Berbahagia ala Samoa Amerika*

Kebahagiaan lantaran memenangkan pertandingan dengan sekor besar adalah hal yang lumrah, pun demikian dengan sesaat setelah mendapatkan juaranya yang tak kunjung datang selama kurang lebih enam tahun. Sangat lumrah. Tapi berbeda halnya dengan apa yang dilakukan oleh Samoa Amerika.

Mereka berbahagia tidak karena mencetak banyak gol ke gawang lawan, atau karena berhasil menggilas tim lawan dengan skor yang cukup menjanjikan. Sama sekali bukan. Mereka merayakaan kebahgiaan bukan karena itu. Sekali lagi, sama sekali bukan. Ada hal lain yang membuat mereka cukup berbahagia karena sepak bola.

***

Jika belum tahu Samoa Amerika, mari kita bareng-bareng ambil buku atlas di meja belajar kita. Kita buka bersama-sama, lantas cari halaman yang menjelaskan belahan dunia bagian Oceania. Mudah-mudah dengan mata sadar, kita berhasil menemukan negara kecil ini.

Bagaimana? Sudah ketemu negara Pasifik itu?

Baiklah, jikalau tidak kunjung menemukan negara ini. Ada cara lain kok untuk tahu negara ini; sepakbola. Yup! Benar sekali, mudah-mudahan olaharaga ini bisa memberi kita sedikit keakraban dengan negara berpenduduk (cuma) 67 ribu jiwa itu.

Negara ini hanya sebuah pulau yang terserak di Oseania, bahkan urusan administrasi dan pemerintahan, sama sekali masih mengekor ke negara induknya, Amerika Serikat. Sudah dibahas sedari awal, negara pulau ini hanya berpenduduk kurang dari 70 ribu jiwa, jauh dari Jakarta atau bahkan satu kecamatan di Indonesia.

Samoa Amerika sejatinya tidak memiliki tradisi yang kuat dalam sepakbola. Olahraga utama mereka adalah rugby. Samoa Amerika mempunyai tim yang sangat kuat dalam olahraga asli Inggris ini. Tapi jangan salah, sepakbola juga berhasil mencoreng banyak warna di dahi negara super-kecil ini.

Sebelum tarian haka itu digoyangkan, Samoa Amerika tercatat telah melakoni 30 pertandingan internasionalnya, termasuk di dalamnya 12 kali mengikuti kualifikasi Piala Dunia. Sialnya, ketigapukuh pertandingan itu berakhir dengan kekalahan. Ini bukanlah sebuah cerita mengenai skor 1-2 atau 1-0 belaka, tapi ini cerita tentang 229 kali bola yang masuk ke gawang kiper Samoa Amerika. Berbanding terbalik dengan hanya 12 gol yang berhasil dilesatkan para penyerangnya.

Sulit membayangkan jika itu terjadi dengan negara lain yang lebih kental aroma sepakbolanya seperti Indonesia. Bisa jadi, rentetan hasil “bangsat” itu menjadi bahan cemohoan yang terus membahana sepanjang sejarah sepakbola negaranya. Tapi itu tidak terjadi di Samoa Amerika. Sepertinya kekalahan demi kekalahan itu sudah menjadi sambal harian yang pedas rasanya untuk terus dihidangkan di meja mekan.

Kekalahan terbesar mereka dari Australia 31-0, 2011 lalu rasanya sulit untuk dilupakan setiap pemain yang ikut merasakan lesatan-lesatan itu, termasuk Ricky Salapu. Bagi Ricky Salapu, pemain tertua dan paling berpengalaman di tim itu, skor 31-0 adalah kepedihan terbesarnya selama 10 tahun pengabdiannya pada timnas alien ini, seolah melengkapi ratusan gol yang telah mampir ke gawang 7 meternya.

Saking seringnya mengalami kekalahan, membayangkan untuk seri saja tidak pernah, apalagi menang. Kemenangan sungguh di luar nalar sehatnya. Tapi di situlah semua berawal. Dan tarian haka sepabola Samoa Amerika pun digoyangkan kali pertama.

Belum ada data yang pasti kapan kali pertama Samoa Amerika tercatat sebagai anggota FIFA. Yang pasti, berdasar data yang diperoleh FourFourTwo, Samoa Amerika berada di peringkat empat terbawa FIFA (204), bersama Samoa (204), Tonga (202), dan Kepulauan Cook (196).

