“Cacat” Mengiringi Kepergian Pak Jenderal: Mini Obituari untuk Soedomo

 Bisa jadi, ini adalah tulisan orbituari pertama yang pernah saya buat. Sebenarnya dulu pernah berniat membuat sebuah orbituari, lantaran ada beberapa permasalahan, maka niat itu akhirnya gagal juga; orbituari gagal dibuat. Menulis sebuah tulisan berita duka sebenarnya sebuah kesulitan tersendiri. Saya beranggapan terkadang ada beberapa hal yang tabu untuk diutarakan, apalagi dituliskan dalam sebuah kalimat. Bisa jadi, dogma yang menguat selama ini pada diri saya—membicarakan orang yang telah mati—adalah faktor utama ketabuan itu.

Tapi hari ini, niat itu telah benar-benar bulat untuk menulis obituari, meski harus mencatat detil-detil kebangsaat Almarhum.

Umumnya, obituari banyak mencatat kebaikan-kebaikan yang ditanam seseorang, jasanya, visi hidupnya, kepahlawanannya, dan sebagainya, dan sebagainya. Namun, kadang itu tidak berlaku pada suatu waktu. Tergantung kepada siapa orbituari itu ditujukan.

Kemarin siang, tepatnya hari Rabu pukul 10.05, salah seorang eks jenderal Orde Baru, Soedomo, mencium aroma keringatnya untuk yang terakhir kali. Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa Pak Jenderal mengalami pendarahan di sekitaran otaknya. Kasur empuk ICU RS Pondok Indah menjadi labuhan terakhirnya siang itu.

Sebagai eks pejabat besar kepercayaan Soeharto, tentu saja banyak yang memuji loyalitasnya, manuvernya, serta misi kedepannya. Dia seolah menjadi penengah ketika tubuh angkatan darat tengah mengalami ketegangan hebat antara Soemitro Hadikusumo dan Ali Murtopo kisaran 1970an awal. Soedomo dianggap orang yang pantas untuk menggusur Murtopo dan Sumitro yang terlalu membahayakan Tuan Besar.

Saya pribadi tidak terlalu mengenal sosok Soedomo. Sekilas mendengar namanya ketika awal-awal membaca peristiwa penembakan misterius alias petrus. Spontan, nama itu masuk dalam daftar hitam nama yang harus saya benci.

Penembakan misterius menjadi salah satu noktah yang menodai kekarnya badan Soedomo di samping noda-noda lainnya. Penembakan misterius yang lebih terkenal dengan petrus—sebagian lagi menyebut operasi clurit—adalah operasi rahasia dari pemerintahan Soeharto kisaran tahun 1980an awal. Tujuannya untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang sangat tinggi pada waktu itu. Secara umum, operasi ini melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Sampai sekarang, tidak jelas siapa pelaku dan dalangnya. Bahkan terkesan disembunyikan.

Soedomo, selaku kepala komkamtib waktu itu dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya rentetan pembunuhan itu, apalagi jika memang benar itu adalah operasi militer.

Tapi kini, sang jenderal telah menghadap ke haribaannya dengan persoalan yang belum tertuntaskan. Konon, selama masa tuanya, Soedomo lebih sering mendekatkan diri pada Tuhannya.

Jika banyak keluarganya yang belum rela atas kepergiannya, karena jasanya,  mungkin ada juga sebagian lain yang belum terima karena masalahnya. Atau bisa jadi, ada yang sangat rela dia lekas-lekas dipungut Tuhan.

Apapun itu, selamat jalan Jenderal!

Tabik!

Kebon Jeruk—18 April 2012 menjelang dini hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s