Ah, Suasana Itu Ternyata Masih Ada!

Sore itu, beberapa anak usia hampir sepuluhtahunan terlihat begitu menikmati tiap aliran bola yang ada. Tiga lawan tiga, dengan satu bola orange sederhana yang sudah berlobang di mana-mana. Beberapa saat kemudian, datang beberapa lagi, sehingga memungkinan pertandingan sepakbola alakadarnya akan berjalan lebih seru dan menarik; empat lawan empat. Satu kiper, satu pemain belakang, dan dua pemain depan dirasa sudah lebih dari cukup untuk melangsungkan sepakbola di atas tanah berukuran 5 x 10 m.

Sebelum dikacaukan oleh beberapa “begundal” laiknya Jailangkung yang tiba-tiba datang, saya masih sempat menikmat riuhnya pertandingan empat lawan empat tersebut. Kenikmatan yang rasanya dulu pernah saya rasakan dengan beberapa teman saat siang selepas bubar dari sekolahan.  Tidak terlalu diperlukan sepintar apa memainkan trik bermain bola, tapi teriakan, umpatan, dan kerasnya tendangan adalah modal yang kudu dipunyai tiap para pemain.

Tidak ada batas out yang benar-benar jelas. Bola dikatakan keluar jika sudah memasuki area teras masjid, dan atau jika bola sudah terlempar jauh ke jalan utama depan masjid. Itu baru out. Oleh karenya, tembok-tembok yang mengitarinya kerap dijadikan pantulan bola. Dan itu cukup jitu untuk sekadar mengecoh pemain lawan.

Selain itu, lapangan sederhana ini juga terlihat begitu unik. Dulu, pas masih kecil, kita sering menyebut lapangan –tepatnya halaman—masjid ini dengan Stadion Al-Abrar. Mengacu pada nama masjid tempat kami bermain.

Salah satu keunikan yang ditawarkan halaman masjid ini adalah tangga yang mengelilingi halaman laiknya tribun stadion. Tangga utama di sebelah timur yang menghubungkan halaman dengan jalan raya. Tangga kedua di bagian barat yang merupaka  tangga masjid. Selain itu, lapangan ini langsung berhadapan dengan teras masjid sehingga memungkinkan kita bisa berleha-leha di serambi sembari menikmati tingkah polah bocak-bocah “kurang ajar”.

Halaman masjid ini dulunya berdebu –pake’ banget, dan debu tadi pastinya akan masuk ke teras masjid jika dipakai main bola. Halaman masjid ini hanya sebuah tanah lebih yang ada di depan masjid. Selain sebagai tempat bermain bola alternatif, halaman ini bisa dibilang multifungsi, atau pusat segala bentuk kegiatan serta permainan yang akan dilakukan tiap harinya. Mainan Maling vs. Polisi misalnya. Tempat start serta pembagian siapa yang mau jadi penjahat dan siapa yang mau jadi polisi adalah halaman masjid.

Di komplek masjid sebenarnya ada dua lapangan yang biasanya digunakan untuk pusat bermain. Satunya lagi lapangan –halaman—sekolahan MIM tempat aku belajar menjadi gila. Tapi karena terlalu banyak jendela berkaca yang jaraknya sangat dekat dengan lapangan, jadi halaman sekolah biasanya menjadi opsi kedua. Selain itu, kalau dilihat dari ukurannya, halaman sekolah sedikit lebih sempit dari halaman masjid.

Kini halaman masjid itu tidak lagi berwujud tanah, melainkan sudah berbentuk paving. Dan salah satu aktor pemaving halaman itu adalah aku. Pertengahan puasa kemarin kebetulan aku sedang pulang, dan tepat lagi ada kerja bakti renovasi masjid.

Ah, rasanya mendandani suatu hal yang pernah sekelibat turut mengiringi jalan hidup sama halnya dengan membunuh masa lalu. Dan mau tidak mau, itu picik.

Aku tidak tahu, apakah aku terlalu melankolis dan picik yang akan membiarkan halaman itu tetap bertanah dan berdebu? Hehehe… Yang jelas, memaving halaman, berarti memaving masa lampau. Itu yang saat itu aku pikirkan.

Tapi, perasaan itu sedikit terkikis kemarin sore –19 Oktober 2012—saat tanpa sengaja menyaksikan beberapa anak tengah khusuk dengan bola bekas nan biadab yang warna kuningnya sudah menjurus menjadi coklat. Mereka mewakili keciaraan itu, keceriaan yang dulu pernah terukir batok kepada teman-temanku. Keceriaan yang rasanya begitu kebal untuk sekadar dikalahkan oleh Playstation, Gameboy, Saga, mobil remot, dan sebagainya, dan sebagainya.

Ah, ternyata gigi depanku pernah lepas gara-gara main bola di halaman masjid itu.

Tabik!

Tajung Kodok, 20 Oktober 012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s