Petite Histoire, Buku yang Telat Terbeli

Buku ini jelas-jelas sangat terlambat untuk dibeli. Apalagi ini menyangkut reputasi saya sebagai lulusan mahasiswa sejarah sebuah universitas antah brantah di tengah-tengah hiruk kota Jogja. Hahaha…

Ya, buku Petite Histoire Indonesia tulisan  begawan jurnalis Indonesia, Rosihan Anwar ini seharusnya sudah saya miliki beberapa tahun yang lalu, saat saya memutuskan untuk nyantri di Ilmu Sejarah. Kalau tidak salah, ada lima seri buku Petite Histoire yang sukses ditulis oleh Rosihan Anwar.

Dulu, sekira tahun 2006, beberapa saat setelah saya resmi terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di prodi sejarah, kakak saya membelikan sebuah buku dengan nama yang tak asing, Kuntowijoyo—dan jujur waktu itu saya baru tahu kalo pak Kunto adalah sejarawan—yang judulnya Metodologi Sejarah, terbitan Tiara Wacana berangka tahun 2004. Buku itu terbeli berbarengan dengan Sejarah Lokal-nya Taufiq Abdullah yang hilang entah ke mana.

Satu pesan sederhana yang saya amini dari bukunya Kuntowojiyo adalah mensejarahkan hal-hal yang dianggap orang sebelah mata. Kunto menyebutnya dengan sejarah kecil. Tidak melulu sejarah orang-orang besar. Tidak melulu ngomongi negara beserta aparatusnya. “Gak wayahe awakmu nulis sejarah negoro, Bib. Intine buku kui ngongkon awakdewe  nulis sejarah seng cilik-cilik. Contohe sejarah pacul, sejarah seragam,…dll,” Kata kakakku waktu itu.

Dan terasa sangat pas, karena buku yang belinya barengan adalah Sejarah Lokalnya Taufik Abdullah. Meski masih berkutat perihal heroisme dan patriotisme, perang dan peranan tokoh-tokoh lokal, tulisan Taufik Abdullah itu mengajak kita sedikit menengok lokalitas sejarah kita.

Okelah, kita kembali ke Petite Histoire Indonesia-nya Rosihan Anwar. Dengan gaya tulisan jurnalistik yang tidak sekaku tulisan sejarah murni, Rosihan mencoba memberi pilihan opsi untuk mencintai sebuah narasi besar bernama lokalitas.

Tidak hanya itu, Rosihan Anwar seolah menampar para sejarawan “formal” yang lebih sibuk mencari uang di ketiak para penguasa. Formal dalam artian, mereka dengan sengaja menekuni dan atau mengambil disiplin ilmu sejarah sebagai latar belakang pendidikan mereka.

Jika ada sejarawan formal, bisa jadi ada sejarawna informal, yang kalau dilihat dari latar belakang pendidikannya bukanlah lulusan sejarah. Nah, salah satu sejarawan informal yang patut mendapatkan apresiasi tinggi ya Rosihan Anwar. Itu dibuktikannya dengan gelar kehormatan Masyarakat Sejarawan Indonesia bersama penulis biografi Soekarno, Ramadhan KH.

Lebih dari itu, Rosihan menberi tawaran baru mengenai tulisan-tulisan sederhananya yang dia kemas dalam Petite Histoire atau sejarah kecil. Bagaimana dia berbicara mengenai tenggelamnya sebuah kapal Belanda yang memuat tawanan Jerman di sekitaran Nias. Bagaimana dengan jeli dia menelanjangi konflik panas di tanah Timor Lorosae. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Isu kelokalan memang begitu seksi untuk menjadi bahan diskusi saat ini. Lokalitas yang seharusnya menjadi isu pertama penanaman nasionalisme di Indonesia nyata-nyata telah banyak diabaikan. Bahkan oleh pemegang otoritas tertinggi negara sekalipun. Lokalitas yang kudunya menjadi garda utama—saya sesungguhnya benci dengan istilah ini—kedaulatan sebuah negara hanya menjadi pelengkap lalu saja. Lokalitas muncul jika ada segerombolan manusia yang dianggap akan melakukan tindakan sparatis. Lokalitas muncul jika ada bendera yang berbeda warna dengan bendera resmi berkibar di sebuah daerah terpencil. Lebih dari itu, lokalitas tak ubahnya buih di atas pantai. Sebentar muncul, lalu menghilang entah sampai kapan.

Sudahlah, mari perlahan kita tinggalkan istilah utopis yang bernama nasionalisme itu. Toh itu sekadar bualan serta igauan para pendahulu kita selepas tidur panjangnya yang begitu lelap. Lagian, lokalitas sudah menanti kita untuk segera digarap.

Tabik!

Jakarta, 26 Nopember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s