Selain sama-sama berada dalam peringkat bawah, kesamaan lain keempat tim ini adalah sama-sama ingin tampil di Brazil 2014. Hemmmm…. Cerita pun mulai terajut.

Atas rekomendasi OFC atau Federasi Sepakbola Oseania, sebuah kompetisi dengan sistem round-robin akhirnya dilangsungkan. Pesertanya? Empat tim peringkat terbawah FIFA. OFC berharap, pemenang turneman ini nantinya bisa lebih mudah untuk meretas mimpi ke Brazil 2014. Meski jalan yang dihadapinya masih tetap berliku dan berkelok. Kompetisi ini tentu saja sedikit menambah asa negara-negara Samudra Pasifik ini.

Dan bagaiaman dengan Samoa Amerika? Bagi tim macam ini, hasil seri mungkin lebih dari sekadar cukup. Pasalnya, sebelum turnamen ini dimulai, bekal Samoa Amerika hanya kalah dari Australia 31-0.

Sebelum turnamen mini ini dimulai, Samoa Amerika mendapat sedikit kabar bahagian. Berkat welas asih negara induknya, Samoa Amerika mendapat pelatih berkewarganegaraan Belanda, Thomas Rongen. Dengan bekal pernah mecicipi Mayor League, Rongen dibebani tugas berat untuk memulihkan psikologi pemain.

Tidak sekadar sulit, tapi tuntutan ini terkesan sangat mustahil. Pekerjaan pertama yang harus dia lakukan adalah mengumpulkan pemain-pemain yang nantinya akan melaksanakan misi mustahilnya ini. Satu tempat sudah pasti diberikan kepada pemain dengan caps tertinggi di tim ini. Ya, dialah Ricky Salapu. Saksi hidup dibantainya Samoa Amerika 31-0 oleh boomerang Australia. Dari pencariannya itu pula, Rangen telah menemukan pemain Samoa yang dianggap paling berbakat saat ini; Johnny Saelua.

Sedikit bercerita siapa Johny Saelua, dalam tradisi Samoa Amerika pemain yang nama aslinya Jaiyah ini adalah bagian dari Fa’afine, jenis kelamin ketiga di Samoa Amerika yang pada hakikatnya adalah seorang perempuan yang mengidentifikasikan dirinya sebagai laki-laki.

Pada pertandingan resminya nanti, Jaiyah telah menorehkan namanya sebagai pemain transgender pertama yang bermain untuk kualifikasi Piala Dunia. Dengan latar belakang pendidikannya di bidang seni, maka fa’afine berusia 23 tahun itu telah memperindah lini belakang Samoa Amerika. Satu kebahagiaan tentunya bagi tim “liliput” Samoa Amerika.

Kebahagiaan Samoa Amerika yang lain….

Kompetisi empat negara berperingkat empat terendah FIFA telah dilaksanakan. Samoa sebagai tuan rumah, Tonga, Kepulauan Cook, dan Samoa Amerika masing-masing akan saling beradu kekuatan. Masing-masing tengah mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Mungkin.

Samoa Amerika memulai pertandingan pertamanya dengan kemenangan. Pastinya, ini adalah kemenangan pertama bagi Samoa Amerika. Tapi ini bukan sekadar kemenangan biasa. Kemanangan yang tidak pernah diimpikan oleh anak-naka lulusan TK Samoa Amerika sekalipun. Kemenangan yang tidak sebanding dengan tiga puluh kekelahan beruntun mereka. Mungkin. Kemenangan yang rasa-rasanya cukup untuk menjadikan seluruh masyarakat Samoa Amerika yang hanya 67 ribu itu menarikan haka, tarian khas Samoa Amerika. Kemenangan yang…

mereka juga seolah tidak peduli seperti apa hasil akhir kompetisi empat tim terbawah dunia. Toh, yang penting mereka telah berhasil menggoyangkan haka di antero dunia. Dan bahkan saat mereka bertanding seri.

Yah….. Sebuah upaya melupakan sepak bola dengan sepak bola

Tabik!

*tulisan ini pernah juga diunggah di http://goodbyepele.tumblr.com dengan judul yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s