Permen; Anak Haram Pabrik Gula Jawa

Dulu, ketika masih kecil, salah satu makanan yang mendapat perhatian keras dari Emak saya adalah permen. Katanya, jangan terlalu banyak mengonsumsi permen, tidak baik buat pertumbuhan gigi. Permen yang banyak mengandung gula, di lain pihak, memang sangat tidak bersahabat bagi pertumbuhan gigi bocah usia dini. Percaya tidak percaya, permen mempunyai andil besar terhadap keroposnya gigi balita.

Beberapa data mengatakan bahwa permen termasuk jenis makanan yang miskin nutrisi, hampir seluruh kandungannya adalah gula. Parahnya lagi, sebagian lagi pemanis permen bukan dari gula, melainkan dari pemanis buatan. Komplit kan? Belum lagi zat pewarna, flavour, zat penambah rasa, dan zat aditif lainnya.

Sumber lain juga menyebutkan, permen tidak baik buat kesehatan gigi. Gula pada permen bersifat cariogenic, yang menyebabkan karies pada gigi. Selain itu, gula pada permen juga merangsang pertumbuhan kuman dalam mulut. Kuman-kuman itu berperan penting terhadap timbulnya lubang di gigi. Gula yang difermentasi oleh enzim-enzim yang ada di mulut juga mengakibatkan email gigi terkikis.

Permen, yang merupakan kelompok dari kembang gula telah ada semenjak perkebunan tebu mulai marak di Jawa pasca diperlakukannya ekonomi liberal di Hindia-Belanda kisaran 1870-an. Selain banyak merenggut tanah-tanah yang berpotensi menghasilkan padi, perkebunan tebu juga berperan penting terhadap strata sosial di Jawa.

Permen atau kembang gula pada awalnya hanya dikonsumsi oleh masyarakat Eropa sebagai hidangan penutup saat makan. Hal yang nampak berbeda dengan sekarang yang menempatkan kembang gula sebagai penganan yang lebih banyak dikonsumsi oleh golongan menengah ke bawah.

***

Industri gula sudah mulai dikenal sejak awal abad ke-17. Di selatan Batavia berdiri pabrik gula yang dikelola oleh pendatang dari Cina dan sebagian Eropa. Gula terus berkembang ketika Hindia-Belanda menerapkan sistem tanah paksa dengan pemrakarsa van Den Bosch. Van Den Bosch menjadikan industri gula Jawa semakin menggeliar, beberapa pabrik berhasil dia dirikan sepanjang pesisir utara Jawa. Tidak hanya itu, van den Bosch juga mulai memperkenalkan teknologi baru dalan proses penggilingan tebu. Tenaga lembu dan manusia dinilai sudah tidak layak lagi, semua harus diganti dengan teknologi yang lebih modern.

Tahun 1870 sistem tanam paksa resmi dihapus oleh pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. Sebagai gantinya, maka diterapkanlah sistem baru, yang benar-benar mengadopsi sistem ekonomo di Eropa; ekonomi liberal, dan salah satu cirinya adalah diperlakukannya Hak Sewa Tanah untuk kurun waktu yang cukup lama, yaitu 70 tahun. Tidak malah semakin membaik, sistem baru ini justru semakin menyekik pribumi, sehingga memaksanya untuk menyewakan tanah-tanah mereka pada pemodal dengan harga yang sangat murah.

Salah satu perkebunan yang tumbuh subur pada zaman ini adalah perkebunan tebu. Tebu menjadi komoditi yang begitu menggiurkan di Eropa, dan Jawa sangat berpotensi melambungkan komoditi itu. Seiring dengan banyaknya perkebunan tebu adalah menjamurnya pabrik-pabrik gula di daerah perdikan, yang rata-rata masih bersifat partikelir.

Masa politik etis, tebu yang awalnya hanya dikenal di daerah Polinesia, dan pabrik gula semakin menancapkan taringnya sebagai komoditas unggulan Hindia-Belanda di perdagangan dunia.

Gula mengalami masa keemasannya pada kisaran 1930-an. Tercatat 3 juta ton gula berhasil diproduksi. Selain itu, luas areal perkebunan tebu juga mencapai 200.000 hektar, yang sebagian besar berada di Jawa. Belum lagi sebanyak 179 pabrik gula juga berdiri mengiringinya, dengan rerata produksi 14,8 ton per hektarnya.

***

Dalam bukunya Island of Java, John Joseph Stockdale menyebutkan bahwa tahun 1778 Belanda telah mengirimkan sebanyak 10.000 pon produk yang disebut cendied gingger ke Eropa. Kabarnya, makanan ini sangat digemari oleh khalayak Eropa. Selain menyegarkan, produk ini dapat menyembuhkan kembung. Bisa dikatakan, itu adalah tonggak awal produksi yang selanjutnya disebut permen itu. Meski demikian, secara umum, sejarah keberadaan permen di Nusantara masih sangat sulit ditelusuri jejak keberadaannya.

Di Jawa sendiri, produk semacam ini banyak bermunculan, sehingga pengelompokan jenis makanan ini menjadi semakin rancu. Ada beberapa penyebutan yang sampai sekarang kerap kita dengar; permen, kembang gula, gulali, bonbon, manisan, harum manis, loli, tingting, dan sebagainya, dan sebagainya.

Secara umum, makanan sejenis ini dimasukkan dalam kelompok gula-gula. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gula-gula berarti makanan yang dibuat dari gula. Dalam bahasa Belanda biasa disebut bonbon.

Selain gula-gula, kita juga mengenal istilah kembang gula, yang di Jawa disebut dengan mbang gulo. Kembang gula sendiri masuk dalam kelompok gula-gula.

Untuk produk yang terbuat dari gula ini, ada yang aneh pada kebiasaan lidah kita. Adalah penggunaan istilah permen. Permen sebenarnya adalah salah satu jenis kembang gula yang terasa pedas di lidah. Ada indikasi, kata permen diambil dari kata peppermint, gula-gula pedas karena ada kandungan peppermint di dalamnya. Sepertinya adalah kesulitan penyebutan kata peppermint untuk lidah Jawa, sehingga permen menjadi pilihan yang tepat.

Namun parahnya, seiring dengan berkembangnya waktu, permen menjadi sebuta umum untuk segala jenis makanan ringan yang rasanya manis, sehingga muncul kemudian istilah permen jahe, permen asem, permen ini, permen itu, seterusnya, dan seterusnya.

Perkembangan kembang gula semakin melecit bersamaan dengan semakin masifnya produksi tebu dan gula di antero Jawa. Permen yang awalnya hanya menjadi konsumsi mewah bangsawan Eropa, kini tampaknya telah menjadi menu harian sebagian besar pribumi Indonesia.

Tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s