“Using” Banyuwangi

Kepingin turu nang dadane…

Kepingin so ngelus rasmbute…

–Niken Arisandi–

Bagi sebagian orang, mungkin agak asing dengan nama Using. Using merupakan sebutan bagi masyarakat yang mendiami sebagian besar wilayah Bayuwangi saat ini.

Dalam penjalanan panjang sejarahnya, Bayuwangi adalah daerah yang ternyata banyak disinggahi oleh para pendatang, yang tentu saja datang beserta tradisi ibu mereka. Mungkin karena lamanya berada di ujung Jawa Timur ini, mereka secara tidak sadar telah menularkan kebiasaan-kebiasaan ibu mereka ke tempat yang baru; Bayuwangi. Budaya hibrida inilah yang konon menjadi akar tradisi Using.

Meski demikian, masyarakat asli Bayuwangi diakui mempunyai kemampuan yang cukup mumpuni untuk menyerap tradisi-tradisi “asing” itu. Cara hidup orang Jawa, kebiasaan orang Bugis, pendatang dari Arab, Melayu, dst. disaring sedemikian rupa dengan sangat arif oleh masyarakat lokal Bayuwangi.

Budayawan Bayuwangi, Hasnan Singadimayan pernah menuturkan dalam wawancaranya dengan Kompas:

…inilah cara orang Blambangan mempertahankan tradisi. Pertimbangannya, kalau pengaruh asing dilawan, kami pasti kalah. Namun, kalau dibiarkan, kami akan didominasi. Pilihan paling pas adalah kami menyerap budaya asing dan menyingkretiskannya…

Seperti yang dilansir oleh Kompas hari ini (25 November 2012) tradisi-tradisi itu bisa dilacak lewat pelbagai hal di Bayuwangi; makanan, musik, dan juga pakaian. Dalam makanan misalnya, bentuk itu bisa dilihat dari rawon-pecel. Jika dilihat dari namanya, jelas sekali itu campuran dari rawon yang khas Malang dan pecel yang khas karesidenan Madiun. Keduanya dikawinkan jadi rawon-pecel. Ada juga rujak-soto yang merupakan hasil dari kawin-silang rujak dan soto. Bisa dibayangkan bagaimana bentuk makanan itu, rujak yang ful sayur dan buahan berpadu-padan dengan soto yang gemar menggunakan daging sebagai senjata andalannya.

Tapi begitulah adanya…

Tidak hanya itu, tradisi Using Bayuwangi juga bisa dilihat dari beraneka tari dan musik-musikan yang saat ini tengah populer di tanah Blambangan itu. Tengok saya tradisi kuntulan-hadrah yang memadukan shalawatan khas pesantren dengan tetarian yang gerakannya mirip sekali dengan tari kecak, tari khas Jawa Timur.

Dan yang paling populer adalah kendang-kempul, musik khas Using Bayuwangi. Jika memperhatikanny secara detail, ada beberapa unsur musik yang tergabung di dalamnya. Sekilas ada warna musik keroncong, ada gamelan yang biasanya mengiri gandrung,  angklung Bayuwangi, dan rasa terakhir yang paling kentara adalah unsur Melayu.

Masih penasaran, coba saja dengarkan Turu Nang Dadane yang dipopulerkan oleh penyanyi Niken Arisandi.

Kepingin turu nang dadane…

Kepingin so ngelus rasmbute…

…dst.

Benar kan…?

Ciputat, 26 November 2012

2 comments

  1. numanrifai · November 26, 2012

    oesing sbnrnya adalah kata olokan dari orang bali untuk org banyuwangi.oesing diartikan sebagai orng yg tidak punya kasta.
    org banyuwangi sekarg sudah mulai meninggalkan julukan itu.
    kurg lbihnya sprti itu.selengkapnya baca Perebutan Hegemoni Blambangan tulisan dosen UGM..
    :))
    salam

  2. ndangcerung · November 26, 2012

    Lek jareku mas Nu’man, baiklah mulai ada upaya meninggalkan nama Using. Tapi, menurutku, Using kan tidak sekadar nama ya? Itu uda meliput seluruh tradisi Bayuwangi. Bener gak? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s