Saat Negara dan Sepakbola Terlihat Mesra

(Catatan manis sepakbola Indonesia dalam kancah Olimpiade)

Dalam Harian Rakyat bertanggal 4 Maret 1964, suatu kali Njoto pernah mengatakan bahwa sport, seni, dan musik tidak akan bisa lepas dari urusan politik. Secara tegas, Njoto menyebut orang-orang yang mengatakan tiga hal itu sebagai non-politik, berarti dia termasuk golongan reaksioner, dan tidak sejalan dengan semangat revolusi yang tengah menggaung waktu itu. Olahraga, termasuk di dalamnya adalah sepakbola, tidak bisa lepas begitu saja dari semangat politik.

Sri Agustina Palupi menulis dalam bukunya, Politik dan Sepakbola, bagaimana sepakbola dan politik bersatu melawan hegemoni Belanda lewat olahraga. Seperti halnya Ashutosh Gowariker dalam Lagaan, Agustina Palupi juga menjlentrehkan bagaimana sebuah kekuatan penguasa tidak selamanya harus dilawan dengan bedil dan senapan. Olahraga terbukti menjadi salah satu opsi yang sifatnya sangat politis.

Baiklah, saya tidak akan berbusa-busa ngomongin masalah sepakbola kita saat ini, toh akan semakin membuat kita pusing kepala. Yang jelas, pada suatu era, politik, pemerintah, dan segenap elemen negara, bahwkan presiden, pernah begitu dekat dengan sepakbola kita. Berita baik itu saya dapat ketika beberapa hari yang lalu membaca sebuah artikel di FourFourTwo edisi Agustus 2012. Artikel itu memperlihatkan bagaiama hubungan yang begitu mesra penguasa dan sepakbola kita, yang rasanya sayang untuk dilenakan begitu saja.

Tahun 1956, Indonesia dan olahraganya tengah disibukkan gawe besar; mempersiapkan kontingennya untuk turut campur dalam olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Tidak kalah sibuknya, adalah timnas sepakbola yang dikomandani Maulwi Saelan yang bertindak sebagai kiper sekaligus kapten timnas Garuda. Pelbagai persiapan tentu saja menjadi agenda wajib Saelan dan kawan-kawan. Pertandingan persahabatan lantas perombakan pemain  dan pelatih menjadi garapan wajib menjelang pemberangkatan ke Melbourne.

Dan perlu diketahui, presiden langsung berada di belakangnya.

Langkah awal saat persiapan adalah mengganti pelatih tim. Di bawah pelatih sebelumnya, Cho Seng Quee yang seorang Singapura, Indonesia jauh dari kata berkembang. Seng Quee seolah tidak tahu kebutuhan mendasar timnas. Dengan postur tubuh yang jauh dari tinggi, pemain-pemain Indonesia dipaksa bermain bola-bola jauh. Tentu saja ini adalah hil yang mustahal.

Titik tolak itu datang juga pada pertengahan tahun 1953. Salah satu klub dari Yugoslavia datang untuk bermain di Ikada. Soekarno langsung menonton permainan yang bau-baunya sarat dengan kepentingan politik itu.

Soekarno kepincut dengan cara bermain klub dari Eropa Timur itu. Dengan lobinya yang yahud terhadap presiden Broz Tito, Soekarno akhirnya berhasil mendatangkan otak di balik permaian cantik tim Yugoslavia tadi. Toni Pogacnik berhasil diikat untuk menghadirkan gaya permainan baru kepada Saelan dan rekan.

Bagi beberapa pemain sepakbola Indonesia waktu itu, Toni Pogacnik adalah bapak gaya sepakbola modern Indonesia. Maulwi Saelan salah satunya. Dia menilai Toni sebagai pelatih yang tahu kebutuhan tim. “Toni Pogacnik adalah orang yang memperkenalkan sepak bola modern kepada Indonesia. Dia yang pertama kali memperkenalkan  taktik dan strategi modern kepada pemain-pemain kita. Sebelumnya, saat berada di bawah Cho Seng Quee, kita tidak mengetahui banyak hal mengenai sepak bola,” kata Saealan kepada FFT.

Perombagan yang paling mencolok dari gaya permainan Pogacnik adalah permainan cepat dari kaki ke kaki. Ini berdasar dari bentuk postur tubuh pemain Indonesia yang relatif pendek tapi mempunyai kecepatan yang bagus. Tapi, untuk memperkenalkan gaya permainan baru itu, diperlukan waktu yang tidak sebentar. Beberapa laga uji coba menjadi agenda selanjutnya Pogacnik dan anak-buahnya.

