Sepakbola, Bocah, dan Sebuah Kebahagiaan

 Namanya Abid. Kata bapak-bapak di sebelah saya, dia belum menginjak tujuh tahun.  Tubuhnya kecil, sekecil saya pas kelas satu SMP. Umur yang belum genap dan tubuh yang masih rapun tak menjadikannya hilang semangat siang itu. Pada sebuah kesempatan, dia berteriak keras, mengepalkan tangannya ke udara, meloncat kegirangan, seolah dia adalah sesosok pemain profesional yang telah berumur duapuluhan.

Berawal dari sebuah lemparan ke dalam, sayap tim Garuda Putra merangsek ke depan. Seakan melihat celak di depan gawang SSB INTI, si sayap tadi mengirim umpan ke depan gawang INTI. Meski agak tertatih, umpan itu berhasi membuat sedikit skrimit di depan gawang. Bola tanggung nan liar itu persis berada di depan Ibad, striker Garuda Putra. Dengan sedikit sontekan saja, bola berhasil menggelinding melewati selangkangan kiper INTI. Goallllll buat Garuda.

Sebenarnya yang menjadi menarik bukan karena itu adalah sebuah karnaval sekolah sepakbola. Justru yang menjadi menarik adalah kegembiraan si anak saat dia bisa menyarangkan bola. Meski masih sangat tertatih ketika membawa dan menggiring bola, itu tidak menghilangkan sedikitpun asanya untuk terus bermain. Ya, kegembiraan tidak bisa diukur hanya dari baik tidaknya menggiring bola, dan kemudian mengumpankannya.

***

Siang itu begitu terik. Saking teriknya, saya yang beberapa hari terakhir cukup kurang tidur pun merasakan dampak hebatnya. Kepala mendadak pusing, mata tiba-tiba berat, dan punggung terasa ditempa beban yang sangat.

Sekitar sepuluh sekolah sepakbola bergerombol di tengah lapangan. Mereka tengah mengikuti karnaval sepakbola. Tidak kesemuanya berasal dari Jakarta. Ada juga yang dari Sukabumi. Tiap-tiap SSB membawa dua tim, masing-masing umur delapan tahun dan sepuluh tahun. Kelas-kelas itu akan ditandingkan dengan ukuran lapangan yang berbeda. Bukan bermaksud meremehkan yang masih delapan tahun, cuma si panitia penyelenggara berusaha untuk menjadi sesosok yang manusiawi, dengan memberi si delapan tahun lapangan yang luasnya setengah lebih kecil dari si sepuluh tahun.

Bocah-bocah yang masuk kategori delapan tahun dimainkan lebih dahulu, baru agak sorean kakak-kakak mereka menyusul. Menjadi semakin menarik, karena ternyata tidak hanya para bocah saja yang bersorak. Ibu-ibu dan bapak-bapak mereka di samping gawang pun tak cukup girangnya. Sesekali mengumpat, bersumpahserapah, dan banyak juga yang nyebut-nyebut nama Tuhan. Ya, nampaknya mereka masih yakin, Tuhan ada di mana-mana termasuk di antara bocah-bocah kecil yang tengah bermain bola.

Menyoal ikhwal kegembiraan, bagi anak-anak adalah mutlak hukumnya. Setahu saya, umur segitu—delapan sampai sepuluh—adalah masa-masa yang paling sempurna untuk merajut sebuah narasi indah yang bernama kebahagiaan dan kesenangan. Bahkan terpkadang mereka tidak peduli dengan apa mereka memeroleh kebahagiaan tadi. Dulu ketika kecil, saya sering mengelilingi desa untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan. Beberapa bocah yang beruntung hidup di kota, akan menghabiskan waktu mereka di pelbagai game stations yang tersebar di mall besar kota. Bagi yang kurang beruntung, alias hidup berkalang clurit dan cangkul, mungkin akan gembira jika bisa memamerkan kehebatannya membabat rumput untuk kambingnya kepada kawan sebayanya. Semua hal, asal itu bisa bahagia, jadi lumrah adanya.

Karena mereka suka bola, maka kebahagiaan mereka tentunya berasal dari bermain sepakbola. Saya yakin sekali, dari sekian banyak bocah yang ikut karnaval itu, jika ditanya apa cita-citanya kelas, maka sebagian besar akan menjawab sebagai pemain sepakbola. Kenapa? Karena mereka mengganggap bahwa sepakbola lah satu-satunya yang bisa memberinya kebahagiaan dan kepuasaan. Yang lain tidak.

Saya masih ingat, cita-cita saya dulu adalah bisa meniru Wak Kaji Bejo Sugiantoro, libero kenamaan binaan Persebaya Surabaya. Bersama Mursyid, dia adalah bek-bek lokal yang saya kagumi. Saya tidak suka Nur Alim, karena mainnya tidak stylis. Berbeda dengan Bejo, yang menurut saya adalah pemain belakang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Kecintaan saya terhadap Bejo, menjadikan saya ingin sepertinya. Sepertinya sangat membahagiakan ketika bisa melakukan tackling secanggih Bejo.

Di lain waktu, saya ingin menjadi pelukis yang handal. Itu karena bapakku bebearapa kali membawakan pensil warna ketika pulang dari Malaysia. Tidak jarang pula, saya menghayal tiba-tiba menjadi pendekar, yang menguasai puluhan jurus mematikan. Semua itu muncul karena saya bisa bahagia dengan itu.

Kebahagiaan adalah mutlak, bagiku. Apalagi bagi bocah-bocah berumur kurang dari sepuluh tahun. saya memang bukan pemerhati psikologi anak, tapi saya pernah merasakan umur delapan tahun. bisa jadi, Abid dan kawan-kawan yang siang itu saya perhatikan, akan menggantungkan pada kesenanggannya sekarang untuk masa depan; bermain sepakbola.

Tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s