Karya Masterpis Itu Bernama “Gerendel”

Sulit dibayangkan, bagiamana murkanya bandar judi serta aktivis taruhan, sesaat setelah Fernando Torres berhasil mengelabuhi Valdes dengan satu sentuhan hati-hatinya. Seorang kawan, katanya, langsung mematikan tivinya karena gol eks Liverpoolm itu. Tak sedikit pula yang langsung menyiapkan selimut tebal dan segera melupakannya selekas-lekasnya.

Hasil itu, banyak yang bilang, hanya keberuntungan semata.

Saya tak bisa sepenuhnya menikmati cara orang-orang Britania memainkan bola, yang melulu mengandalkan jiwa spartan serta ketepatan berlari mengejar bola, meski akhir-akhir ini cara itu telah banyak ditinggalkan, tapi itu tidak sepenuhnya. Chelsea adalah salah satunya.

Malam itu, Chelsea benar-benar fasih melenceng dari kittoh sepakbola Inggris Raya. Tidak melulu berlari. Tidak harus menempatkan sayap kanan dan kiri yang super lincah. Tidak. Chelsea kali ini berbeda. Tim London tunduk oleh arahan orang Itali 41 tahun.

Banyak yang sepakat, Chelsea yang mengalahkan Barca tempo hari, bukanlah Chesea yang main angin-anginan di liga lokalnya. Ini adalah Chelsea yang memperlihatkan penggabungan gaya Italia yang penyabar nan licik dengan semangat membara ala London Utara. Komplit. Gabungan itulah yang ternyata menjadi pemati setiap gerakan yang diciptakan oleh bocah-bocah jebolan la messia.

Secara teknis, saat ini, tidak ada yang memungkiri kreatifitas sepakbola Spanyol. Berdasar sistem regenerasi yang merata, timnas Spanyol beserta kelompen capirnya sukses membius antero Eropa dan dunia. Namun satu hal yang lupa mereka perhatikan, tampaknya sekolahan-sekolah sepakbola Spanyol belum mau mengajari bagaimana cara melenggang mulus di antara sembilan gerobak yang berdiri sejajar di depan gawang, yang menggerendel pertahanannya dengan pelbagai cara.

Ya model tim-tim Itali gitu lah…

Melawan Chelsea kemarin, Barcelona terlihat bingung bagaimana cara menerobos bus rongsokan itu. Pertahanan cattenacio ala Matteo—sebagian lebih sepakat menyebutnya sepakbola negativ ala Yunani 2004—berkali-kali berhasil membuat Messi menunduk memandangi lutut dan kakinya.

Kasus serupa diamali Barca saat berhadapan dengan Juve 2003 silam. “Sepakbola yang menjijikkan,” begitu kurang lebih Rijkkard mengistilahkan sepakbola Juve waktu itu, yang berhasil menyolong satu gol lewat sepakan Zalayeta.

Ucapan Rijkard waktu itu diamini oleh sebagian besar pendukung Barca yang menguasai pertandingan. Tidak berbeda jauh, pernyataan serupa juga banyak keluar ketika Barca menyerah pada Chelsea pada semifinal kemarin.

Tapi saya lebih sepakat dan percaya, kemenangan Chelsea tempo hari itu, adalah benar-benar kemenangan yang telah direncanakan dengan matang dan detail. Pemain-pemain tengah dan depan yang mempunyai sedikit kemampuan bertahan dianjurkan untuk sedikit mundur ke belakang, sedang bagi mereka yang kemampuan bertahannya lemah, tugas utamanya adalah menjemput bola dari tengah dan sesegera mungkin mengirimnya ke depan, di mana satu-satunya penyerang menunggu dengan sabar.

Lampard, Obi Mikel, serta Mireles tidak pernah jauh dari kotak pinalti sendiri. Torres yang kurang kuat berduel sekali-dua ikut turun ke belakang. Ya itung-itung sebagai pengganggu yang baik hati.

Setelah melihat peluang menganga, maka secepat kilat mereka melancarkan serangan. Ya bayangkan sendiri seperti anak pesantren yang untuk pertama kalinya lulus dari pondok; liar dan mengerikan.

Pun demikian halnya dengan Chelsea dini hari itu. Bola yang mendekat ke kaki Ashley Cole segera dibuang jauh ke depan. Sergio Busquets yang sedikit merangsek ke depan lupa kalo Torres tepat berada di belakangnya. Sementara di belakang Torres menyisakan Valdes seorang. Tidak offside karena Torres belum melewati garing tengah pertahanan Barca.

Dengan sedikit sisa skil yang dimilikinya, Torres melakukan sedikit gocekan terhadap Valdes. Valdes yang kadung gugup gagal menghadang laju Torres. Tidak mau kejadian saat melawan MU terulang, Torres mencoba memenangkan diri. Dengan sedikit sentuhan dingin, bola meluncur datar ke gawang Valdes yang kosong. Dan Barca tamat sudah.

Mengutip guardian.co.uk, Jupp Heynckes menyebut taktik Chelsea dengan “tactical masterpiece.” Di bawahnya menambahi dengan sebuah komen manis, “It was a surprise Chelsea were in the final but in the last few weeks Chelsea have made a very good impression. They are a team of wonderful professionals and if they reached the final it is because they deserved to… Chelsea did it that way because they knew that they could not play offensively against Barcelona and we have to congratulate them. It was a tactical masterpiece.”

Tidak hanya Heynckes, Jose Mourinho juga memuji cara bermain bekas tim asuhnya itu. Tentang taktik yang diterapkan Chelsea, Mou bilang “I think Chelsea’s boys were heroes [against Barcelona], absolute heroes. Some people think they are the masters of the game and they will criticise Chelsea in the same way that they criticised Inter two years ago, but they know nothing. Nothing.”

Mou menambahkan, bahwa bekas anak asuhnya itu memilik mental serta psikologi yang bagus, yang sangat dibutuhkan ketika terjadi partai besar seperti semifinal Liga Champions.

Mou juga tidak segan-segan menghujat balik mereka yang mengkritik permainan yang diterapkan Chelsea. “They know nothing about character and personality. They know nothing about the effort or what it is to resist physically, emotionally and technically, with 10 men. They know nothing about organisation. They know nothing. That’s why my heroes at Chelsea are in my mind and why Chelsea deserve to be in the final. One of the great things about football is that it is unpredictable…” tambah Mou.

Jika Inggris punya kick and rush yang mematikan, Belanda dengan total football-nya, Neo-Spanyol dengan tiki-taka-nya, Jerman dengan sepakbola rapinya, maka Itali punya gerendelnya yang siap mematikan kesemua mazhab sepakbola.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s