Jakarta “Kota Bandit”

—Semua berawal dari sebuah kejadian di bus jurusan Senen-Cimone—

Setelah hampir setahun menjadi buruh di Jakarta, kejadian itu akhirnya datang juga. Kejadian yang benar-benar tidak diperkirakan tapi diwaspadakan sedari awal. Kejadian yang berlangsung cukup singkat, padat, dan jelas. Kejadian yang menyadarkan saya bahwa ini adalah Jakarta yang sebenar-benarnya.

Jakarta yang juga surga bagi para penjahat dan penodong.

***

Jakarta, bagi Robert Cribb, adalah surga para bandit sejak masa pra-kolonial.  Jakarta seolah menjadi lahan yang begitu subur bagi kelangsungan hidup para bandit dan sebangsanya; preman, jambret, pencoleng, dan sebagainya, dan sebagainya.

Meski demikian, tidak serta-merta kita harus memaknai bandit dengan sesuatu yang bersifat negatif an sich, bandit telah nyata-nyata berada dalam peranan cukup penting terhadap gerakan revolusi Indonesia pertengahan abad 20. Bandit menjadi institusi non-formal yang berhasil menggerakkan ribuan masa untuk melakukan aksi mogok, perebutan lahan perkebunan, pembabatan para setan desa dan  anteknya. Bahkan lebih lanjut lagi, bandit adalah pahlawan.

Ong Hok Ham mencatat dalam Dari Soal Priyayi Sampai Nyi Blorong  bahwa fenomena bandit atau jagoan telah ada sejak jaman pra-kolonial. Saking masifnya, gerakan bandit menjadi senjata paling ampuh para penguasa lokal untuk melegetimisai kekuasaannya.

Tidak hanya di Jakarta, Suhartono melukiskan dalam Bandit-bandit Pedesaan, di beberapa daerah yang menjadi basis perkebunan Jawa waktu itu, bandit adalah momok yang paling menakutkan bagi para tuan tanah dan pemilik modal. Apalagi setelah lahan-lahan padi—yang menjadi gantungan hidup para “bandit”—perlahan-lahan  digeser dan direbut pemilik modal untuk pengembangan kebun-kebun mereka. Selain melakukan pengrusakan, para bandit juga tidak jarang melakukan penjarahan dan perampokan, bahkan sesekali melakukan perlawan fisik. Tentu saja, gerakan perbanditan ini dipimpin oleh seorang jagoan setempat.

Nah, siapa sebenarnya jago? Almarhum Ong menjelaskan, jago adalah orang kuat setempat baik secara fisik maupun spiritual dan terkenal memiliki kekebalan. Biasanya, seorang jago bisa menghimpun pengikut untuk sebuah kekuatan besar. Dengan kelebihannya itu, banyak orang sekitar yang segan dengan kedudukan para jagoan. Hal ini lah yang mampu membuka celah bagi anak-buahnya untuk melakukan penjarahan dan perampokan. Jika ada yang melawan, bisa jadi, nasib mereka akan sama dengan barang-barang yang dijarah.

Jika bandit masa pra-kolonial lebih berperan sebagai senjata penguasa lokal, maka fenomena perbanditan banyak berubah kala memasuki masa kolonialisasi. Sebagian memang banyak dimanfaatkan oleh penguasa kolonial, tapi tidak sedikit juga yang merubah haluan dengan menjadi pahlawan dan melakukan segenap perlawanan terhadap penguasa baru itu. Haji Darip dari Klender misalnya. Juga Haji Ma’sum dari Cilincing, Haji Eman dari Telukpucung, dan banyak yang lainnya.

Sebenarnya ada motif tersendiri kenapa mereka melakukan perlawan terhadap pemerintah Belanda. Gerakan represif Belanda menyebabkan lahan garapan mereka menjadi sempit. Padahal di sisi lain, itu lah satu-satunya mata pencaharian para bandit. Untuk mengembalikan kejayaan, mereka harus melawan tindakan represif pemerintah. Secara tidak langsung, ini menguntungkan kaum revolusioner untuk bersama-sama berjuang, tak terkecuali di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Bandit semakin menemukan surganya saat Belanda mengakui kekalahantanpasyaratnya terhadap Jepang. Memanfaatkan keadaan yang serba tidak menentu, bandit bergerak lebih masif lagi. Cribb menambahkan, para gerombolan itu beranggapan bahwa pemerintah lebih mengutamakan kondisi-politik ketimbang menghentikan aksi perampokan, apalagi menangkapi mereka.

