masih melewati masa pertumbuhan dan baru bisa meminang bidadari jika sudah cukup umur? Sungguh beruntung nasib Roni.

Meski demikian, kami, saya dan teman-teman, masih beranggapan, bahwa kematian yang dialami oleh Roni adalah kematian yang paling nikmat yang pernah ada. Yah, Roni adalah memori tersendiri tentang mati yang meragukan itu.

 

 Tangerang, 28 November 2012

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s