Bandung yang Cuma Sehari

Tidak  tahu kenapa, tiba-tiba pagi ini saya sudah berada di Bandung. Semuanya berawal dari ketidaksengajaan. Pagi kemarin, seorang kawan dari Jogja sms saya dia sedang ada di Jakarta. KKL katanya. Seperti kebiasaan yang telah tertanam semenjak jaman sebelum Adam, jika ada teman yang telah berkunjung, jika tidak ada aral yang benar-benar merintang, seolah wajib hukumnya untuk menemuinya. Itu sudah hukum alam yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Dan fix, pagi itu saya janjian dengan Aufa, teman saya, di Arsip Nasional Republik Indonesia, sehingga kejadian itu membawa saya kembali ke Bandung untuk ke sekian kalinya.

Pagi ini, halaman kantor gubernuran Jawa Barat, atau yang lazim disebut dengan Gedung Sate, telah ramai oleh beberap pelajar dari SMA sekota Bandung. Bukan membolos. Iya, mereka bukan membolos. Itu terlihat dari masih lengkapnya seragam yang mereka pakai. Oh iya ding, lengkapnya seragam tidak menjamin siswi-siswi itu dapat ijin keluar kelas apa tidak. Yang pasti, mereka terlihat sedang mengemban tugas dari sekolahnya masing-masing. Dalam rangka apa, entahlah!

Rata-rata dari mereka adalah siswi. Beragamnya seragam yang dikenakan, menandakan mereka berasal dari banyak sekolah di Bandung. Masing-masing warna seragam yang mereka kenakan, terlihat masing-masing enam siswa dalam satu gerombolan. Gerombolan-gerombolan itu memenuhi tiap bangku taman yang tersedia di halaman kantor gubernur. Dilihat dari gelagatnya, ternyata mereka sedang berlatih senam. Tapi saya tidak tahu dalam rangka apa mereka latihan senam di sini, jika melihat dari beberapa banyaknya gerombolan, naga-naganya ini akan ada lomba senam antar SMA, atau kalau enggak lomba dancing. Wah jadi ingim lihat…

Lucu juga mengamati pelajar-pelajar putri Bandung langsung dari dekat. Tidak bisa dipungkiri, cewek-cewek Bandung memang jempolan. Ingatan saya langsung tertuju pada sosok Dyah Pitaloka, perempuan—yang konon sangat cantik—yang membuat prabu Hayam Wuruk tergila-gila. Tapi sayang, Gajah Mada sukses mengacaukan semuanya.

Menurut cerita dan mulut ke mulut, orang-orang Sunda begitu membenci orang-orang Jawa, terutama trah Majapahit. Salah satu faktor utamanya, ya karena ulah Gajah Mada tadi, yang menyebabkan putri kebanggaan mereka tewas beserta ayahandanya. Bentuk kebencian lain adalah dengan tidak adanya nama jalan Gajah Mada, Majapahit, Hayamwuruk, dan seluruh trahnya di kota Bandung. Benar apa tidaknya, saya pribadi belum membuktikannya.

Tapi yang jelas, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bandung, saya langsung kerasan dengan suasananya. Berbeda dengan saat pertama di Jakarta, yang benar-benar membuat tidak enak tidur dan makan. Saya pertama kali ke Bandung pertengahan 2008 silam. Sebuah acara seminar nasional sejarah yang diadakan oleh kawan Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia. Meski acara berlangsung jauh dari sempurna—makanan sering telat, penginapan biadab, randon acara kacau, seminar berjalan tak tentu arah—tapi suasana yang diciptakan kawan-kawan Universitas Padahal Ikip a.k.a UPI cukup membuat nyaman.

Saat ini saya masih di depan Gedung Sate, dan pelajar-pelajar putri tadi masih khusuk dengan gerakan yang akan mereka peragakan. Satu-dua istirahat sembari makan penganan yang dijajakan di seputaran Gedung Sate.  Beberapa lagi juga sudah ada yang pindah tempat karena sudah mulai panas. Jam di komputer saya sudah menunjukkan jam setengah 11 siang. Matahari sudah mulai meninggi.

Di sisi lain, pengunjung di halaman ini semakin banyak dan berfariasi. Tidak hanya dari kalangan pelajar sekolah saja, tapi juga orang-orang tua dan para pekerja yang berada di seputaran Gedung Sate. Penjaja makanan juga semakin berkeliaran. Yang belum muncul cuma para pengamen yang biasanya menghiasi tiap sudut kota Bandung.

Tak terasa, matahari sudah terlihat condong ke arah barat, pertanda masa Dzuhur sudah datang. Saya yang janjian akan bertemu dengan rombongannya Aufa di Museum Siliwangi segera menuju ke sana. Sesampainya di sana, ternyata rombongan belum juga muncul di halaman museum. Kelamaan, saya segera membayar kopi yang tadi saya pesan, dan langsung  meneruskan jalan kaki ke museum Konpanperensi Asia Afrika tempat awal kita kumpul.

Tak terasa, waktu sudah sangat siang, dan saya harus sampai di Jakarta sebelum maghrib tiba. Singat memang jalan-jalan di Bandung, tapi cukup untuk sekadar buat melepas penat di kantor . Liburan nir-rencana yang lumayan!

Halaman Balai Kota Bandung, 30 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s