Tapi di sisi lain—dengan semakin gencarnya isu nasionalisme—fenomena perbanditan melebur jadi satu dengan isu patriotisme. Keduanya seolah tidak ada sekatnya penghalang dan tidak bisa dipisahkan. Bandit dan patriot berbareng merebut pusat-pusat kota yang menjadi kantong-kantong kekuasaan Jepang; jalan raya, pabrik, perkebunan, dan bahkan kuasa atas orang kulit berwarna.

Seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan semakin dimarjinalkannya bandit, watak patriotis para bandit perlahan hilang. Mereka memutuskan kembali ke habitus asli mereka sebagai bandit yang sebenar-benarnya bandit. Kantong-kantong yang awalnya besar di daerah pinggiran Jakarta, kini merangsek dan bergeser ke tengah, ke pusat kota.

Kisaran awal 1980-an, pemerintah Orde Baru melakukan gerakan represif terhadap keberadaan para bandit di Jakarta. Beberapa kalangan menilai, kebijakan ini terbukti cukup sukses. Minimal untuk memberi shock therapy terhadap keberadaan bandit, meski dalam beberapa prosedurnya, banyak yang bilang bahwa tindakan represif ini tidak sejalan dengan isu HAM waktu itu yang merebak waktu itu.

Pasca-reformasi, perbaditan nampaknya kembali subur. Berbarengan dengan kondisi ibu kota yang semakin tidak menentu, katub-katub premanisme yang awalnya sungkan untuk sekadar menyapa, kembali pulih dan mendapatkan angin segar. Terminal, stasiun, mol-mol, pasar tradisional, dan beberapa tempat umum, menjadi sasaran operasi mereka. Tidak hanya orang berada, si papa pun kerap menjadi target operandinya.

Dan saya juga, akhirnya…

***

Siang itu, sehabis duhur, sesaat setelah menemani seorang kawan menukar tiket spoor jurusan Jogja, saya memutuskan untuk kembali ke Kebonjeruk. Setelah mengucap terimakasih, saya langsung menaiki bus yang terlihat melompong. Hanya ada beberapa ibu-ibu plus kakek-nenek di bangku paling depan. Untuk kenyamanan saya memilih bangku deret dua yang agak tengah. Sembari menunggu bus melaju, saya memasang handsfreei di hp dan menyalakan musik.

Tidak berselang beberapa lama, tiba-tiba datang tiga orang yang tidak dikenal. Ketiganya berwajah tirus. Mungkin kurang tidur. Seingat saya, satu di antara ketiganya memakai kostum sepakbola kebanggaan kotanya. Satu di antaranya lagi tiba-tiba menyapa saya;

“Mau ke mana?” tanyanya lirih.

“Ke Kebonjeruk,” jawabku datar.

“Biasa aja dong kalo ngomong!” sergahnya sembari menyuruh melepas handsfree yang saya kenakan.

Saya melepasnya satu, “emang saya gimana?” balas saya sembari senyum untuk mencairkan keadaan.

“Minta sms-nya dong buat sms bini gua!” si kostum bola tiba-tiba nimbrung.

“Nggak ada pulsa,” kataku.

“Minta tambahan dong buat beli minum,” pinta yang pertama kali ngajak ngomong.

“Nih…” sembari kusodorkan selembar duaribuan yang sedari tadi kupegang.

“Ini mah cukup buat ongkos pulang doang. Yang dalam tas lah…” dia mencoba untuk memaksa.

“Nggak ada duit, kalo mau ini,” sergahku.

Keadaan semakin ruyam, tampaknya. Si Kaosbola terlihat menyingkap bagian bagian bawah kaostim kumalnya. “Mau gua tusuk!?” gertaknya lirih. Meski tidak bisa memastikana apakah benar di balik kaosnya terselip pisau atau tidak, saya tetap tidak mau mengambil resiko lebih lanjut. Untuk menghindari hal-hal yang diinginkan—oleh ifrit dan kawan-kawannya—saya memutuskan untuk buru-buru pindah bangku, namun tetap waspada dengan hal-hal mungkin terjadi setelahnya.

Tiga manusia tidak beruntung itu ternyata tidak banyak reaksi saat saya memutuskan pindah kursi. Hanya sebuah ayunan kecil pada kaki saya yang membuat sedikit terhuyung dan membalasnya dengan tendangan yang serupa.

Tidak jelas seperti apa reaksi selanjutnya. Beberapa saat setelah memutuskan untuk memilih bangku tepat di belakang supir, saya sudah tidak mendapati ketiga sosok perampok tanggung itu.

Saya? Hanya tersenyum sembari bergumam, “Kau telah menunjukkan rupa aslimu, Jakarta!”

Tabik!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s