Ada Diampot di Senayan

Sore itu, lapangan utama Gelora Bung Karno terlihat begitu ramai. Sekitar 24 pemain terlihat khusuk mengikuti tiap arahan yang dibuat oleh pelatih Nil Maizar. Bentakan-bentakan tampaknya menjadi soal bagi pemain-pemain tersebut, yang terpenting adalah bisa terlihat senang dengan si bundar yang mereka pegang masing-masing.

Dalam salah satu sesi latihan, para pemain itu dibagi menjadi beberapa grup, dengan masing-masing grup diisi oleh empat sampai lima pemain. Andik, Taufik, Jajang Pariama, Irfan Bachdim, Novan berada dalam satu grup. Dalam sesi itu, para pemain diinstruksikan untuk melakukan kucing-kucingan dengan hanya satu-dua kali sentukan. Lebih dari itu, pemain akan mendapat giliran menjadi pengejar bola.

Dalam sesi latihan yang berlangsung singkat itu, pelbagai macam sumpah serapah tidak keluar keluar dari mulut para pemain muda itu. Sesekali lenguh panjang menjadi iringan syahdu di tengah nafas yang tersenggal-senggal.

“Dimpot!” sesekali Andik mengeluarkan umpatan khas daerahnya itu. Tidah hanya sekali dua, tapi beberapa kali ucapan “indah” itu keluar dari mulut mudanya.

Jajang Pariama yang terlihat lebih tua juga terlihat sesekali mengusili Andik yang memang terlihat paling muda di antara semuanya. Meski demikian, Andik tak sungkan-sungkan mengeluarkan umpatan manisnya itu, lagi dan lagi.

***

Jika melihat dari mesin sok pintar, mbah google, diamput digolongkan varian dari Jancuk.  Jancuk, aslinya diancuk yang berasal dari kata dasar ‘ancuk’ yang mendapat awalan ‘di’ yang berarti senggama, sekilas sama dengan fuck di Amerika.  Lidah orang Jawa yang kadang ogah dengan kata-kata yang dianggap sulit, lambat laun merubahnya menjadi jancuk. Tidak sampai di situ, jancuk terus menelorkan varian-variannya; diampot, jampot, jambu, jangkrik, jasik, dan sebagainya, dan sebagainya.

Kalimat umpatan ini lazimnya banyak dipakai di daerah Jawa Timur, terutama yang berada di daerah arek, daerah yang berada di sekitar Surabaya; Lamongan, Gersik, Pasuruan, Sidoarjo, dan beberapa kabupaten yang berada di wilayah Tapal Kuda; Jember, Bondowoso, Bayuwangi, Situbondo, Lumajang, dst.

Sejurus dengan banyaknya warga asli Jawa Timur yang merantau ke luar Jatim, maka tradisi-tradisi ngumpat itupun turut serta ikut. Dialek dan logat bisa jadi ikut berubah mengikuti daerah barunya, tapi saya bisa menjamin, umpatan yang dibawa dari tempat asal akan tetap lestari.

***

Andik dan kawan-kawannya yang berlatih bola di Gelora Bung Karno sore itu, yang berasal dari Jatim atau lama di Jatim, bisa jadi agen yang turut serta menyebarkan jancuk dan kawan-kawannya ke daerah luar Surabaya. Sejatinya, masih ada ribuan Andik lagi, yang dengan keukeuh terus menjaga kelestarian umpatan yang telah mengakar hebat di hari sanubarinya.

Teringat animasi satir dengan judul Grammer Jancuk, yang dalam salah satu dialognya bilang, “jangan sampai ‘jancuk’ diganti dengan ‘fuck you’!”. Dan Andik, sukses menjalankan misinya itu.

 Kebon Jeruk, 1 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s