Golf, Ehm…?

–Sedikit catatan tentang gundhu khas Skotland–

Berbicara golf adalah berbicara kemewahan. Bisa. Berbicara eksklusifitas. Ehm.. Bisa jadi. Yang jelas, bicara golf adalah bicara perihal olahraga super-bangsat, yang dibutuhkan dana berjuta-juta untuk mendapatkan satu stiknya, dibutuhkan ribuan derai keringat saat harus meliputnya. Dan satu lagi, ketika Anda meliput olahraga kesayangan Rori Hie ini, maka Anda harus bermental dan berfisik laiknya pendaki gunung. Bayangkan, sekali liputan, kita harus memutari 18 hole. Dan, tiap hole-nya, bisa jadi berjarak antara 200 sampai 300 meter. Biadab kan?

Tapi nanti dulu, sebiadab-biadabnya olahraga khas Skotlandia ini, secara tidak langsung, saya telah menceburkan diri ke dalamnya. Tidak dalam-dalam amat sih, tapi cukup untuk sekadarsedikit tahu seperti apa para pemain golf “mendidikasikan” dirinya atas olahraga 18 lubang ini.

Image

Okelah, jangan terlalu muluk melukis golf luar negeri dulu, mari tengok apa yang terjadi, apa yang berlangsung, dan apa yang diperbuat oleh mereka yang mengaku “atlet-atlet golf profesional Indonesia.” Hehehee

Pertama-tama, saya akan membagai golfer Indonesia berdasar dua kriteria; pertama golfer yang memang jebolan akademik, dan kedua golfer yang awalnya (hanya) seorang kedi atau anaknya kedi. Kedi; orang yang wira-wiri ngikutin golfer saat main.

Bagi golfer yang memang lahir dari beberapa akademi golf, pastinya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Saya pernah lihat, bahwa untuk seminggu latihan saya, si Fulan harus menyediakan fulus berkisar 2 sampai 3 juta per latihan. Itu belum stiknya, bolanya, golf-bag-nya, dan sebagainya. Beruntung jika dia dapat pelatih atau instruktur yang berlisensi, kalau hanya mendapat pelatih modal bisa megang stik tok, kan rugi jadinya.

Adapun bagi golfer yang kebetulan tidak sempat mengenyam bangku akademi golf, maka dia cukup mencuri-curi waktu untuk belajar sendiri, melihat bagaimana juragannya mukul dan melakukan drive, serta iseng-iseng bertanya. Oh iya, di beberapa golf-range yang pernah saya datangi, ada yang memang memberi kesempatan khusus bagi para kedinya untuk berlatih. Selain agar bisa, latihan ini ditujukan untuk membantu golfer yang bookingi dia nanti; untuk ngukur sudut, lihat keadaan cuaca dan angin, kemiringan, dan menentukan stik yang mana yang pas untuk dipakai mukul. Dan tentu saja, ini jumlahnya tidak sedikit alias banyak.

Oh iya, saya baru ingat. Masalah kedi. Banyak yang beranggapan bahwa kebanyakan kedi–yang cewek–mempunyai paras yang ayu, tubuh yang sintal, tatapan yang menarik, dan pastinya menggoda untuk sekadar dicolek. Tapi nanti dulu, saya berani bertaruh, bahwa itu salah besar. Dari beberapa kedi yang saya lihat, kebanyakan mereka adalah ibu-ibu muda, cewek-cewek yang rela berpanas-panasan, tidak jarang juga yang gosong seperti saya. Memang ada yang cantik, tapi bisa diitung dengan tangan.

Mengenai perempuan yang ada di sekitaran lapangan golf–selain golfer perempuan tentunya–ada dua sih sebenarnya; yang pertama yang jadi kedi dan yang kedua adalah pramusaji atau bahasa Lamongannya waitress. Nah, yang berprofesi nomer dua inilah yang rata-rata mempunya paras menantang. Golf-club satu dengan yang lainnya berbeda pastinya. Kwalitas waitress di Suwarna Golf Course Cengkareng tentu saja jauh lebih “sangar” jika dibanding dengan Pondok Indah Golf Course. Yang lain juga demikian.

Kembali ke soal kedi. Sembari menunggu lomba dimulai, suatu kali saya pernah berbincang dengan salah seorang kedi. Sebut saja Fulanah. Si Fulanah ini, katanya, tiap bulannya bisa mengumpulkan duit 4-6 enam juta perbulan dari tips saja. Itu belum dari gaji pokok yang dia terima saban bulannya. Tidak hanya itu, pendapatan mereka bisa tiba-tiba melonjak dratisn jika ada turnamen dan kalau ada pejabat yang mem-booking mereka. Booking dalam artian menjadi kedi yang sebenar-benarnya kedi. Tapi akan berkebalikan jadinya, jika yang booking adalah ekspatriat-ekspatriat dari Korsel, “mereka terkenal pelit. Biasanya sekali ngedi bisa dapat 150, kalau sama mereka paling cuma 75 ribu,” terang Fulanah.

Belajar bermain golf adalah belajar menjadi orang yang tenang. Belajar selalu berkonsentrasi meski di atasnya sedang ada pesawat lending atau tekof. Seorang golfer harus bisa menjaga tempo dan amarahnya sebaik mungkin. Jika sedikit saja itu terganggu, maka bisa dipastikan, bola yang dipukul saat melakukan putting, akan terus melebar menjauhi lubang.

Golf, Olaharaga Macam Apa Toh…?

Pernah suatu ketika mendapat kesempatan meliput turnamen Internasional; Indonesia Master. Sang juara bertahan, yang saat itu juga berada di peringkat 3 dunia, Lee Westwood, menjadi salah satu pesertanya. Hadir juga pemegang order of merit Asia, Tongchai Jaidi, dan mantan juara Master, Ian Wosnam dari Wales.

Saat Lee Westwood akan melakukan driving pertamanya, sekonyong-konyong terdengan bunyi “cekrek” dari samping saya. Sontak, Lee langsung menghentikan ancang-ancangnya dan sejurus kemudian mengarahkan telunjuknya ke empu kamera yang tadi berbunyi “cekrek”. Di beberapa tempat malah ada yang sampai dibuang kameranya, karena dianggap menggangu konsentrasi saat akan melakukan driving atau putting.

Terkesan songong dan belagu sih, tapi pada kenyataannya memang begitulah peraturan yang telah diimani sejak ribuan ratusan tahun silam. Dalam hal ini, golf tidak ubahnya tenis lapangan, ketika petenis akan melakukan servis atau golfer sedang berancang-ancang hendak tee-off, maka diharamkan bagi segenap penonton yang tengah berada di sekitarnya untuk membuat gaduh, apalagi bertempiksorak dan mengeluarkan bunyi-bunyian.

Untuk memulai tulisan tentang golf, mungkin ini bisa menjadi pemula. Dan semoga ada terusannya.

Tabik!

2 comments

  1. Jazzakumullah · August 15, 2012

    Kita lihat saja, 10 tahun mendatang mantan pemimpin Jaringen Kerja LPM EKSPRESI ini bakal jadi pemain golf. amin,

    • ndangcerung · August 15, 2012

      Hahahaha, tidak perlu bermain golf untuk sekadar mengerti golf. hhassuuu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s