Batavia Terbentuk dari Sederet Gundik dan Nyai

Tesis Susan Blackburn tentang perempuan Batavia mengingatkan saya dengan tetralogi Buru-nya Pram, yang mana menjlentrehkan bagaimana seorang perempuan dengan nama Sanikem alias Nyi Ontosoroh sebagai “lakon” utamanya. Sanikem membuat empat tulisan berseri Pram tersebut jauh lebih hidup.

***

Abad 19 bisa dibilang abad yang paling tentram dalam fase perjalanan panjang sejarah kota Batavia. Meski ada beberapa gesekan etnik, tidak sebesar yang terjadi pada 1740 di sepanjang kali Angke. Tidak hanya itu, Batavia pada abad ini telah mengalami sebuah fase yang indah dengan perkembangan di pelbagai bidang; sosial, ekonomi, budaya, dan interaksi ke-masyarakat-an.

Sebuah sebuah memoar Bretonde Nisj yang saya kutip dari Susan Blackburn menjelaskan bagaimana begitu hiruknya Batavia waktu itu. Pelbagai tradisi yang berasal dari luar Batavia berkembang dengan pesatnya dan menjadi tontonan wajib tiap penduduk Batavia, entah itu dari golongan Eropa, Cina, Eurosia, dan bahkan pribumi sendiri.

Dan memang mahabenar Pram, perempuan ternyata tidak bisa begitu saja dilepaskan dari gemuruh perkembangan sebuah peradaban. Batavia ternyata (juga) dibesarkan oleh Ontosoroh-Ontosoroh laiknya gambaran Pram. Bahkan, Susan lebih gahar dengan menyebut, golongan ini adalah penyambung perseteruan panjang yang melibatkan banyak golongan dan etnis di Batavia sebelum abad 19.

Sedikit mundur ke belakang, etnis di Batavia berbeda satu dengan yang lainnya, baik dalam status ekonomi, pekerjaan, dan wilayah tempat tinggal, dan perempuan pribumi sukses menyatukan perbedaan tersebut dengan sangat manjur.

Begini. Pada awal perkembangannya, jumlah lelaki asing di Batavia jauh lebih banyak dari pada perempuan asingnya. Kondisi ini tentu saja mendorong para pendatang tersebut menyalurkan kebutuhan seksual mereka dengan perempuan yang ada, ya perempuan pribumi. Tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai gundik guna menghindari kehidupan yang “kotor”.

Nah, kenapa peran mereka begitu penting dalam perkembangan kehidupan sosial di Batavia?

Para perempuan initernyata merupakan kekuatan paling stabil yang ada di kota. Mereka dengan sukses sebagai perantara para pendatang itu untuk melakukan adaptasi kebudayaan lokal. Selain itu, secara tidak langsung, gundik-gundik dan nyai itu, secara tidak sadar telah memberi warna tersendiri bagi anak-anak hasil hubungannya dengan tuannya.

Dan sadar tidak sadar, kehidupan orang Eropa dan Cina berangsur-angsur mengikuti pola hidup nyai-nyai dan gundiknya dan lambat laun semakin mirip dengan cara hidup pribumi Batavia.  Mereka kerap memakai sarung dan pakaian khas pribumi, belajar dan menggunakan bahasa dan dialek Melayu—sebagai satu-satunya bahasa pengantar—yang ada di Batavia. Kondisi ini secara tidak sadar mendorong orang-orang Eropa dan Cina menyerap kebudayaan lokal.

Kalau mau jujur, menjadi seorang gundik atawa nyai orang-orang Eropa adalah berkah. Dengan menjadi seorang nyai, secara otomatis akan mengangkat derajat serta martabat perempuan-perempuan dalam kehidupan sosial. Meski tidak menjadi istri resmi, banyak dari perempuan-perempuan lokal tersebut meraup keuntungan yang tidak sedikit.

Dengan memiliki banyak kekayaan hasil dari hubungan tuan-gundi ini, perempuan-perempuan tersebut secara perlahan memeroleh tempat layak dalam lapisan masyarakat Batavia. Tidak hanya itu, meski mereka ditinggal tuannya kembali ke Eropa, mereka masih bisa menikah dengan lelaki lain dari etnis lain. Begitu seterusnya.

Keuntungan lain dari menjadi menjadi gundik adalah proses transfer budaya yang begitu cepat. Taruhlah perempuan A. Awalnya dia menjadi nyai tuan dari Eropa. Karena beberapa alasan, tuan Eropa harus angkat kaki dan kembali ke negaranya. Tentu saja si A harus ditinggal tetap di Batavia. Meski demikian, perempuan ini tidak ditinggal dalam keadaan kosong, beberapa harta pastinya ada dan tentu saja cara hidup si tuan, mau tidak mau, telah melekat pada diri si A. Meskipun itu sedikit.

Beberapa saat kemudian, si A kembali menjadi gundik, kali ini oleh seseorang tua dari Cina. Kondisi ini, tentu saja mengharuskan si A mengikuti apa yang menjadi tradisi dan kebiasaan si tua Cina. Sejurus kemudian, kebiasaan yang ditularkan si tua Cina tadi bergabuung dengan tradisi lokal serta tradisi Eropa yang lebih dulu singgah pada diri si perempuan. Situasi ini terjadi terus menerus, sehingga memungkinkan terjadinya kebiasaan-kebiasaan baru di Batavia; tumpang tindih budaya.

Tumpang-tindih budaya inilah yang nantinya memunculkan gambang kromong, keroncong, tanjidor, komidi stambul, yang dianggap sebagai tradisi asli masarakat Batavia atawa Betawi.

sumber terkait;

Pram, Bumi Manusia.

Susan Blackburn, Jakarta Sejarah 400 Tahun. Jakarta: Komunitas Bambu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s