Muhammad Dawam Saleh; Perpaduan Bule Cemani dan Pithek Gringsing

Tanggal 25 Mei 2008, saya bersama Galih Rakasiwi, Ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, UNY waktu itu, pergi ke Malang dengan tujuan melakukan negosiasi ikhwal rencana kami berkunjung dan bersua dengan kawan-kawan BEM UM. Dengan bekal alakadarnya, saya, yang kebetulan dipercaya sebagai ketua panitian studi banding berangkat ke Malang. Di samping itu, ada misi khusus yang harus segera saya selesaikan terkait dengan kuliah saya di Program Studi Ilmu Serajah, FISE, UNY.

Selama mengikuti perkuliahan di semester empat, ada mata kuliah Sejarah Lisan dengan tugas membuat artikel sejarah yang berlandaskan informasi-informasi lisan para sumber primer. Sumber primer menurut Kutowijoyo dalam Pengantar Ilmu Sejarah adalah sumber terkuat, sumber asli, sumber yang langsung bersinggungan dengan peristiwa sejarah. Beberapa waktu sebelumnya, saya sepakat mengajukkan judul makalah lisan saya tentang perkembangan Ponpes Al-Ishlah; tempat saya menggali oase selama kurang lebih enam tahun.

Tanggal 26 Mei 2008 pagi saya sampai di  Bumi Apel, dan tanpa menunda waktu lagi segera membereskan keperluan-keperluan utama saya di kota sejuk itu. Setelah rampung, malamnya saya memutuskan untuk langsung cabut dari kota Malang via Surabaya. Tujuan saya bukan balik ke Yogyakarta, melainkan Sendangagung. Sebuah desa hiruk di pinggiran pesisir utara Lamongan. Raka, sesampainya di Surabaya, saya arahkan untuk menuju bus tujuan Surabaya-Yogyakarta yang tersedia selama 24 jam non-stop.

Kebetulan, selain dengan Raka, saya balik dari Malang bareng dengan salah seorang kawan yang kuliah di Pendidikan Teknik Sipil UM. Dulu dia juga pernah nyantri di Al-Ishlah, bahkan selama kelas tiga Aliyah kami adalah teman satu bangku. Bedanya, dia memutuskan untuk tidak turut serta “berkunjung” ke pesantren. Dia memilih untuk langsung pulang ke Weru.

***

Angin sepoi terasa begitu riang seolah melambai-lambaikan rambut gondrong sebahuku. Rasa sepoi itu tampak sama dengan yang saya rasakan beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih berpeluh dan berkesah di balik dinding-dinding Thariq ibn Ziyad. Dengan celana jins berlobang sana-sini saya mantapkan langkah memasuki gerbang bekas KBU. Tampak perbedaan mencolok di sana-sini. Mulai dari masjid sampai aula putri semua tampak telah berpoles. KBU nampak masih sombong berdiri, karena tidak digusur laiknya bangunan-bangunan yang lain. Masjid yang persis bersebelahan dengan KBU sudah tidak lagi ada, karena berganti rupa menjadi ruang konveksi—semoga tidak salah—yang diperuntukkan untuk kawan-kawan yang gemar menjahit.

Karena sudah memasuki waktu duhur, saya memutuskan untuk beranjak ke masji “baru” itu, masjid yang saya hanya sempat menyaksikan satu tiangnya beridiri saja. Tiang yang konon berharga lima juta perbijinya. Dari kejauhan, lamat-lamat saya melihat sosok yang sudah begitu saya kenali raut mukanya. Dengan kopyah putih santainya dia begitu khusuk menunaikan dzuhur. Saya pun mengikuti dari belakang sebagai masbu’. Selesai solat saya tidak langsung betemu ustad. “lebih baik saya langsung ke rumahnya saja”, ujarku dalam hati.

Sekitar jam 2 siang, saya memutuskan untuk bertemu Pak Pak Dawam lansung di rumahnya. Bak gayung bersambut, saya langsung ditemuai oleh Pak Pak Dawam. Setelah berbasa-basi barang sejenak, saya mengutarakan maksud saya datang ke pondok. Kesannya sangat tidak ikhlas lantaran tujuan utama saya ke pondok untuk mengorek puing-puing sejarah yang melatabelakangi berdirinya pesantren ini. meski begitu, saya mencoba untuk meyakinkan diri, bahwa pilihan saya untuk mengangkat Al-Ishlah sebagai kajian utama penelitian saya adalah bentuk rindu saya kepada lembaga ini.

“Oh, maaf. Untuk saat ini saya belum bisa, karena saya harus mengantarkan Ibu (Bu Nyai) mengambil jahitan di Drajat”, ujarnya menjelaskan.

“Oh, tidak apa-apa tadz. Kalau nanti jam lima-an, setelah Asyar bagaimana?”, sergah saya.

“Baiklah!”, Pak Pak Dawam memungkasi obrolan itu, sembari saya pamit untk undur diri dulu sambil mempersiapkan sesuatunya buat nanti setelah ashar.

Dengan pelbagai alasan, akhirnya saya tidak jadi menemui Pak Pak Dawam setelah asar. Baru setelah maghrib saya baru bisa bertemu dengan Pak Dawam. Dengan kopyah dan sajadah khasnya dia baru saja datang dari menjadi imam di masjid. Saya sengaja menunggunya di depan masjid dengan harapan bisa langsung menyapa dan memulai obrolan yang sedari tadi sudah saya persiapkan. Selepas maghrib, catatan sekilas tentang sosok yang mempunyai asa luar biasa dapat pun terajut.