Lagi-lagi, laga uji coba yang diagendakan oleh timnas  Indonesia juga sarat dengan kepentingan politik. Indonesia memilih mengunjungi negara-negara di Eropa Timur yang terkenal begitu dekat dengan Soekarno. Beberapa kota di Uni Sovyet, Yugoslavia, Cekoslovakia, dan Jerman Timur menjadi rujukan pasukan Indonesia. Meski mengalami sepuluh kali kekalahan dari sebelas laga uji coba, dirasa cukup untuk memantapkan persiapan di Melbourne.

Dan ada satu laga yang pastinya tidak akan bisa dilupakan oleh pemain-pemain Indonesia yang mengikuti lawatan ke Eropa Timur itu, saat berhasil menahan tim kuat Yugoslavia dengan hanya kalah 4-2. Padahal, Indonesia digadang-gadang bakal memeroleh kekalahan dengan skor yang telak, pasalnya, Yugoslavia pada waktu itu tengah berada di level permainan terbaiknya. Meraih medali perak di Olimpiade Helsinki 1952 dan perempatfinal Piala Dunia 1954 Swiss.

Masuknya sepakbola Indonesia di Olimpiade Melbourne sebenarnya agak berbau sedikit keberuntungan. Beberapa negara yang kudunya menjadi lawan tanding Indonesia menyatakan mengundurkan diri dengan pelbagai alasan. Kondisi yang yang langsung mengantarkan Indonesia melaju ke babak perempat final bertemu dengan Uni Sovyet dengan Lev Yasin-nya.

Sekali lagi, sebelum terbang ke Australia, Soekarno menunjukkan kedekatannya dengan para pemain timnas. Pria yang kerap disapa “Bung” itu memberi beberapa wejangan dan semangat kepada  para pemainnya. Ya, tak jauh-jauh dari jargon-jargon nasionalisme gitu lah…

Terbukti, wejangan Soekarnoa manjur. Meski gagal melaju ke babak semifinal, catatan istimewa berhasil ditorehkan Saelan serta kawan-kawannya.

Uni Sovyet yang datang dengan beraneka warna bintang lapangan hijau mereka diprediksi akan mudah menghantam sepakbola negara kemarin sore, Indonesia. Apalagi di sana berdiri sosok Lev Yasin di antara tiang gawang Uni Sovyet menjadikan negeri komunis itu terlihat begitu jumawa.

Bagi pemain Indonesia, rasa grogi itu lumrah. Maklum yang dihadapi adalah tim besar. Namun, tur keliling Eropa Timur tampaknya berbuah hasil. Ketahan tubuh, mental bermain, psikologi mumpuni, serta gaya permainan baru pastinya menjadi modal berharga anak asuh Pogacnik.

Babak pertama berlangsung seri, pun demikian halnya dengan babak kedua; Liong Houw dan kawan-kawan membelalak mata dunia dengan menahan tim sangar, Uni Sovyet. Karena belum ada sistem adu tendangan pinalti, maka pemenang akan ditentukan dengan pertandingan ulang. Dengan mental, persiapan, dan kondisi yang tidak fit lagi, pemain-pemain Indonesia harus mengakui derasnya hujaman-hujaman penyerang Uni Sovyet. Saelan, sang kiper, harus memungut bola dari gawangnya sebanyak empat kali tanpa satupun gol balasan.

Namun, lepas dari kekalahan itu, bermain seri 0-0 dengan Uni Sovyet adalah kenangan terindah para pemain yang turut serta pergi ke Melbourne.

Jika mengingat sepakbola Indonesia pada Olimpiade 1956, ada satu sosok yang pastinya tidak lepas dari pantauan kita. Yap, tidak lain dan tidak bukan, dialah Maulwi Saelan. Lahir dan besar di Makasar, Maulwi Saelan menjadi salah satu pemain terbesar yang pernah dilahirkan sepakbola Indonesia. Dengan Saelan juga, kita juga bisa melihat hubungan yang begitu dekat seorang presiden dengan sepakbola. Dalam beberapa data yang ada, Saelan memiliki hubungan yang dekat dengan Soekarno.

Selain bermain dan mengurusi sepakbola, ternyata Saelan suatu ketika pernah menjadi seorang wakil komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden. Tapi itu tidak lama, karena pada 1964 presiden secara pribadi meminta dirinya untuk menjadi ketua PSSI  menggantikan Abdul Wahab.

Salah satu prestasi besar Saelan saat memimpin PSSI adalah keberhasilannya membongkar “Sekandal Senayan” yang seolah menjadi gurita dalam tubuh PSSI. Tidak tanggung-tanggung, Soekarno juga tampak ikut nimbrung dalam penyelesaian kasus suap itu. Meski sempat murka, tapi Soekarno akhirnya “memaafkan” pelaku-pelaku suap PSSI itu dengan dalih demi kebaikan dan kelangsungan sepak bola Indonesia.

Tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s