***

“Pak Dawam adalah pribadi yang mempunyai keinginan yang sangat tinggi untuk mendirikan pesantren,” ujar Pak Rodhi, salah seorang rekan Pak Dawam pada awal pendirian pesantren. Pernyataan ini diamini oleh Pak Jono dan Pak Thohir yang juga sempat saya temui beberapa saat setelah obrolab panjang lebar dengan Pak Dawam.

Pada awalnya tidak terbersit sama sekali keinginan untuk menjadi kiai dan mendirikan pesantren. Cita-cita awal Pak Dawam adalah menjadi seorang santrawan dan penulis puisi—bisa dilihat dari beberapa karya puisinya—mungkin kerana itu setelah lulus sarjana muda di Gontor, dia memlilih untuk meneruskan kuliah di Fakultas Filfasat, Universitas Gajdah Mada, Yogyakarta.

Tak disangka, justru petualangannya di kota budaya inilah menjadi titik awal asanya untuk menjadi seorang kiai dan mendirikan pesantren. Sembari belajar di universitas, Pak Dawam juga nyambi ngajar di sebuah pesantren tak jauh dari Yogyakarta; Pondok Pabelan, Muntilan, Magelang. Kesempatan ini tidak dibuangnya percuma. Kemampuan-kemampuan yang dia dapat ketika di Darussalam diperdalam dan diasah secara matang di pesantren yang berada di bantaran Kali Putih ini.

Setamatnya dari universitas dan Pabelan, Pak Dawam muda adalah sosok yang gelisah. Dalam artian dia mempunyai sebuah cita untuk memanfaatkan tanah warisan bapaknya sebagai lahan pendidikan yang nantinya diharapkan menjadi kawah penggodokan remaja Islami. Kegelisahan Pak Dawam ternyata juga dirasakan oleh teman-temannya ketika menjadi guru di SMP. Pak Thohir salah satunya. Setiap malam, sembari menghabiskan waktu dengan begadang, Pak Dawam muda sering menuangkan ide dan asanya untuk membuat sebuah lembaga pondok pesantren. Keinginan itu pun didukung oleh kondisi Pak Dawam yang waktu itu masih lajang, sehingga tidak terbebankan oleh persoalan keluarga.

Sebagai seorang muslim, Pak Dawam adalah orang yang sangat keras terhadap pelbagai bentuk tahayul. Dalam terminologi Islam, tahayyul dimasukkan dalam kategori syirik, lantaran memercaya selain Tuhan, Allah. Dan di sinilah muncul sebuah anomali, lantaran Al-Islah berdiri sejalan dengan beberapa ramalan yang mengirinya. Tapi perlu dicatat, bahwa ramalan ini hanya sekadar pemacu semangat dan asa Pak Dawam untuk mewujudkan mimpi. Selebihnya, tidak.

Dalam sebuah obrolan dengan Pak Dawam sore itu, dia mengakui bahwa sebelum pesantren ini berdiri dengan pongahnya, ada beberapa orang yang meramalkan bahwa akan terjadi sesuatu yang besar di tempat ini—lokasi pesantren—suatu saat nanti. Sebenarnya bukan peramal, melainkan lebih tepatnya adalah orang pintar, yang dikarunia kelebihan ilmu untuk melihat sesuaut yang tidak sembarang orang tahu.

Ramalan pertama berasal dari seorang buta dari Tuban. Dia mengatakan bahwa di daerah Beji (bagian dari Sendangagung) akan muncul sebuah kejayaan jika ada Bule Cemani. Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Bule Cemani adalah orang yang mempunyai jiwa yang ikhlas dan kemauan yang besar untuk mendirikan dan mewujudkan apa yang diinginkan. Ramalan kedua mengatakan bahwa akan timbul sebuah kekpuatan besar di sebelah barat laut desa Sendangagung jika muncul Pithik Gringsing Mangkring neng Palange Kandang. Itu diartikan dengan kemunculan seorang yang benar-benar konsisten menjaga dan mengabdi untuk tempat itu, dan tentunya tidak tergoda dengan iming-iming jabatan ataupuk kekayaan lain.

Sebagai seorang muslim tentunya kita tidak bisa percaya begitu saja dengan segala bentuk ramalan. Akan tetapi ada hal yang perlu dipelajari lebih mendalam terkait “ramalan” itu.  Jika menjadikannya itu sebuah ramalan dan lebih-lebih meyakininya maka tentunya berlawanan dengan idiologi agama yang dianut. Namun, jika itu hanya dijadikan sebagi sebuah motivasi dan dorongan untuk mewujudkan asa luhurnya itu maka itu adalah hal yang lumrah dan tidak salah.

Dengan berbekal “ramalan” dan semangatnya yang menggebu-gebu Pak Dawam memulai langkahnya dari sebuha langgar. Langgar atau surau, bagi sebagian umat Islam, mempunyai makna sang sangat penting. Sejarah membuktikan itu. Dalam perkembangannya, langgar tidak bisa dipisahkan dari sejarah revolusi Islam di Indonesia. Gerakan Sumatra Thawalib di Padang, Muhammadiyah di Yogyakarta, dan tentunya langgar Beji  di Sendangagung.

Sekarang, dengan segala bentuk kegigihan dan niat yang begitu keras untuk mencapai asa, Si Bule Cemani hampir saja mewujudkan cita-cita semasa masih lajang. Tiba-riba terngiang sebuah pepatah Arab yang begitu kuat pengaruhnya terhadapku; man jadda wajada, terbukti telah dengan baik diamalkan oleh sang Dokterandes Filsafat ini.

Tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s